🍃🍃
Keluarga.
Jika ditanya perihal kehidupan pribadi, semua sepakat jika keluarga adalah point utamanya.
Begitu juga Kara.
Dulu, saat pertama kali membaca novel diaplikasi novel online yang banyak menyediakan kisah remaja yang rumit, Kara pernah membayangkan dia akan menjadi salah satunya. Punya masalah keluarga yang berat, kisah cinta klise yang sedih, dan kemudian akhir hidup yang bahagia.
Kara bersumpah, dia pernah mengkhayal punya kisah hidup seperti itu.
Namun, jika dipikirkan lagi, Kara hidup didunia nyata. Dimana waktu tak bisa berlalu dengan cepat, dimana rencana manusia, tak sejalan dengan takdir Tuhan. Kara sanksi dia bisa bertahan hidup sampai sekarang. mungkin dia sudah berakhir digantungan tali atau dengan racun didalam tubuh.
Keluarga Kara baik-baik saja. Meski beberapa kali pernah melihat orang tuanya bertengkar yang alhamdulillahnya, hanya sekedar berbeda pendapat dan adu mulut dan akan berakhir dengan mengalahnya sang Papa. Lalu mereka akan kembali seperti semula.
Orang-orang yang tak begitu mengenalnya, akan berfikir Kara anak tunggal yang kesepian. Kara setuju untuk kata 'kesepian' itu. Namun untuk anak tunggal, rasanya mereka harus melihat kartu keluarga Kara terlebih dulu. Dibawah urutan namanya, terpampang jelas nama Kanu Muhaimin dengan rentang usia tiga tahun dari Kara.
Wajar memang jika sebagian orang berfikir begitu. Kanu memang tak tinggal satu atap dengan Kara. Remaja empat belas tahun itu, memilih bersekolah dimalaysia bersama atuk (kakek) dan nenek mereka. Hanya sesekali pulang ketika lebaran tiba, atau Kara dan kedua orang tuanya yang akan mengunjungi kesana.
"Kakak sihat? Lama kakak tak ada call Kanu,"
Wajah remaja empatbelas tahun itu nampak sumringah dilayar kamera saat bertanya. Hampir sepuluh tahun disana, Kara tak heran jika Kanu lebih menguasai bahasa melayu.
"Sehat alhamdulillah. Kanu gimana? Gak sakitkan? Kamu biasanya rajin banget sakit,"
Diseberang, Kanu tertawa renyah. "I'm totally okey. Don't worry sis,"
Untung Kara 'agak' jago urusan bahasa inggris sekarang. Kalau dulu, saat Kanu memulai bahasa sok pintarnya itu, Kara tanpa basa basi akan memutus sambungan.
"Atuk sama nenek apa kabar?"
Wanita dan pria lanjut usia namun masih terlihat segar bugar disebelah Kanu tersenyum hangat. "Atuk sihat. Nenek pun sihat. Ha, kamu tu, bila nak datang sini? Tak kan datang masa raya sahaja, setahun sekali baik tak payah."
Kara terkikik. Ini salah satu alasan yang membuatnya jarang menghubungi Kanu. Dia akan sangat tidak enak jika atuk sudah mulai bermain kata menyindir halus.
"Alaa, sorry atuk. Kara lagi sibuk banget sekolah, apalagi udah tahun akhir. Atuk sama nenek aja yang kesini. Bawa Kanu pulang, biar gak lupa kampung halaman."
"Hmm, pandailah kamu." Ujar nenek yang membuat Kara tertawa sedang.
"Kak, nak tau something tak?" Kanu tiba-tiba bertanya antusias.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
AléatoireFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
