Beberapa hari setelah kecelakaan, kini Lintang udah kembali kerja. Dia ngrasa ngga enak aja sama karyawan lain kalau kelamaan ambil cuti. Walaupun kadangan masih suka lemes, tapi dia ngga mau manjain tubuhnya.
"Lintang, anterin pesanan ke meja nomor tiga belas," Lintang ngangguk paham dan segera ngambil nampan itu.
Saat Lintang jalan menuju meja, tiba-tiba ada seseorang yang nyandung kaki dia sampai-sampai nampan itu goyang.
Bruk!
Prang!
"Astaga!" reflek orang yang ditabrak oleh Lintang, sementara Lintang melotot kaget karena perbuatannya.
"Pak, maaf atas kelalaian saya. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah mengotori baju Anda," Lintang membungkuk sambil meminta maaf karena bener-bener ngrasa bersalah.
"Kamu itu harusnya lebih hati-hati. Untung aja saya bukan orang yang lagi ada keperluan penting!" ujar orang itu sambil ngibas-ngibas bajunya yang kena noda makanan sama minuman.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Anda boleh melaporkan saya pada atasan saya jika Anda merasa keberatan atas kecerobohan saya," ucap Lintang sambil menunduk.
"Saya maafkan. Lain kali hati-hati, ya?" pesan orang itu sebelum pergi menjauh dari kekacauan itu.
"Huft, untung aja dia orangnya baik," gumam Lintang sambil jongkok buat bersihin pecahan dan makanan yang berhamburan.
Di sisi lain, seseorang yang tadi nyandung Lintang langsung mandang Lintang marah. Dia pikir rencana itu bakal berhasil buat Lintang dimarahin dan berakhir dipecat. Mungkin dia harus pakai cara lain setelah ini.
Sementara itu, Ardian udah misuh-misuh sepanjang jalan di parkiran karena temannya tiba-tiba aja ganti tempat pertemuan mereka. Sebenernya ngga masalah sih kalau tempatnya ngga jauh dari tempat awal mereka janjian. Lah ini, Ardian harus puter balik, gimana ngga kesel coba?
"Hehehe, maaf ya gue ubah tempatnya. Ada insiden kecil tadi," ujar dia sambil meringis tak enak.
"Hmmm, untung temen sendiri," sahut Ardian datar sambil duduk.
"Ngomong-ngomong, lo ngapain dah ke Bandung?" tanya temen Ardi heran.
"Mau tenangin diri. Di Jakarta rasanya sumpek banget, apalagi semenjak trio bungsu ngilang. Bang Bara kerjaannya marah-marah mulu, stress mulu!" jawab Ardi sambil muter-muter hp di meja.
"Ken, unit apartemen sebelah lo ada yang kosong ngga? Gue terpaksa bohong sama mereka kalo gue lagi ada masalah proyek dan meeting di luar kota," kata Ardian lesu.
"Ada sih," sahut Ken dengan tampang orang lagi mikir.
"Ok, booking buat gue dong?" pinta Ardian memohon.
"Lo bukan mau booking hotel ya, Di. Lo itu mau booking apartemen yang jelas-jelas ada kontraknya. Emangnya lo mau tinggal di sini berapa bulan coba?" tanya Ken ngga habis pikir sama tindakan temannya.
"Paling dua minggu kalau ngga satu bulan," ujar Ardian pelan.
"Di apartemen gue minimal lima bulan. Kalo lo mau nyewa, lo harus bayar sewanya waktu itu juga," Ardian buang nafasnya kasar dan bersender ke bangku.
"Ya udah, gue booking kamar hotel aja deh," finish Ardian.
"Bukannya gue ngga mau bantu, Di. Sayang aja kalo lo nyewa apartemen cuma buat sebentar," ucap Ken tak enak hati.
"Santai kali, gue ngerti kok," kata Ardian sambil senyum maklum.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
We'll be Fine, Right? ✔
Fan-Fiction[VMINKOOK BROTHERSHIP-FAMILY] Perjalanan tiga bungsu Sanjaya masih berlanjut Sequel of Together Baam!
