🍃🍃
Kara masih memperhatikan Lani sampai gadis itu duduk dikursinya. Membuka tas pink pastel pemberian Kara pada ulang tahunnya tahun lalu, mengeluarkan buku catatan yang juga dari Kara sepaket dengan tas itu, Lani mulai menyalin catatan yang juga dari buku Kara yang ia pinjam kemarin.
Gara-gara badmood setelah nangis kemaren, Lani sama sekali tidak mencatat dipelajaran terakhir.
Kara mengikuti hingga duduk dibangkunya sendiri. Lani masih sama. Tak ada yang berubah dari gadis itu. Meski mendung masih menaungi, Kara tau Lani adalah gadis dengan pemikiran yang bijak. Gadis itu tak membawa masalah pribadinya kesekolah. Meskipun, masalah tersebut memang berawal dari sekolah ini.
Kelas ini,
Dan pemuda itu.
Adan masuk dengan tampang tanpa dosa. Meletakkan tas kecil yang ia bawa, lalu keluar lagi tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Kara kembali menatap Lani, bagaimana gadis itu tak terganggu sedikitpun, Kara sadar dewasa yang sebenarnya adalah sikap yang Lani tunjukkan sekarang. Gadis itu tak melibatkan siapa-siapa, Kara sempat dilanda ketakutan jika Lani akan berfikir yang Adan sukai adalah Kara.
Mengingat bagaimana sikap Adan pada Kara akhir-akhir ini yang menciptakan keresahan bersama.
"Ra?"
"Hm," Kara spontan berdiri menghampiri Lani yang memanggilnya. Gara-gara rasa takut tak beralasan yang bersarang diotak, dia jadi sedikit menjaga sikap. "Kenapa Lan?"
"Ini bacanya apaan?" Telunjuk Lani mengarah pada satu kata yang membuat mata Kara menyipit. "Ka-fa, Kafa. Sejak kapan di sosiologi ada istilah Kafa?"
Kara menggigit bibir menatap Lani yang menampilkan binar geli. "Salah tulis gue kayanya,"
"Salah tulis bisa pas gitu ya, Ra?" Caca ikutan menggoda. " bukan salah tulis, tapi gagal fokus gara-gara mikirin doi."
Dan sekarang, Kara jadi mesem-mesem malu. Kiyut sekali.
"Kafa belom ada perkembangan, Ra?"
"Rindu apaan sih?!! Iihhh ..." Rasanya Kara ingin sekali membungkus diri dalam selimut. "Kalian tuh kalo sehari aja gak godain gue gak bisa, ya?"
"Ngggaaaakk! Hahaha ..."
Kara merenggut manyun. Namun melihat ketiga sahabatnya tergelak kencang, tak ayal gadis itu juga ikut tergelak.
Yang baru pada masuk kelas pun ikut-ikutan terkekeh.
"Karaa!!"
Bibir Kara spontan terkatup mendengar nama nya diteriakkan begitu kencang. Beberapa yang lain juga sampai menghentikan aktivitas mereka.
"Apa sih Ban?!!" Gerutu Caca kesal. Menatap tajam Bani yang berjalan kearah Kara dengan tampang errr ... seram.
"Tega ya, lo Ra. Tega lo sama gue," pemuda itu mendramatisir keadaan berdiri dihadapa Kara yang membuat Kara mengernyit heran.
"Obat abis Ban? Apa ditegur setan tadi dijalan?" Sindir Caca gemas sendiri.
"Gue gak ngomong sama lo!" Sentak Bani cukup keras. "Lo harus tanggung jawab, Ra. Ini semua salah lo!"
"Gue kenapa sih, Ban? Tanggung jawab apa?"
"Gue sakit hati, Ra. dibanding gue, lo lebih milih atlit karate itu. Urusan ganteng, gue jauh diatas Kafa. Kece juga kecean gue. Kafa cuma menang bela diri doang, gue bisa kok ngorbanin diri gue sendiri demi belain lo. Dimana kurangnya gue, Ra?"
Beberapa teman sekelas Kara memutar mata jengah dengan drama Bani. Kara sampai harus menghela napas panjang menenangkan diri.
"Maafin gue ya, Ban. Tapi gue sama Kafa gak ada apa-apa kok. Sama lo juga," ujar Kara tak enak hati melihat wajah Bani berubah memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
RandomFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
