Lintang jalan ngendap-ngendap menuju kamar nya. Ini udah jam satu dini hari dan dia baru aja pulang entah dari mana. Bukan sekali dua kali dia pulang telat kaya gini. Dia sering pulang telat dan juga sering dimarahin kalau ketahuan.
"Ekhem ekhem," deheman seseorang membuat Lintang menutup mata dan berbalik pelan tanpa nimbulin suara.
"Lama-lama papa bangunin rumah kardus di luar buat kamu, Ge," Lintang meringis sambil natap Sanjaya yang berdiri sambil sidekap dada.
"Hehehe, kok papa belum tidur sih?" tanya Lintang sambil garuk tengkuknya yang ngga gatal.
"Emangnya kenapa? Toh kamu juga belum tidur kan?" sahut Sanjaya sambil nyalain saklar.
"Abis dari mana?" tanya Sanjaya mengintimidasi. Sekarang dia duduk di sofa sambil menghadap Lintang yang berjalan pelan ke arahnya.
"Main," cicit Lintang.
"Main? Main apa jam segini baru pulang, Gege?"
"Anu itu.. A-apa.."
"Apa?" sela Sanjaya.
"Iya-iya, maaf. Janji deh ngga ngulangin lagi!" ucap Lintang pasrah.
"Papa ngga minta kamu buat minta maaf loh. Papa cuma tanya kamu abis ngapain? Terus main apa? Itu aja," Lintang langsung menghampiri Sanjaya dan memeluk lengannya manja.
"Daaadd, sorry," rengek Lintang.
"Ok ok papa maafin kamu. Tapi, ada syaratnya. Kamu harus jelasin ke papa alasan kamu sering pulang telat," jawab Sanjaya sambil ngelus kepala Lintang yang ketutup hoodie.
"Sebenernya aku itu ikutan komunitas dance. Tapi, karena aku takut papa larang, yaudah deh aku selalu pergi diem-diem. Bener deh! Aku ngga bohong. Jadi, aku dimaafin kan, Pa?? Ya ya ya?" jelasnya sambil natap Sanjaya dengan puppy eyes andalannya.
"Hahhh, kenapa ngga jujur aja dari awal sih? Kan papa jadi ngga berburuk sangka sama kamu kaya tadi. Kalo papa ngga tau kebenarannya terus marahin kamu sampai main fisik, kan bahaya. Kamu ngga mau kan kalo papa sampai kelepasan kaya gitu?" Lintang langsung menggeleng keras sambil manyunin bibirnya.
"Papa itu larang kamu dan Ian keluar apart bukan karena papa ngga suka sama kegiatan yang kalian lakuin di luar sana, bukan karena ngga suka kalian punya temen baru. Tapi, papa lakuin ini semua karena papa takut kalian kenapa-kenapa. Secara ini di negeri orang dan kalian keliaran tanpa pengawasan papa. Paham kan maksud papa?" Lintang ngangguk pelan dengan mata yang udah berembun.
"Papa tuh sayang banget sama kamu dan Ian. Papa cuma khawatir dan takut sesuatu terjadi sama kalian disaat papa ngga ada disekitar kalian berdua," jelas Sanjaya dan Lintang langsung peluk papanya dari samping.
"Maafin Lintang karena udah bohong sama papa dan buat papa khawatir. Lintang janji ini yang terakhir kalinya Lintang pergi diem-diem dan pulang telat," Sanjaya menghela napas dan membalas pelukan anaknya.
"Iya, lebih baik sekarang kamu tidur gih. Ngga baik anak kecil tidur kemaleman," Lintang langsung melepas pelukannya dan natap Sanjaya jengkel.
"Pa! Aku tuh udah umur dua satu! Jangan panggil aku anak kecil lagi dong!" protesnya sambil natap Sanjaya galak.
"Makanya tumbuh tuh ke atas, bukan ke pipi. Hahahaha," ledek Sanjaya sambil nyubit pipi anaknya gemes.
"Papa!!" seru Lintang.
"Sssttt, Ian bisa bangun kalo denger suara cempreng kamu," peringat Sanjaya sambil letakin jari tunjuknya di bibir Lintang.
"Abisnya papa ngeselin!" sahut Lintang cemberut.
KAMU SEDANG MEMBACA
We'll be Fine, Right? ✔
Fiksi Penggemar[VMINKOOK BROTHERSHIP-FAMILY] Perjalanan tiga bungsu Sanjaya masih berlanjut Sequel of Together Baam!
