Dimohon mengabaikan judul atasnya😄
🍃🍃
Senin pagi memang momok bagi segala bangsa. Setelah berjibaku dengan segala pekerjaan rumah minggu lalu yang baru sempat Kara kerjakan pagi tadi, gadis itu kini panik karena terlupa membawa perlengkapan upacara.
Kara ingat dasi, tapi lupa topi. Poor! Kara Aurelie.
"Gimana ini Ca?!! Help woi help!" Kara menahan suara agar tidak terdengar keruang guru.
Maklum saja, posisi kelas yang bersebelahan dengan ruang guru memang menjadi siksaan batin bagi penghuninya.
"Lo ngapain aja sih tadi pagi?! Ini udah kali kedua lo lupa perlengkapan apel, gue gak jamin pak Roni bakal diem aja."
"Lo jangan nakutin gue dong," Kara mencebik bibir hampir menangis sekarang. "Lan, Rin, bantuinnn.."
"Gue hands up aja," Rindu mengangkat kedua tangannya.
Lani mengangguk,"Twoin,"
Kara pasrah sekarang. Saat bel mulainya upacara berdering, Kara rasa nyawanya tinggal diujung tanduk.
Mau kabur, Kara anak teladan kata bu Isda.
Mau pura-pura sakit, Kara gak pinter akting.
Jadi, Kara harus apa?
Kerumunan mulai tercipta dilapangan. Baris perbaris mulai diisi dengan rapi.
Kara masih berdiri didepan kelas dengan menggigit bibir gelisah. Lalu pasrah ditarik Caca kelapangan. "Ikut aja dulu, urusan sanksi belakangan." Katanya.
Menghela napas berkali-kali menenangkan diri, Kara kini ikut berbaris paling belakang. Sedikit menunduk menghindari seratus mata pak Roni.
Ada untungnya juga ternyata dia dilahirkan tidak terlalu tinggi.
"Zaf, itu Kara juga gak pake topi, masa gue doang yang kena?!"
Batu mana woi batu?!! Yang gedean dikit biar sekalian kekuburan Si Dafa Radifki. Sialan sekali anak buah Adan Perwira yang satu ini. Padahal seharusnya, Zafran nggak liat Kara. Eh, malah pake ditunjuk segala.
"Topi lo mana, Ra?" Zafran sang ketua 'sok' bertanggung jawab sekaligus mata ke 99 pak Roni menghampiri Kara dengan buku ditangannya. Jangan tanya isinya apa, sudah pasti daftar pelanggaran dan sanksinya.
"Eeeerrr...ilang Zaf. Tadi pagi gue cariin nggak ada," Kara menunduk meminta iba siketua kelas.
"Ra," panggil Zafran perlahan. "Lo liat muka gue?"
Kara mau tak mau mendongak. Tapi, Matanya bergerak kesana kemari menghindari kontak mata dengan Zafran. "Apa, Zaf?"
"Liat muka gue!" Perintah Zafran lagi dengan nada sedikit tegas.
Kali ini, Kara menurut patuh. Menubruk tepat netra hitam Zafran. Cowok itu sempat terdiam sesaat. Sebelum kemudian mendengus kasar lantas berbalik pergi, "lo pikir gue peduli!" Ketusnya seraya melangkah menjauh.
Kara menghela napas pasrah. Memasang wajah iba kala melewati teman-teman sekelasnya menuju barisan khusus tak jauh dari petugas pengibar bendera.
Bisa bayanginkan gimana panasnya?
Mana ketentuannya, harus berdiri disana sampai jam pelajaran pertama berakhir.
Tamat sudah kisah Kara hari ini.
Tapi...
"Pake," topi abu-abu itu terpasang pas dikepala Kara. Menoleh kekanan kemudian mendongak keatas--karena Kara itu gak cukup tinggi, Kara dibuat tak percaya dengan siapa yang kini berdiri disampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
De TodoFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
