Chapter 16

4.2K 564 363
                                        

Ardian tau ini semua emang keterlaluan. Tapi ini adalah salah satu cara yang paling tepat untuknya. Sekarang dia udah ada di rumah sakit sesuai dengan alamat yang Ken berikan. Iya, Ken yang ngga sengaja nabrak salah satu adiknya dan sekarang dia udah ada di sana untuk menemani Ken yang nyatanya masih sedikit syok.

"Gilang!" seruan Lintang membuat Gilang menoleh.

"Bang hiks. Bang Bryan hiks," Gilang langsung memeluk Lintang erat dan menangis pilu.

"Gimana bisa, Lang?" lirih Lintang.

"Ini semua salah gue hiks. Gue takut, bang hiks," racau Gilang dengan tangan yang semakin mempererat pelukannya. Lintang juga ikut menangis dalam diam. Dia juga takut dan merasa bersalah sekarang. Ini semua terjadi karena dirinya.


Kriett

"Keluarga pasien?" Lintang langsung melepas pelukannya dan segera menghampiri dokter itu.

"Pasien harus segera dilarikan ke ruang operasi karena dua tulang rusuknya patah yang ditakutkan akan melukai organ dalamnya. Kami ingin meminta persetujuan wali pasien agar bisa menangani pasien lebih lanjut," Lintang dan Gilang tak bisa membendung air matanya lagi. Mereka bener-bener ngrasa terpukul mendengar pernyataan itu.

"Lakukan operasi secepatnya, Dok. Saya kakak dari pasien. Jadi saya mohon selamatkan adik saya," ucapan seseorang membuat Gilang dan Lintang sedikit terkejut.

"Baik, kami akan melakukan penanganan semaksimal mungkin. Permisi," pamitnya. Dan tak lama kemudian Bryan keluar dengan berbagai alat yang menempel di badannya.

"Bryan, lo kuat. Gue percaya lo bisa lewatin ini semua," gumam Lintang sambil memandang brankar yang membawa Bryan.

"Permisi, administrasi pasien harus segera diselesaikan agar prosedur operasinya berjalan dengan lancar," Ardian mengangguk dan suster itu segera pergi dari sana.

"Gue tau, kalian ngga punya uang sebesar itu untuk biaya operasi Bryan. Ayo buat perjanjian dan gue bakal tanggung semua biaya nya. Anggap aja ini bentuk pertanggung jawaban karena temen gue udah nabrak kembaran lo," ucap Ardian tenang tanpa natap sorot mata Gilang yang penuh kecewa dan sedih.

"Setelah sekian lama gue ngga lihat lo. Ternyata lo berubah banyak ya, bang," ucap Gilang sambil natap Ardian penuh kekecewaan. Ardian cuma mengedikan bahunya acuh.

"Kalo lo ngga mau, ya gapapa. Toh gue juga ngga rugi," Ardian berbalik dan berniat untuk pergi.

"Gue bakal nglakuin segala hal yang lo minta, bang. Tapi gue mohon, tolong biayain operasi Bryan. Gue ngga tau harus cari uang ke mana lagi, sementara Bryan harus segera dioperasi," Ardian berhenti dan tersenyum penuh kemenangan.

"Ok, kalo gitu gue minta Gilang. Gue bakal bawa Gilang ke Jakarta dan otomatis semua biaya rumah sakit ini bakal lunas," Lintang langsung mendongak dan menatap Ardian kaget.

"Maksud lo apa?!" marah Gilang.

"Nyawa Bryan tergantung sama kalian. Gue kasih waktu kalian lima menit untuk ambil keputusan. Gue tunggu di ruang administrasi," Ardian segera melangkah pergi dari sana.

"Ini semua gila, bang! Lo ngga mungkin mau serahin gue gitu aja kan?!" tanya Gilang menuntut. Lintang cuma bisa nunduk sambil membalas rematan tangan adiknya.

"Gue ngga ada pilihan lain, Lang," lirih Lintang.

"Lo bisa pakai duit tabungan kita bertiga, bang!" bentak Gilang.

"Ngga cukup, Gilang. Masih kurang banyak," Lintang natap Gilang dengan muka yang udah basah dengan air mata.

"Pinjem sama bos lo atai gimana pun caranya, bang! Please," pinta Gilang frustasi.

We'll be Fine, Right? ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang