🍃🍃
Kara masih menangis ketika ketiga sahabatnya beserta beberapa teman sekelas menghampirinya mengajak foto bersama. Mereka baru saja menyelesaikan penampilan persembahan ucapan terima kasih kepada para guru.
Sebuah persembahan lagu dibawa apik oleh iringan gitar Bani.
Hari ini, acara perpisahan mereka. Menjadi awal perjalanan baru memasuki fase baru juga tentunya.
Kara menarik kedua sudut bibirnya keatas. Menampilkan senyum palsu dihadapan lensa kamera yang dipegang oleh Caca.
"Sekali lagi! Sekali lagi!" Seperti biasa, kaum perempuan jika sedang mengabadikan moment tak akan pernah cukup sekali saja.
"Ra?" Suara seseorang membuat aktivitas mengabadikan moment itu terhenti.
"Gue mau ngomong sama Kara." Ekspresi Adan datar seperti biasa. Diwajahnya, terlihat bekas luka memar dan basah yang sudah mulai pudar.
Sudah dua bulan berlalu, pasti semuanya telah lebih baik.
"Tumben," Caca mencibir. Menyikut Lani pelan sebagai kode bahwa tak biasanya Adan begitu. Tak sadar, dibalik senyuman tipis yang diberikan Lania Wardah, ada rasa asing yang menelusup ketika melihat wajah itu lagi.
Sedekat ini.
Karena sejak peristiwa beberapa bulan lalu, Adan dan Lani bersikap seperti orang asing. Mereka saling menghindari satu sama lain. Ntah Adan yang mengalah dengan berbalik pergi, atau Lani yang juga melakukannya. Lalu hari ini, jarak mereka dekat lagi. Meski tetap saja terasa jauh.
"Mau... ngomong apa?" Tanya Kara kebingungan. Rasanya, ini kali pertama Adan mengajaknya bicara dan ia tau itu akan sangat serius. Dari sudut kiri, Lani adalah yang paling mengerti apa yang akan terjadi.
Hari ini, adalah kesempatan terakhir Adan mengungkapkan perasaannya pada Kara. Lani penasaran bagaimana rekasi Kara jika mendengarnya.
Adan tak membalas. Cowok itu berbalik pergi setelah mengode Kara untuk mengikuti.
🍭🍭🍭
"Maafin gue..." suara Adan nyaris tak terdengar ketika mengucapkannya. Tapi suasana aula yang sepi, melancarkan indra pendengaran Kara.
Kara menatap bingung, "buat?"
"Banyak, Ra. Terlalu banyak sampe gue sendiri bingung maaf gue kali ini untuk kesalahan yang mana." Adan menghela napas berat. "Ada banyak hal dihidup lo yang terjadi gara-gara gue. Cowok pengecut didepan lo ini, adalah penyebab kenapa banyak hal buruk nimpa hidup lo. Semuanya gara-gara gue, Ra.. gara-gara cowok berengsek ini!"
"Tunggu, tunggu!" Kara menggeleng tak mengerti, "lo ngomong apa sih?! Gue gak ngerti."
Adan sekali lagi menghela napas berat. Mengumpulkan keberanian menerima kenyataan setelah apa yang akan ia katakan. Dan dia sudah bertekad. Hari ini, tak peduli apapun yang terjadi, dia tak akan lari lagi.
"Gue yang bikin rumor itu."
"Ap-apa?"
"Rumor kalo lo cewek gak normal dan bikin lo sedih beberapa bulan lalu, itu gue, Ra. Gue yang bikin, gue yang mulai semuanya."
"Tap-tapi..."
Adan jatuh berlutut. Menunduk kepala dalam meyakinkan Kara bahwa ia benar-benar menyesal. "Maafin gue, Ra. Tolong, maafin gue. Gue tau yang gue lakuin nyakitin lo, gue tau yang gue lakuin itu hal paling bego dan gak bermoral. Tapi, Ra gu--"
Plak!
Kalimat Adan terputus. Kepalanya tertoleh kekanan akibat kerasnya tamparan. Bukan dari Kara, tapi Rindu yang kini menatapnya dengan wajah memerah padam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
SonstigesFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
