🍃🍃
Rasanya, Kara ingin sekali berteriak kencang hari ini.
Memukul sesuatu dengan keras, atau paling tidak menggigit seseorang dengan kuat.
Ge-re-ge-tan.
Kara tak habis fikir terbuat dari apa seorang Adan Perwira. Oke, jika nama Perwira yang melekat dibelakangnya berarti seorang yang pemberani. Tapi 'Perwira' dinama Adan justru kebalikan dari itu.
Setelah membuat Kara jadi bahan gosip, pemuda itu sama sekali tak menunjukkan tampang bersalah. Hanya seuntai kata maaf yang ia ucapkan pada adik Dafa--Kara serius baru tau kalau cewek mungil yang berbahaya itu adiknya Dafa karena emang gak ada mirip-miripnya--dan juga Dafa selaku abang.
Pada Kara? Nihil! Cowok itu seolah lupa bahwa sudah menyeret-nyeret nama Kara atas kesalahannya sendiri.
"Adan!"
"Adan Perwira!"
"Lo tuli, ya??!"
"Adaaan!!!"
"Berisik woi!"
Kara nyengir malu-malu. Ditegur begitu, dia jadi teringat Caca saat dikafe MARI waktu itu. Sekarang dia jadi tau malunya kaya apa.
Terkutuklah Adan Perwira!
Kara kewalahan mengejar langkah panjang Adan dikoridor. Cowok itu berpura-pura tuli padahal Kara sudah berteriak seperti orang gila.
Andai Kara punya kemampuan berpindah dengan cepat, Kara yakin dia tak akan ngos-ngosan seperti sekarang.
"Dan, please! Gue capek ngejar elo!"
Ajaib! Langkah Adan seketika terhenti. Kalau tau seperti ini, lebih baik sejak tadi saja Kara ngomong begitu.
Adan memutar tubuh. Berjalan menuju Kara yang--akting--kelelahan dengan membungkuk dan menumpu tangan dikedua lutut.
Setelah menuntaskan aktingnya dengan menarik napas panjang dan dalam, Kara kembali menegakkan tubuh. Berjengit kaget saat mendapati wajah lempeng Adan begitu dekat didepannya.
"Kenapa?" Adan beujar datar. Tiga tahun satu sekolah plus satu kelas dengan cowok itu, Kara baru tau Adan punya tampang lumayan menjual jika dari dekat. "Waktu gue gak banyak, cepetan!"
"Diih, sok sibuk!" Cibir Kara pelan. Kemudian dengan cepat menahan lengan Adan saat cowok itu kembali ingin berbalik pergi. "Peace, hehe."
"Cepetan, Ra. Kenapa?" Adan kentara sekali tak nyaman. Iya sih, Kara juga tau ini hmmm Kara lupa kali keberapa mereka mengobrol intens dalam artian yang sebenarnya, selama tiga tahun terakhir. Mungkin, ketiga atau keempat, atau mungkin kali pertama.
Ntahlah! Kara bukan pengingat yang baik.
"Gini, errmm" Kara jadi serba salah sekarang. Niat awalnya ingin menyinggung masalah dilapangan tadi siang, tapi melihat wajah Adan yang seperti ingin menelan seseorang, dia mendadak insecure.
"Apa?"
"Lo gak papa?"
Bego! Kara bego sekali sekarang. Dia hanya bisa meringis melihat Adan menaikkan satu alisnya.
"Gue yang nendang bola, bukan yang kena bola. Lo salah nanya,"
"Tapiii, lo kaya bete gitu. Makanya gue nanya, lo gak lagi ada masalah kan?"
Kalau saja ketiga sahabatnya mendengarkan obrolan out of the box ini, Kara yakin mereka sudah terpingkal-pingkal mentertawakan dirinya.
"Sejak kapan elo peduli masalah gue?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
De TodoFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
