Lintang ngga pernah nyangka kalau dia bisa sampai pada titik yang begitu memuakkan dan melelahkan. Titik di mana dirinya harus berjuang demi kelangsungan hidupnya yang terbilang cukup memprihatinkan. Dulu, dia bahkan ngga pernah keringetan sampai badannya lemes kecuali waktu upacara sama olahraga pas jaman sekolah. Sekarang dia ngrasain hal yang beda. Keringetan karena kerja di bawah terik sinar matahari. Bukan, dia bukannya lagi ngeluh tentang ini. Tapi dia cuma lagi mikir, beruntung banget dulu dia pernah ngrasain hidup enak. Ngga kaya orang yang kerja bareng sama dia sekarang. Dari dulu hidup susah mulu sampai katanya pengin nyerah. Iya nyerah dan Lintang pikir itu wajar. Kadang pun Lintang juga ngrasa gitu kalau udah capek sama hidupnya.
"Tang, istirahat dulu sini. Itu tinggal sedikit, kan bisa diselesaiin bareng nanti," ajak seorang lelaki paruh baya.
"Nanti aja, Pak. Nanggung ini," tolak Lintang sopan sambil mindahin kardus ke mobil box.
"Gapapa sini, bos juga ngga akan marah kalo kamu belum nyelesaiin kerjaan kamu," paksanya halus membuat Lintang mau tak mau harus mendekat.
"Udah sini duduk dulu. Ini minum," orang itu nyodorin botol air mineral ke Lintang.
"Makasih," ucap Lintang sebelum menenggak air itu sampai setengahnya.
"Gimana rasanya?" tanya bapak itu ke Lintang yang natap dia bingung.
"Maksud bapak, gimana rasanya kerja kasar kaya gini? Pasti capek ya?" Lintang tersenyum simpul lalu menunduk dan memandang kakinya yang sibuk memainkan kerikil kecil.
"Kadang Lintang ngrasa capek. Tapi kalo berhenti, adek Lintang mau kuliah sama makan dari apa?" sahut Lintang sedih.
"Kamu kan masih muda, Tang. Kenapa ngga nyari kerja yang lebih layak? Kan lebih enak daripada angkat-angkat kardus dari gudang," lagi-lagi Lintang tersenyum kecut.
"Lintang udah putus kuliah semenjak satu tahun yang lalu. Kembaran Lintang juga. Harapan satu-satunya ya cuma adek bontot Lintang. Lintang cuma ngga yakin aja kalo ada orang yang mau nerima Lintang kerja di perusahaan. Padahal lulus kuliah aja ngga. Bisa-bisa mereka ragu sama nyesel kalo kasih pekerjaan ke Lintang," sahut Lintang dengan senyum pasrahnya.
"Kamu punya keluarga selain dua adek kamu?" pertanyaan bapak itu buat Lintang mendongak.
"Keluarga?"
Bryan tau kalau sekarang dia udah ngga bebas pergi sana-sini karena sekarang hidupnya udah beda. Kebanyakan waktunya dia habiskan buat kerja, itung-itung bantuin Lintang. Sekarang dia kerja jadi kasir di mini market. Ya meskipun kerjaannya cuma berdiri sambil layanin pelanggan yang mau bayar, tapi tetep aja dia sering ngrasa capek. Kadang juga dia dihina secara halus sama pelanggan yang mungkin aja udah pernah lihat dia dulu.
"Bryan, lo mending mundur deh kalo mau ngelamun. Itu ibunya udah manggil lo, tapi lo nya malah diem aja," tegur seorang cewek yang berpakaian ala karyawan toko. Sama seperti dirinya.
"Maaf, mba Ita. Tadi gue tiba-tiba kepikiran sesuatu. Bisa gantiin gue dulu kan?" ujar Bryan sopan sehingga orang yang dipanggil Ita mengangguk paham.
"Iya, sana lo istirahat dulu," Bryan ngangguk paham dan segera pergi ke ruang belakang.
Ddrrtt.. Ddrrtt...
"Halo."
"Abang! Laporan Gilang ketinggalan padahal mau buat penilaian. Bisa ambilin ngga? Soalnya Gilang ngga punya waktu buat pulang," suara Gilang terdengar lesu. Bryan menghela nafas sebelum mengiyakan ucapan adiknya.
"Ketemuan di mana?" tanya Bryan.
"Tempat parkir gedung A. Ini beneran abang mau ngambilin?!" Gilang kelihatan girang.
"Iya, abang anterin deh. Tapi, Lang, kalo telat gimana? Abang ngga mungkin sampe secepet kilat kalo harus jalan kaki dari mini market ke kampus lo," sedikit menyesal karena sekarang dia udah ngga punya motor lagi kaya dulu. Ternyata hidup mereka sekarang ngga enak juga ya.
"Nanti Gilang bakal bujuk pak dosen deh. Semoga aja mau nunggu, ya walaupun kemungkinannya kecil," jawab Gilang dengan nada lirih diakhir.
"Bang, makasih udah mau susah payah kerja buat Gilang. Maaf kalo Gilang selalu ngerepotin kalian ya. Gilang janji, setelah sukses nanti, Gilang bakal bahagiain dua abang kembar Gilang yang terhebat ini," Bryan tersenyum tipis mendengar ucapan adik satu-satunya itu. Kalau bisa pun sekarang dia udah nangis, tapi jelas bukan tipe Bryan sekali. Ini lebih cocok buat Lintang.
"Makanya kuliah yang bener. Udah ah! Abang mau pulang dulu. Laporan kamu warna apa? Terus tulisannya apa?" tanya Bryan sebelum tutup teleponnya.
Meski hidup mereka udah jauh berbeda, setidaknya Bryan masih punya satu kebahagiaan yang buat dia bertahan dan terus bekerja keras sampai sekarang. Lintang dan Gilang adalah satu kebahagiaan yang harus dia jaga sekarang.
"Setelah ini, kita bakal baik-baik aja, kan?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai, gimana ceritanya menurut kalian? Masalah keluarga mereka yg belum kelar bakal aku tulis di part selanjutnya yg entah kapa. Mungkin cerita ini bakal lebih fokus ke maknae line dan konfliknya makin berat. Maaf ya aku bakal nistain si kembar dan si bontot🙃
Yang udah mulai bosen bisa kok mundur dr lapak ini :)