Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading!
Gilang berjalan lesu setelah keluar dari ruang staff administrasi kampusnya. Dia baru aja dipanggil karena telat bayar kuliah dua bulan ini. Semenjak saat itu, semua hal berbanding terbalik dengan kehidupan Gilang yang dulu. Kadang dia pengin ngeluh, tapi pas lihat dua abangnya yang pantang menyerah, dia malah jadi malu sendiri. Harusnya Gilang banyak bersyukur karena abang kembarnya mau banting tulang demi masa depan dia. Bukan sebaliknya.
"Baru aja kemaren abang bilang ngga punya uang buat bayar kuliah gue. Terus gimana caranya gue bayar ini?" monolog Gilang sambil bolak-balikin surat peringatan yang tadi dikasih sama staff.
"Kalo gue kerja, emang mau kerja apa coba?!" Gilang buang nafas sedikit kasar sambil jalan celingukan. Siapa tau nemu duit yang jatuh di jalan.
Tapi bukannya nemu duit, dia malah nemu brosur lowongan pekerjaan yang tertempel di sebuah tembok kafe.
"Ngga ada salahnya dicoba kan? Itung-itung ringanin beban abang sendiri," gumam Gilang sambil nengok ke arah toko.
Akhirnya Gilang memutuskan untuk masuk ke dalam dan menemui satpam yang berjaga tak jauh dari pintu masuk.
"Permisi, Pak," ujar Gilang sopan pada satpam yang sedang berdiri satu meter darinya.
"Ya, ada apa, Mas?"
"Eum, apa di sini masih terima pegawai baru?" tanya Gilang ragu.
"Ah, maksud saya yang ini, Pak!" lanjut Gilang sambil nunjuk brosurnya.
"Ahh itu masih, Mas. Mas nya berminat?" sahut satpamnya sambil melirik penampilan Gilang dari atas sampai bawah.
"Iya, Pak. Saya lagi butuh pekerjaan. Boleh saya ketemu sama manager kafenya?"
"Oh silahkan masuk," jawab satpamnya sambil buka pintu dan membawa Gilang masuk untuk bertemu sang manager.
Lintang ngusak rambutnya kasar karena dia ngga sengaja mecahin piring pas lagi nyuci. Sebenernya piring pecah bukan masalah besar, tapi yang membuat Lintang gusar dan sedikit kesel karena bos dia sedikit galak. Pecahin piring bisa aja langsung dipecat.
"Aduh, pakai pecah segala lagi!" gerutu Lintang sambil mungutin pecahan piringnya.
"Bisa gawat gue kalo bos tau," lanjutnya.
"Lintang!"
"Awssh," sentakan seseorang membuat Lintang tersentak hingga jarinya tergores pecahan piring itu.
"Itu kenapa piring bisa pecah gitu?!" dengan gerakan pelan, Lintang berdiri dan mendongakkan kepalanya secara perlahan. Itu suara bosnya. Suara yang bisa bikin bulu kuduk Lintang berdiri.
"Ta-tangan saya licin, Bos. Jadi pecah waktu saya mau cuci," cicit Lintang sambil nunduk.
"Lain kali hati-hati dong. Kalo kamunya luka gimana? Kan saya jadi sedih," ujar bosnya sambil nepuk bahu Lintang dengan tangan beratnya. Jujur aja Lintang sedikit melotot kaget waktu bosnya bilang gitu dan nepuk bahunya.