Chapter 17

4.3K 585 252
                                        

Ardian membelokan mobilnya ke sebuah bangunan tinggi. Itu apartemen. Gilang ngga tau tujuan abangnya bawa dia ke sini. Apa mungkin sekarang mereka hidup terpisah? Ternyata banyak juga cerita yang dia lewatkan tentang abangnya.

"Turun," perintah Ardian membuyarkan lamunan Gilang.

"Lepasin, bang! Gue mau pulang!" berontak Gilang saat Ardian menariknya sedikit kasar.

"Ngga akan! Lo harus ikut gue!" tekan Ardian sambil terus menyeret Gilang hingga depan pintu apartemennya.

"Masuk!" suruh Ardian.

"Bang!"

"Lo bakal tinggal beberapa hari di sini dan ngga boleh keluar tanpa seizin gue. Kalo lo nekat kabur, tau sendiri kan akibatmya?" ujar Ardian dengan smirknya.

"Lo jahat, bang!" seru Gilang sambil nangis.

"Gue jahat karena gue sayang sama lo. Turutin semua perintah gue kalo emang lo beneran sayang sama abang tiri lo!" setelah itu Ardian mendorong Gilang dan dirinya keluar. Ngga lupa buat ngunci apartemen supaya Gilang tetap aman di dalam.


"BUKA, BANG! GUE MAU PULANG!" teriak Gilang dari dalam.

Duk! duk! duk! duk!

"BANG! GUE MOHON BUKA PINTUNYA!"
Ardian cuma diam di depan pintu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"GUE BENCI SAMA LO! GUE BENCI LO, ARDIAN!"

"BAJINGAN! BRENGSEK! GUE BENCI!"


Ardian segera pergi dari sana setelah mendengar makian dari Gilang. Sementara di dalam apartemen, Gilang udah nangis tersedu-sedu di lantai. Meringkuk layaknya bayi.

"Hiks gue mau pulang hiks," lirih Gilang.

"Bang hiks, gue butuh kalian hiks. Gue minta maaf hiks," racaunya.

"ARGGHH!" teriak Gilang meluapkan emosinya.






.


.





Seseorang duduk di samping ranjang sambil mengelus sebuah figura. Dia nangis tanpa suara. Raut wajahnya terlihat sekali sedang merasa bersalah, sedih, dan kecewa.

"Gue sayang sama kalian. Bohong kalo gue ngga sayang. Hampir sembilan belas tahun hidup bareng kalian, mana bisa gue dengan mudahnya benci sama kalian hanya karena satu fakta yang belum tentu bener," ucapnya sambil menahan isakan. Dadanya terasa begitu sesak akibat menahan sakit di hati.

 Dadanya terasa begitu sesak akibat menahan sakit di hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tapi maaf. Rasanya berat banget setiap kali gue harus lihat wajah kalian. Gue selalu kebayang wajah mama sama papa. Sakit hiks. Gue ngga sanggup hiks," Ardian menjambak rambutnya dan memukul-mukul kepalanya beberapa kali untuk melampiaskan rasa bersalahnya.

We'll be Fine, Right? ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang