Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Kejutan

188 34 18
                                        


🍃🍃

Kara tak habis fikir bagaimana Adan bisa berdiri disana. Membantunya meredakan rasa sakit, dan yang paling membuatnya heran adalah, sejak kapan Adan Perwira peduli pada orang lain? karena Kara tau sekali Adan bahkan tak akan bergeming kalau-kalau ada ibu-ibu yang mau melahirkan mengemis dikakinya meminta bantuan.

sekarang, Adan melenggang tanpa dosa kembali kekursinya. Menelungkupkan wajah diatas meja, dan tak lagi bersuara.

Sekali lagi, Kara mengutuk Adan. Menggigit bibir gelisah seraya menunduk dalam. Kara sama sekali tak berani mengangkat wajah.

Mau taro dimana muka dia sekarang????

🍭🍭🍭

Sepertinya, kejadian dikelas tadi tak memberi dampak terlalu buruk. Kara hanya sebentar dijadikan bahan 'cie-cie' lalu senyap tak bersisa. Dan untungnya, tak ada yang mengungkit masalah siapa yang Adan lihat malam minggu itu. Kara selamat, Alhamdulillah.

Dan jangan lupakan pengamen yang Kara pikir Kafa, ternyata ditabrak Adan.

Adan jangan ditanya. Cowok itu seperti punya kemampuan melupakan peristiwa dalam sekejap. Seolah yang terjadi beberapa saat lalu itu hanya hal biasa dan tak berarti banyak.

Memang iya, sih! Kara juga berpikir begitu.

Tapi kok dia jadi begini?!!!

"Makan, nggak?" Kara mengangkat kepala. Sejak dikelas sampai sekarang dikantin, dia lebih sering menundukkan wajah. Padahal semua orang biasa saja.

Hadeuuhh, sadar! Sadar Kara Aurelie.

"Pesenin deh, Ca." Sahutnya lesu, "mie goreng satu,"

"Pake telor?"

Mengacungkan jari tengah dan telunjuk, Kara nyengir lucu, "bayarin, hehe"

Caca merotasi mata jengah. Beranjak dari tempatnya menuju Lani dan Rindu yang ternyata sudah nangkring duluan memesan. Kara menghela napas lelah. Memicit pangkal hidungnya frustasi.

Sejak kapan hidupnya seberat ini?

Kara tak ingin lebai. Dalam tiga tahun terakhir, baru sekarang dia merasa emosi menjadi kacau dan tidak stabil seperti sekarang.

Ntahlah. Dia hanya merasa lelah dan letih tanpa sebab. Memikirkan Ariq, Kafa, dan tadi Adan secara bersamaan membuatnya pusing sendiri. Seharusnya, Kara tak perlu merasa seperti ini. Ariq, Kafa, dan Adan tak punya eksistensi apapun dalam dunianya.

Ada sih dikit, tapi nggak dominan juga.

Sejujurnya, kejadian dalam kelas tadi punya dampak lain yang membuat Kara terganggu. Adalah Lani yang tadi dapat Kara lihat menatapnya dengan tatapan asing dan aneh. Kara tak ingin berspekulasi sok tau, Menganggapnya adalah hal biasa yang mungkin bisa disebut cemburu.

terlalu sering diganggu mungkin membuat Lani terbiasa dengan Adan.

Kalau Kara diposisi yang sama, dia juga akan merasa begitu.

Tapi, hal biasa itu ternyata berarti lain. Lani memang tak mengatakan apa-apa, lebih tepatnya mencoba biasa saja. Hanya saja, Kara tau gadis itu sedang berkecamuk dengan pemikiran sendiri mengenai Kara dan Adan.

Kara hanya asal tebak, toh belum tentu Lani selebai itu. Atau kalau memang iya, Kara berharap semua tak berakhir buruk. Lani gadis yang bijak.

Masalah klise seperti ini, tak akan dianggap besar oleh gadis itu apalagi sampai mempengaruhi persahabatan mereka.

Semoga.

"Yang tadi diomongin Adan, bener, Ra?"

Pertanyaan Lani membuat Kara tersedak lagi. Tidak terlalu parah, tapi karena mie goreng yang ia makan cukup pedas, matanya sampai berair sekarang.

Remaja Kita (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang