🍃🍃
"Kita gak nungguin bus?"
"Lo kuat gendong gue sampe rumah?!"
"Fa, halte nya kelewatan!"
"Kafa!"
"Rakafa Dityaaa!!"
Bruk!
"Aw!"
Nyeri woi pake banget. Bayangkan bagaimana Kara dijatuhkan begitu saja oleh Kafa dari gendongan. Dan sekarang, cowok itu seperti belum menyadari kesalahan karena sibuk menggosok telinganya sendiri.
"Kalo mau nurunin ngomong dulu dong! Sakit Kafaaaa!" Kara bangun sembari mengusap bokongnya yang terasa linu.
"Lho? Ra?" Kafa tampak terkejut saat berbalik. "Lo jatoh?"
Nabok gebetan pake apa sih yang bikin gak sakit?
Mendelik marah, Kara tak merespon Kafa sama sekali. Cewek itu berjalan tertatih menuju halte bus yang tadi Kafa lewati.
"Ra, hei!" Kafa menyusul, menahan lengannya lembut yang kemudian Kara tepis pelan. "Sorry, telinga gue sakit denger lo teriak, gak sengaja."
Bodo amat!
"Ra, sorry ..." Kafa berlutut didepan Kara yang sudah duduk dengan wajah tertekuk. Ragu-ragu mengambil tangan Kara lalu ia genggam erat. "Maafin gue,"
Baiklah. Catat hari ini baik-baik dibuku memori Kara. Kalau perlu sekalian di italic dan bold.
Sweet moment ever.
Kara berasa lagi ngambek sama pacar terus dibujukin.
Kara tak ingin berlarut-larut untuk sekarang. Lagipula, Kafa hanya merasa bersalah karena sudah menjatuhkannya tanpa sengaja. Melepas pelan tangannya dari genggaman Kafa, Kara mengangguk yang disambut Kafa dengan senyum lega. Lagipula, sebenarnya Kafa tidak bersalah. Kara yang seharusnya bertanggung jawab jika saja gendang telinga cowok itu pecah.
"Kita nunggu bus aja," Kafa duduk disamping Kara. Memberi jarak sekitar sepuluh centi bahkan kini makin bergeser jauh.
Mulut Kara gatal ingin bertanya kenapa. Sekarang dia jadi berfikiran yang tidak-tidak pada diri sendiri.
Jangan-jangan, dia bau badan karena hari sudah semakin sore?
Tapi gak mungkin. Kara sudah prepare jika pulang sore, maka ia akan sebisa mungkin menghindari kegiatan yang mengeluarkan keringat. Lalu saat sebelum pulang tadi, dia sempat nyemprot parfum Caca sekaligus eskulin punya Lani.
Double wangi pokoknya.
Jadi, kenapa Kafa memberi jarak sampai sejauh ini?
"Lo--"
"Ekhem!"
Kalimat Kafa terpotong kala suara lain mencelah. Menoleh kekanan, kedua sejoli itu cukup kaget melihat Adan melenggang kearah mereka dengan wajah songong khas-nya.
Adan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Mengambil tempat disisi kanan Kara, menarik kupluk hoodienya menutupi kepala, juga memasang headseat kemudian menyender santai pada tiang dibelakangnya. Matanya terpejam, sesekali bibirnya melantunkan lagu yang terputar. Hanya beberapa detik sebelum ia menyadari sedang ditatap lekat oleh dua orang yang ia ganggu 'kencan' nya.
"Kenapa?" Adan melepas headseat dari telinganya. Menegakkan tubuh lantas memangkas jarak mendekati Kara. "Gue ganggu, ya?" Tanyanya dengan seringaian.
Bulu kuduk Kara meremang. Adan sore ini seperti bukan Adan. Dengan insting menyelamatkan diri, Kara bergeser kebelakang. Dia terus berundur hingga dari balik ransel, Kara merasa sedang ditahan seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
LosoweFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
