🍃🍃
Untuk kesekian kali, Kara menatap lekat Kanu saat mengenakan seragam sekolah berlogo Jati Dharma. Rasanya, baru kemarin dia dan teman sekelasnya rebutan bangku kelas.
Rasanya, baru kemarin mereka bercanda tawa mengumbar aib masing-masing.
Dan juga, rasanya baru kemarin Kara bersama sosok itu berjalan bersisian dengan seragam serupa dibawah jajaran pohon sepanjang jalan menuju sekolah. Tapi kenyataan menampar hebat. Masa-masa itu sudah berlalu hampir tiga tahun. Kanu pun sudah menginjak kelas duabelas. Sudah berlalu ratusan hari, ribuan jam, dan jutaan detik.
Tapi, kenapa perasaannya tak kunjung berubah?
Seharusnya, untuk kisah mereka tidak akan terbilang rumit. Kara tak punya banyak kenangan indah, tak punya hubungan romantis, dan panggilan kesayangan. Mereka hanya sepasang anak Adam yang berjalan dialur yang sama lalu menciptakan ruang bagi keduanya untuk saling mengisi. Tanpa kata, tanpa tanda, bahkan tak perlu bukti. Karena pada dasarnya, cinta bukan tentang janji-janji manis, tapi bagaimana keduanya menjadi semakin kuat tanpa sedikitpun celah meski sudah lama berpisah.
Itu sebabnya ntah apapun tentang cowok itu, Kara tak melupakan nya secuil pun.
"Udah?" Kanu bertanya sinis menyadarkan Kara dari lamunan. "Gue tau gue ganteng, but for your information sis, adek ganteng lo ini udah punya pacar dan sekarang mau berangkat kesekolah. So, can you just give me a little bit smile and let me go? Hm?"
Andai disekitar Kara terdapat barang yang bisa dilempar, cewek itu bisa memastikan Kanu tak akan berangkat sekolah hari ini. Pemuda itu menjadi berkali lipat menyebalkan setelah tiga tahun di Indonesia.
"Sis, do you won't let me go? Why?" Wajah minta ditimpuk Kanu berubah iba. "Karna lo jomblo, ya?" Kanu tergelak kurang ajar. "Makanya cari pacar. Jangan nungguin bang Rafa Rafa yang gak punya kepastian itu. Keburu tua lo!"
"Pergi nggak?!" Kara melepas sendal rumahnya lalu mengangkat tinggi. Berancang-ancang melempar andai Kanu masih tetap menganggunya.
Kanu tergelak lagi. Mengangkat kedua tangannya seolah menyerah lantas melangkah mundur. "By the way, lo inget nggak gue pernah bilang liat foto lo diposting sama salah satu akun anak Jati Dharma waktu itu?" Senyuman kemenangan Kanu terbit melihat sang kakak berlagak tak peduli padahal jelas sekali penasaran. "Gue udah tau lho, siapa orangnya."
Kanu sialan! Kara menurun sendalnya untuk ia pakai kembali. lagi-lagi dibuat mengumpat pagi ini. Peristiwa itu sudah berlalu tiga tahun, adik kurang ajar itu sengaja mengungkitnya lagi hari ini.
"Mau tau nggak?" Kanu menaik turunkan alisnya menggoda.
Kara mendengus. Perlahan dia mengangguk seraya menoleh, "siapa?"
"Wani piro...? Hahaha!"
Setelahnya, Kanu dibuat terlambat kesekolah karna harus mengganti pakaiannya. Ntah bagaimana sang kakak dengan cekatan menyiramkan dua gelas jus sisa sarapan kesekujur tubuhnya.
Benar-benar definisi jangan ganggu kucing yang sedang tidur.
🍭🍭🍭
Rintik hujan menghiasi langit yang sebenarnya tak terlalu mendung. Matahari masih terlihat meski tak bersinar terik. Diantara kerumunan orang disalah satu pusat toko buku terbesar ibu kota, Kara menemukan kepingan masa lalunya lagi.
Berdiri menghadapnya diantara ratusan buku yang tersusun di rak menjulang. Seperti biasa, dia akan terlihat mencolok dibanding orang-orang disekitarnya.
"H-hai ..." Kara tak tau kenapa ia harus segugup ini. Terakhir kali mereka bertemu, seingatnya memang tak berjalan baik. Ah, pantas saja.
Pemuda itu berkerut. Mencoba memahami makna sapaan Kara yang kelewat formal. Atau, kurang mempercayai penglihatannya sendiri. Apakah didepannya memang benar-benar Kara Aurelie?
"Lama gak ketemu," Kara mencoba mencairkan suasana. "Apa kabar ... Adan?" Menyebut kembali nama itu ntah kenapa terasa begitu asing. Kabar Adan yang Kara dengar terakhir kali adalah cowok itu mengikuti tes masuk abdi negara.
Dan sekarang, cowok itu disini. Dengan penampilan yang lebih rapi dan tampak begitu menawan. Diam-diam, kara tersenyum. Bagaimana bisa cowok ini pernah menyukainya dulu?
"Lo ... baik-baik aja?" Kara memastikan. Tampang Adan kentara sekali berubah ketika melihatnya beberapa saat lalu.
Adan mengangguk ragu. Sebagian dari dirinya seperti teraliri listrik ketika setelah sekian lama bertemu wajah itu lagi.
"Kara ..." Adan menyebut nama itu perlahan.
"Hm ..." Kara bergumam memastikan pendengarannya, "Kenapa?"
"It's you?" Lagi-lagi, pemuda itu berbisik. Lantas tanpa dikomando, Adan melenyapkan jarak diantara mereka. Melingkupi tubuh mungil gadis itu yang memang tidak berubah meski sudah sekian tahun berlalu dengan lengan nya yang sudah jauh lebih kokoh.
Kara terkejut. Dari sekian banyak hal yang sudah ia lewati dalam hidup, moment ini adalah yang paling awkward.
"Ad-adan ..." Kara mencoba melepaskan rangkulan erat Adan sembari memasang senyum paksa menatap orang-orang disekitarnya. "Gak, gak enak diliat orang."
Adan seolah tersadar. Refleks melepaskan rangkulannya. Tersenyum canggung menatap Kara yang juga berekspresi serupa. Aisshh ... orang-orang pasti berfikir mereka sedang syuting telenovela.
Dalam suasana tak mengenakkan yang tercipta, Kara tak sadar ada sosok lain diantara kerumunan orang yang memperhatikan mereka.
Sosok yang pada akhirnya lagi-lagi dibuat tersadar. Seberapa tahun pun waktu berlalu, kisah 'mereka' tak pernah benar-benar usai.
🍃🍃
Part ini dikit.
Mianhe:(
Boss yang lagi gak enak badan,
Fika
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
RandomFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
