Don't Understand

140 25 7
                                        

🍃🍃

Lo sadar gak sih, Ra? Lo egois. Tukang cari perhatian, munafik, sok lugu supaya semua cowok peduli sama lo. Satu lagi yang kayaknya perlu gue kasi tau supaya lo sadar diri. Lo murah, Ra. Gue ingetin Hati-hati supaya gak jadi murahan.

"Ini apa lagi sih?!" Isakan tangis Kara terdengar kian kuat. Dia baru saja akan tenang setelah mendengar curahan hati Lani lewat sambungan video call sebentar tadi. Dan dua menit berselang, pesan sialan itu muncul lagi.

"Kenapa, nak?" Ketukan pintu beriringan dengan suara sang mama yang terdengar cemas. "Kara baik-baik aja kan?"

Kara menetralkan napasnya yang terasa sesak. Terlalu banyak menangis, membuat sesenggukan nya muncul tak terkendali. "Ihkyaaa ma! Kara ghak pahpa!"

"Kok suaranya kayak gitu? Kamu nangis?" Gagang pintu yang sengaja Kara kunci bergerak. Kara tau mamanya sedang memaksa untuk masuk. "Mama mau liat kamu Kara, buka pintunya."

Kara menelan ludah,"Kahra cegukan ma, bentar lagi ilang kok."

Mama Kara diam. Terdengar helaan napas dari luar sana, "cerita sama mama ya nak, kalo ada masalah. Jangan diem, jangan berusaha mendem sendiri, gunanya mama dalam pertumbuhan kamu ya dimasa kaya gini. Mama tau Kara anak baik, mama juga tau Kara lagi bohong, mama gak bakal maksa Kara, Kara bisa datang ke mama kapan aja. Mama didapur,"

Lalu langkah kaki mama terdengar menjauh. Kara menggigit bibir, menahan airmata yang kini merembes lagi dan sekuat hati ia tahan hingga menimbulkan rasa sakit ditenggorokan.

Kara membaca pesan itu lagi. Masih nomor yang sama. Tanpa foto profil dan keterangan lainnya. Berfikir cukup lama, seraya mengusap kasar airmata dengan punggung tangan, Kara memutuskan menghubungi pengecut yang dapat Kara pastikan masih satu gender alias perempuan.

"Ha-lo?" Kara bersuara ragu. Panggilan itu terangkat, tapi hanya keheningan yang terdengar.

Kara menarik napas, "Gue cuma pengen ngomong langsung, klarifikasi terang-terangan. Jadi, tolong, stop bersikap kayak pengecut." Sekali lagi, tak ada respon berarti.

"Gue tau lo denger apa yang gue omongin. Sekarang lo bisa keluarin semua yang lo rasain selama ini secara langsung, luahin sakit hati lo ke gue langsung ketelinga gue, silahkan, spit it all. Gue bakal terima semuanya, dengerin semua tanpa pembelaan diri." Airmata Kara jatuh lagi. Menarik napas disertai air hidung yang hampir meleleh, Kara yakin pengecut ntah siapa itu mengetahui bahwa ia sedang menangis. "Gue gak tau dosa apa yang udah gue lakuin sampe bikin lo sesakit itu. Gue bersumpah sama sekali gak ngerti semua pesan yang lo tulis, tapi ntah kenapa, gue justru ngerasain sakit yang lebih parah. Gue ngerti gimana perasaan lo, gue ngerti..."

"Untuk itu, gue cuma pengen lo tau, apapun kesalahan yang udah gue lakuin, secara sadar atau enggak, gue minta maaf. Jadi tolong stop, stop bikin pesan itu. Gue tau, maaf dari gue gak bakal bikin semuanya baik-baik aja. But, i still wanna say sorry. Once again, sorry..."

Masih keheningan yang menemani Kara. "Kita bisa ketemu kalo lo mau," tegas Kara sekali lagi, "deep talk sebagai sesama perempuan, as a friend, shall us?"

"Bullshit!"

Tut! Ponsel Kara masih menempel ditelinga. Dadanya berombak, matanya memerah dengan airmata mengalir turun hingga melewati dagu, otaknya ligat mencerna umpatan yang baru saja terdengar.

Suara itu,

Familiar.

🍭🍭🍭

"Hai,"

Wajah kalem namun terlihat fresh karena masih pagi itu membuat kedua sudut bibir Kara tertarik keatas. Dua hari kemarin, mereka jarang bertemu karena sibuk praktek jurusan. Komunikasi tak pernah terjalin, Kara sendiri heran kenapa Kafa belum meminta nomornya.

Remaja Kita (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang