Bryan ngga tau kalau mereka udah tidur berapa jam lamanya. Yang jelas waktu dia buka mata, langit udah lumayan gelap. Dia ngrasa kebas karena posisi tidur mereka yang ngga berubah sama sekali dari awal. Biasanya Sanjaya bakal ngerubah posisi tidur mereka saat Bryan dan Lintang udah pulas tidurnya. Tapi, sekarang dia bukan lagi di Australia. Jadilah sekarang Bryan sendiri yang ngerubah posisi tidur Lintang.
"Gege, bangun," ucap Bryan serak.
"Eunghh, bentar. Gue masih ngantuk," gumam Lintang sambil eratin pelukannya.
"Engap gue kalo dipeluk terus-terusan," gerutu Bryan. Dengan males Lintang langsung pindah posisi rebahan di samping Bryan.
"Udah malem. Lo mau tidur sampai besok?" ujar Bryan sambil mencoba untuk duduk.
"Hmm," dehem Lintang.
"Bangun dulu ihhh," paksa Bryan.
Sementara di ruang tengah, Gilang, Galih, dan Ardian sedang duduk manis sambil nonton tv. Sedangkan Adit dan Bara sibuk masak buat makan malam. Mereka sengaja ngga bangunin si kembar karena tadi Galih sempet ngecek dan mereka masih tidur pulas. Mungkin kecapean.
"Udah malem, bangunin mereka sana. Kita makan malem bareng sekalian abang mau bahas sesuatu," Adit menghampiri ketiga adiknya setelah selesai masak dan menyuruh salah satu dari mereka untuk membangunkan Lintang dan Bryan.
"Biar gue aja yang bangunin," ucap Gilang menawarkan diri.
"Ok, kalo gitu yang lain cepet ke ruang makan deh," sahut Adit dibalas anggukan oleh mereka.
Gilang mengetuk pintu kamarnya pelan supaya abang kembarnya ngga kaget. Setelah itu dia baru buka pintu dan nyembulin kepalanya.
"Bang," panggil Gilang membuat Bryan menoleh.
"Eum, makan malam udah siap. Kalian mau makan di sini atau bareng sama yang lain?" Gilang berjalan menghampiri mereka.
"Eumm, bentar. Gege belum mau bangun," Gilang mengangguk kikuk. Dia juga belum terbiasa dengan panggilan baru abang kembarnya itu.
"Kalo gitu gue keluar dulu, ya? Lo panggil gue aja kalo butuh sesuatu," ucap Gilang dan segera beranjak dari sana.
Bryan mendengus jengah ngelihat Lintang yang malah sibuk nyari posisi nyaman buat tidur lagi. Akhirnya dia ikutan baring karena bingung mau ngapain. Dia sendiri sebenarnya masih sungkan sama saudaranya yang lain. Mungkin karena baru ketemu lagi setelah sekian lama.
"Ayo bangun, lo harus minum obat sama vitamin, kan?" lima menit kemudian Lintang bersuara saat Bryan hendak tidur lagi.
"Hhh, ya udah ayo bangun! Lo aja masih selimutan gitu!" kesal Bryan sambil narik selimut Lintang.
"Gendong tapi," sahut Lintang sambil rentangin tangannya.
"Lo mau kita jatuh?! Gue aja susah bangunnya karena kaki gue kaya gini. Gimana mau gendong lo coba?!" sewot Bryan tanpa ngelirik Lintang yang sekarang udah duduk sambil nunduk.
"Maaf, gue ngga maksud buat kaya gitu ke lo," ucap Lintang pelan.
"Nih bocah baperan amat sih?! Gue aja santai, ngapain lo begitu coba?" Bryan mendongakkan dagu Lintang supaya mereka bisa saling tatap. Ternyata abang kembarnya itu udah mau mewek. Enaknya dia katain apaan, ya? Cengeng? Manja? Baperan? Elah, tampang doang berandal, hati kaya hello kitty.
"Hobi baru lo itu nangis, ya? Cengeng amat sih abangnya Ian ini," kata Bryan sambil nyubit pipi gembul Lintang.
"Siapa yang nangis?! Siapa yang cengeng?! Gue tuh cuma kelilipan tau!!" sewot Lintang sambil nepis tangan Bryan.
KAMU SEDANG MEMBACA
We'll be Fine, Right? ✔
Fanfic[VMINKOOK BROTHERSHIP-FAMILY] Perjalanan tiga bungsu Sanjaya masih berlanjut Sequel of Together Baam!
