Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kecewa yang Lain

109 17 5
                                        

🍃🍃

Kara sudah mewanti-wanti resiko ini sejak awal. Dia tidak bego dengan tenang-tenang saja seolah postingan itu tak pernah ada.

Mungkin memang sudah tak ada. Tapi pemikiran orang-orang yang sudah melihatnya, apakah mereka bisa lupa begitu saja? Tidak. Jelas saja tidak. Terbukti dengan beberapa siswa yang ia lewati, yang dulu tak pernah peduli pada keberadaannya, kini terang-terangan menatapnya dengan penilaian.

Meski dua hari telah berlalu, kehadiran Kara sepertinya memang ditunggu.

Dia berusaha memasang senyum sebaik mungkin. Mensugesti hati bahwa mereka hanya penasaran. Mereka hanya akan seperti itu untuk beberapa hari kedepan. Lalu lupa dan semua baik-baik saja. Pasti.

"Nggak papa" Kara bergumam menguatkan dirinya sendiri. "Nggak papa"

Lalu insecure lagi ketika menatap wajah mereka-mereka yang menghakiminya sejak tadi.

"It's oke Ra, kita disini." Suara lembut Lani terdengar menenangkan. Kara dibuat berkaca-kaca saat gadis itu menghampirinya bersama Caca dan Rindu.

"Kenapa jadi nangis gini sih?!" Caca menghentikan langkah pelan Kara. Mengusap airmata Kara diujung tubir, meski airmatanya sendiri kini mengalir. "Lo nggak sendirian, Ra. Ini bukan apa-apa, dan nggak akan berarti apa-apa. Gue, Lani, Rindu, dan especially Kafa ada disamping lo. Lagian, berita itu bukannya cuma bawa nama lo doang. Nama gue, Lani dan Rindu juga. Kalo lo lemah gini, gimana sama kita?"

"Maaf," suara Kara tercekat. Dia menunduk dalam saat sadar beberapa orang kini mulai menatap mereka. Ah, andai perasaan seseorang tak menciptakan sekelumit pelik yang kian rumit, semua pasti akan baik-baik saja."Maaf bikin kalian jadi kayak gini. Maaf udah jadi temen yang buruk, maaf--"

"Sekali lagi lo ngomong maaf, gue gak bakal mau liat muka lo lagi!" Sentak Rindu membuat Kara makin menundukkan wajah. "Gak ada Ra. Salah lo gak ada disini. Maaf lo gak bakal bikin perubahan apapun. Percuma! Percuma karena lo gak punya kesalahan apa-apa buat dimaafin. Jadi stop! Stop bikin gue pengen bunuh orang yang nyebarin fitnah itu. Stop bikin gue pengen lenyapin semua orang yang mikir lo sekotor itu. Stop! Please stop!"

Intonasi suara Rindu yang tinggi, bergema dikoridor yang ramai namun terlanjur menyepi. Beberapa orang yang merasa tersindir memilih mengundurkan diri. Sementara yang lainnya sibuk mengagumi sosok Rindu Aini yang ternyata adalah teman terbaik yang pernah ada.

"Tetep aja Rin, tetep aja ini semua terjadi gara-gara gue. Tetep gue penyebabnya,"

"Kalo lo salah, berarti ini juga salah gue. Salah Lani, salah Caca, salah kita semua. Puas lo sekarang?" Mata Rindu memerah. Gadis itu begitu emosional pagi ini. Menarik napas dalam guna meredam rasa marah, Rindu menarik Kara yang sudah terisak ke dalam pelukan. Mereka menangis bersama. Melepas segala rasa sakit dan kesedihan atas apa yang terjadi.

Hari ini, sudah cukup sampai hari ini saja.

Esok pasti lebih baik.

Kara tau.

🍭🍭🍭

Kara mengusap kasar ujung matanya yang kembali berair. Setiap kali ia membuka hasil capture yang Caca kirimkan waktu itu, perasaan berkecamuk itu kembali hadir.

Malu, cemas, sedih, dan banyak perasaan lain yang sama sekali tak bisa ia ungkapkan.

Kata Papa, Kara tak perlu lagi khawatir. Tadi siang segalanya telah usai. Banyak orang yang berdiri disamping Kara. Banyak orang yang mendukungnya. Tapi setau Kara, tak ada yang masalah sesimple itu. Harga dirinya telah jatuh ketitik terbawah. Apa kata orang-orang yang tak mengenalnya, tapi mengetahui berita itu dari sosial media?

Remaja Kita (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang