Chapter 20

4.2K 583 175
                                        


Apapun alasan yang Ardi berikan pada Galih, ngga akan pernah bisa meredakan amarahnya. Galih tau kalau dia juga salah karena dia ngga pernah cerita masalah ini sama saudaranya yang lain. Tapi, apa pantes untuk seorang Ardian yang terkenal bijaksana dan realistis bakal mikir segitu dangkalnya hanya karena sebuah spekulasi yang belum tentu benar? Kecewa itu wajar bagi Galih. Mungkin dia bakal maklumi kalau Ardian hanya kecewa karena Sanjaya nyembunyiin rahasia yang begitu penting bagi mereka. Ini kecewa karena si kembar bukan saudara kandung mereka. Terus apa artinya bagi Ardi yang hampir setiap hari hidup bareng Lintang dan Bryan? Apa masih penting buat mempermasalahin ikatan darah setelah sekian lama mereka hidup bersama?

"Kasih tau gue alamat rumah sakit tempat Bryan di rawat," ucap Galih datar tanpa mau natap wajah sembab dan lebam milik Ardian.

"Rumah sakit xxx. Bang, lo mau ke sana?" tanya Ardian pelan.

"Iya, kenapa?! Gue bakal bawa mereka pulang dan gue bakal jagain mereka di sini. Kalo lo keberatan, silahkan angkat kaki dari sini," setelah itu Galih langsung pergi, meninggalkan Ardian yang menunduk dalam sambil nahan air matanya.





.

.

.

.



Lintang menyusuti koridor rumah sakit setelah mastiin kalau Bryan udah tidur. Bosen di dalam mulu, mending keluar buat cari udara segar. Dari tadi Bryan juga bersikap protektif banget sama dia. Takut kalau Lintang sakit atau pergi katanya. Padahal yang harusnya ngrasa gitu itu Lintang.

Bruk!


Lintang sedikit berjengit kaget ketika melihat seorang anak laki-laki kecil sekitar 6 tahunan jatuh ngga jauh dari tempatnya berdiri. Sambil geret tiang infusnya, Lintang nyamperin anak itu.

"Adek gapapa?" tanya Lintang sambil julurin tangannya dan agak bungkuk.

"Gapapa kok, kak. Aku kan superhero, jadi harus kuat hehehe," anak itu nyengir dan langsung berdiri sambil balas uluran tangan orang yang lebih besar darinya. Lintang terkekeh pelan mendengarnya.

"Mau ke mana? Kok sendirian?" tanya Lintang lagi sambil natap sekelilingnya.

"Mau ketemu sama om aku, kak," jawabnya.

"Ayok kakak anterin," ujar Lintang sambil gandeng tangan anak itu. Mereka akhirnya jalan bareng ke tempat yang ditunjukkan oleh anak itu.

"Kakak namanya siapa?" tanya anak itu sambil ndongak.

"Nama kakak, kak Lintang. Kalo kamu?" sahut Lintang dengan senyum manisnya.

"Nama aku Leo. Eum... Kak Lintang sakit apa?" tanya Leo penasaran setelah melihat tiang infus Lintang.

"Cuma kecapean aja kok. Oh iya, kamu ke sini sendian apa sama orang tua kamu? Kok bisa sih keluyuran sendirian di tempat segede ini, bahaya tau." Leo ketawa kecil karena gemes lihat mukanya Lintang.

"Kak Lintang mukanya gemesin deh," celetuk Leo sambil nyengir lebar.

"Eh," Lintang sedikit melotot dan tersenyum canggung.

"Aku ke sini sama papa. Sekarang papa lagi sembuhin orang yang sakit kaya kak Lintang," jawabnya polos dan Lintang bisa nyimpulin kalau ayahnya Leo seorang dokter.

"Om Tara!!" tiba-tiba aja Leo lepasin pegangan Lintang dan berlari.


Deg!


"Papa."


Lintang natap orang itu dengan seksama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lintang natap orang itu dengan seksama. Ngga salah lagi, itu Sanjaya. Papanya yang selama ini udah dianggap meninggal karena kecelakaan maut satu tahun yang lalu.

"Kak Lintang! Sini!" Leo melambaikan tangannya, nyuruh Lintang buat mendekat. Orang yang Leo panggil dengan sebutan 'om Tara' pun ngukitin arah pandang Leo dan tersenyum lembut.





.

.


.




"GUE NGGA MAU! LO SEMUA JANGAN PAKSA GUE!" teriak Gilang saat Bara minta dia buat istirahat.

"Tapi kamu masih sakit, Gilang," ucap Bara pelan.

"JANGAN BERSIKAP SEOLAH LO PEDULI SAMA GUE! GUE NGGA BUTUH!"

"Gilang."

"LO SEMUA NGGA NGERTI APA YANG GUE RASAIN! JADI NGGA USAH HALANGIN GUE BUAT KETEMU SAMA ABANG GUE SENDIRI!" Gilang berteriak lantang sambil nangis. Penampilannya sangat kacau karena masih demam, membuat para abang merasa khawatir.

"Gilang, kita janji bakal bawa mereka ke sini. Sekarang kamu isti..."

"Gue ngga percaya lagi sama kata-kata kalian. Udah cukup selama ini gue selalu berpikir positif tentang kalian. Mulai sekarang dan seterusnya, gue ngga akan percaya lagi sama kalian, apapun itu. Sekarang gue cuma percaya sama bang Lintang dan bang Bryan," ucap Gilang dingin.

"Gilang, kami bener-bener minta maaf. Kami akui kalo selama ini kami salah, kami nelantarin kalian. Abang mohon jangan kaya gini. Kamu masih sakit dan butuh  banyak istirahat, kesehatan kamu lebih penting sekarang," ucap Adit sambil natap Gilang memelas.

"Percuma! Percuma gue istirahat sekarang! Gue ngga bisa istirahat dengan tenang kalo gue belum tau keadaan mereka! Bang Bryan harus dioperasi dan sekarang gue ngga tau keadaannya gimana! Di sana cuma ada bang Lintang yang lagi kacau. Dia ngga bisa lewatin semuanya sendirian disaat kaya gini. Dia butuh gue, bang! Hiks hiks," akhirnya Gilang jatuh terduduk sambil terisak pilu. Galih yang udah ngga kuat pun langsung bersimpuh dan meluk Gilang erat. Dia juga nangis karena ngrasa bersalah dan sakit disaat yang bersamaan.

"Jangan kaya gini, Gilang. Lo harus kuat supaya mereka juga bisa kuat. Kalo lo sayang sama mereka, lo harus sembuh. Abang janji bakal bawa lo ke sana buat ketemu Lintang dan Bryan. Abang juga kangen sama mereka," ucap Galih sambil ngelus punggung bergetar Gilang.

"Gue mau sekarang, bang. Banghh Lintang  sama bang Bryan lagi sakith hiks. Gu-gue mau mereka hiks, gue adik yang ngga berguna hiks. Gue parasit hiks," racau Gilang.

"Sstt, lo ngga boleh ngomong gitu. Lo itu adik yang berguna dan membanggakan buat mereka, buat kita," bantah Galih sambil mempererat pelukannya.

"NGGA! GUE EMANG PARASIT! GUE SELALU NYUSAHIN MEREKA! GUE SELALU JADI BEBAN BUAT MEREKA! HARUSNYA WAKTU ITU GUE YANG KETABRAK DAN MATI BUKAN BANG BRYAN! HARUSNYA GUE!" teriak Gilang setelah dorong Galih kasar. Matanya merah karena amarah yang lagi nguasai dirinya.

"CUKUP!" bentak Bara.

"Kamu mau ketemu sama mereka, kan?! Ayo kita ke Bandung! Kita susul mereka dan bawa mereka pulang!" lanjutnya penuh emosi sambil narik tangan Gilang.

"Bara!" tegur Adit.

"Diem, bang! Gue cuma mau turutin kemauan parasit ini! Gue bakal anter dia ke Bandung sekarang!" sentak Bara sambil narik Gilang kasar. Dia tau kalau cara ini bisa aja nyakitin fisik Gilang. Tapi dia ngga punya cara lain. Dia udah ngga kuat lihat betapa frustasinya Gilang saat ini. Rasa bersalahnya akan semakin bertambah kalau Gilang sampai berbuat nekad dalam keadaan kacau kaya gini.

"Sakithh," rintih Gilang karena Bara cengkram pergelangan tangannya erat. Bara yang sadar akan itu langsung melrpaskan cekalannya dan menatap pergelangan tangan adiknya yang memerah. Bara langsung narik Gilang ke pelukannya.

"Stop, Gilang. Sakit. Hati abang sakit lihat kamu kaya gini. Abang juga khawatir sama mereka, bahkan mungkin lebih dari kamu karena selama ini abang ngga ketemu sama mereka. Abang makin ngrasa bersalah kalo kamu sampai kenapa-kenapa," Bara memeluk Gilang erat sambil nangis. Bara bukanlah tipe orang yang mudah nangis kaya Galih dan Lintang. Tapi jika menyangkut tentang keluarganya terutama adiknya, dia ngga bisa buat ngga nangis. Dia bakal lebih emosional kalau udah dihadapkan dengan keluarganya.


























Eakkkkk, akhirnya aku kembali😂
Maaf ya udah nunggu lama, akhir2 ini aku sibuk sekolah dan lg sakit. Ngga parah sih  tp bener2 ganggu aktivitas banget. Mungkin kedepannya aku jg bakal jarang update krn udah kelas 12 sibuk persiapan ujian. So, makasih buat kalian yang rajin bgt spam, sayang banyak-banyak deh pokoknya. Dukung tetus cerita aku biar semangat lanjutnya ya...

Salam sayang dari Rere💜💜💜💜💜💜💜

*ppssst, itu Sanjaya atau bukan ya???🙃🙃🙃

We'll be Fine, Right? ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang