Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kara kenapa sih?!!

200 32 8
                                        

🍃🍃

Jika ada yang bertanya, kapan terakhir kali Kara jalan bareng cowok? Maka jawabannya adalah tiga tahun lalu.

Waktu Kara masih berseragam putih biru.
Waktu Kara masih cute dan unyu-unyu.

Tapi, sekarang Kara kembali merasakannya lagi. Bersama Ariq menelusuri trotoar ditemani bunyi bising kendaraan, nyatanya mampu membuat Kara tersenyum sendiri.

Oh, ini ternyata enaknya malam minggu.

"Terakhir kali pacaran, kapan Ra?" Ariq berjalan menyamping menanti jawaban Kara.

Kara tak langsung menjawab tentu saja. Lagian, Ariq ngapain sih, pake nanya gituan?! Kepo banget perasaan.

"Mmm, tiga tahun lalu kalo gak salah." Ter-se-rah. Terserah kalau Ariq mengecap dirinya tak laku atau apa. Memang kenyataan nya begitu kok.

"Sama dong!" Ariq tertawa,kembali berjalan lurus. "gue gak pernah pacaran sejak SMA, gak nemu yang cocok."

'Lo enak gak nemu yang cocok, nah gue? gak ada yang mau!'

"Emang, pacaran harus nemu yang cocok dulu ya?" Begonya, Kara justru memperpanjang. "Kalo menurut gue, pacaran ya pacaran. Gue cantik, lo ganteng. Lo suka gue, gue suka elo. Cocok gak cocok ya belakangan,"

Kara diajarin siapa sih, itu? Ah iya, si laknat Arbani 'gak pake' Yazis.

Tak terduga, Ariq kini tergelak lepas. Menarik atensi beberapa orang yang duduk di warung pinggir jalan tak jauh dari mereka. "Lo tau teori itu darimana?!!"

Ariq boleh nyubit anak orang nggak sih?! Pipinya doang kok...

"Salah ya?" Kara menggaruk pipi chubbynya, "kata temen gue itu. Kata Ilham,"

Ariq tertawa lagi. Tak sekeras tadi, hanya kekehan kecil dengan gelengan pelan yang ntah kenapa membuatnya makin ganteng.

"Mau makan nggak? Nasi goreng nggak buruk juga malem-malem gini," Ariq menghentikan langkah diikuti Kara. Menunjuk salah satu pedagang Nasgor kaki lima dihadapan mereka. "Lo gak lagi program diet, kan?"

Kara tersenyum. Mendahului Ariq menuju gerobak tersebut. Memesan dua porsi kemudian duduk anteng dikursi yang sudah tersedia. Tak lama, Ariq ikut duduk dihadapannya dengan senyum geli dibibir.

Mereka makan dengan nyaman. Mengobrol ringan diiringi candaan segar dari Ariq atau juga Kara sendiri. Kara cukup susah berinteraksi sebenarnya. Terutama kepada seseorang yang baru ia kenali, dan yang lebih utama, cowok. Tapi Ariq memahaminya dengan baik. Pemuda itu mampu mengimbangi sisi lain yang Kara punya sedikit demi sedikit.

Saat hanya terdengar suara denting sendok yang bergesekan dengan piring diantara mereka, Kara mendadak menghentikan suapan kemulutnya. Sendok yang sudah terisi nasi itu, terlepas begitu saja seiring ia yang beranjak dari tempat duduk dan berlari cukup kencang.

Tak peduli pada teriakan kebingungan Ariq. Tak peduli pada sling bag yang tergeletak tak berdosa dibawah kursi, juga flat shoes yang tak cukup layak dibawa berlari. Hoodie hitam itu membuyarkan segalanya. Pikiran jernih seorang Kara, dan resiko apa yang akan ia hadapi nanti.

Kara hanya tau, dia harus disana. Menghampiri Kafa, atau paling tidak memastikan cowok itu baik-baik saja.

"Nggak..." Kara menggeleng kuat menepis segala pikiran buruk dikepala. Menyeruak kerumunan hingga berhasil berdiri paling depan, jantungnya nyaris meledak karena berdetak terlampau kencang.

"Kafa...?" Bukan. Itu bukan Rakafa Ditya. Yang tengah bersimbah darah itu, bukan atlet karate dari IPA 2. Kara jatuh berlutut. Pasrah saat dibawa Ariq menjauhi lokasi kecelakaan tersebut.

Remaja Kita (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang