🍃🍃
Menyaksikan Adan terbaring tak berdaya dibrangkar rumah sakit, Kara benar-benar tak menyangka bahwa cowok itu bisa berakhir se mengenaskan ini.
Dia bahkan sama sekali tak pernah membayangkan Adan yang biasanya berwajah datar dan bermata tajam, kini pucat pasi dengan kedua mata terpejam.
Ariq juga disana. Cowok itu bersama kedua orangtuanya juga orangtua Adan tengah diintrogasi oleh pihak keamanan setempat. Mengingat mereka adalah remaja laki-laki yang sama-sama dalam masa pertumbuhan serta Ariq jelas mengaku kalau dia dan Adan memang bertengkar karena suatu hal, peristiwa ini dimengerti oleh orangtua Adan dan tidak melanjutkan ketahap hukum.
Kara hanya duduk. Tak melakukan apapun bahkan untuk sekedar bersuara. Hari ini terlalu penuh kejutan dan itu melelahkan. Tadi, Dia mati-matian menghindari bu Fitria yang datang bersama beberapa guru lain juga guru sekolah Ariq untuk menjenguk Adan. Berbanding terbalik dengan Kafa yang terkesan biasa saja. Cowok itu bahkan dengan santainya memceritakan bagaimana mereka menemukan Adan dan Ariq bertengkar dijalanan.
Mereka bolos lho tadi. Kara akan sangat bego jika merasa tidak berdosa mengingat betapa ia dipuji karena ketaatannya pada peraturan.
Kara cukup terkejut karena bu Fitria tak bertanya panjang lebar. Guru baik hati itu hanya tersenyum lalu mengelus pundak Kafa penuh kasih sayang.
Ah, guru itu akan menjadi yang paling dirindukan calon alumni Jati Dharma nanti.
"Nggak laper?" Tau-tau, Kafa sudah berdiri dihadapannya menyorot penuh kehangatan. "Belum makan kan dari tadi?" Lanjut cowok itu sepaket dengan senyuman.
Kalau begini mah, mau nahan laper sepuluh hari juga Kara sanggup. Asal Kafa senyum begitu.
Tapi demi Allah, itu cuma ke bullshit-an imajinasi kebucinannya doang. Karena nyatanya, Kara tak tahan untuk tidak mengangguk.
"Gue beliin diminimarket depan. Mau apa?" Kafa tuh, se-gentle itu.
"Roti aja kali, ya?" Kara nyaris bergumam. Berkutat dengan pemikiran apakah roti saja bisa bikin kenyang. Karena jujur, dia belum makan apapun bahkan sarapan. Dan sekarang sudah pukul satu siang.
Seperti punya deep conected, Kafa mengerti akan keraguan itu. "Kita keluar aja kayak nya." Kata cowok itu dengan senyum tertahan seraya menoleh ketempat para orangtua berkumpul. "Gue ngomong ke mamanya Adan dulu. Sekalian pamit pulang,"
"Kalo lo masih mau disini, gue bisa makan roti aja kok." Kara tentu tak enak hati. Dilihat dari sikapnya, Kafa sepertinya masih mau disini ntah untuk apalagi. "Beneran gak papa,"
"Ra," panggil Kafa serius. "Lo tau kenapa kita disini?" Tanya cowok itu.
Kara praktis menggeleng, "nggak."
"Gue juga." Kafa nyaris tertawa andai lupa dimana mereka sekarang berada. "Gue nggak tau kenapa harus stay disini kecuali yang didalem itu bukan Adan."
"Gue pikir, lo yang pengen disini ntah karena apa." Cicit Kara pelan.
Kafa terkekeh, "Gue yang justru mikir, lo mau disini buat nungguin Adan."
"DIIHH, APAAN?!!" Kara spontan menutup mulut dengan telapak tangan setelah refleks bersuara terlalu kencang. Suster yang berlalu lalang, serta kumpulan guru-guru dan orang tua yang mengobrol pun sampai menghentikan aktivitas mereka. "Maaf, maaf." Ringisnya kemudian.
Kafa terkekeh lagi. Menahan diri untuk tidak mengacak gemas rambut hitam kecoklatan yang sedang menunduk itu.
"Iya nggak. Ya udah, ayo pulang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Remaja Kita (End)
RandomFollow boss yak..😁 cover by:Lailatulwahida07 Masa remaja Kara terlalu biasa. flat, hambar dan hampir bisa dibilang nggak ada rasanya. well, selain menjadi secret admirer Kafa, cowok ganteng plus kalem jagoan Karate dari IPA, dan jangan lupakan kesi...
