Yang Terlampau Dalam

105 15 5
                                        

Share yuk, biar rame😍😍

🍃🍃

Kafa tak pernah tau masa remajanya akan se 'istimewa' ini. Melewati detik-detik terakhir dikelas duabelas, takdir mempertemukan nya dengan Kara Aurelie. Padahal kalau boleh jujur, dia sama sekali tak pernah berfikir menyukai seorang gadis untuk usianya saat ini apalagi dari kalangan IPS.

'Nggak satu jaringan'

'Ribet'

Dan banyak alasan lain yang ia lontarkan kala ditanya kenapa tak begitu menyukai berhubungan dengan gadis beda jurusan. Bukan berarti, Kafa mudah menjalin relationship dengan yang se perguruan. Untuk lebih jelasnya, Kafa tidak pernah pacaran. Hubungan paling dekatnya dengan perempuan adalah sekedar berteman.

Alasannya? Ntahlah. Dibilang alim, Kafa rasa tidak juga. Dia masih nakal, dan lumayan liar. Kewajiban juga masih sering ia tinggalkan.

Berurusan dengan yang namanya pacaran, Kafa tak pernah tertarik. Meski tetap saja, dia pernah memiliki perasaan khusus pada gadis sebelum bertemu Kara.

Itupun sudah lama. Dan sekarang mereka tetap teman sekelas, perasaan Kafa sudah hilang sepenuhnya.

Rakafa Ditya hanyalah remaja laki-laki dengan perasaan yang labil. Tetapi pada Kara, dihati kecil Kafa pernah terselip sebuah doa. Berharap sang pemilik kehidupan mendengar dan mengerti pada harapan kecilnya.

Dia ingin menemukan Kara Aurelie dalam setiap fase hidup yang akan ia lewati kedepannya.

Remaja,

Dewasa,

Hingga lanjut usia.

Seperti sekarang. Melihat Kara dari kejauhan sana, senyum simpulnya terbit lagi. Dulu, dia bahkan tak pernah peduli.

Hidup memang penuh kejutan, bukan?

"Fa," tepukan pelan dibahu dari Dennis membuat senyumannya lenyap. Menoleh sebal, Kafa mengernyit menyadari wajah Dennis yang tampak cemas.

"Lo, kenapa?"

"Kara."

Satu nama yang membuat tumpuan tangan Kafa terlepas dari balkon tempat ia berdiri. Alarm risaunya menyala, "Kara kenapa?!"

Banyak pemikiran buruk berkecamuk. Tentang Kara yang ia yakini sedang tidak baik-baik saja. Kafa menoleh lagi kelapangan, lantas menarik napas lega ketika masih menemukan Kara disana.

Hanya beberapa saat. Sebelum akhirnya, kalimat pelan dari Dennis menghilangkan kekuatannya untuk berdiri tegak.

"Anak cewek udah tau soal Kara."

🍭🍭🍭

"Ini bakal jadi amazing banget, lo bisa bayangin nggak, sih?" Decakan kagum tak henti keluar dari bibir tipis Lania Wardah. Menatap puas pada panggung setengah jadi persiapan acara perpisahan mereka dua bulan lagi.

Kara tersenyum. Dia pun sama kagumnya. Atau mungkin lebih. Membayangkan mereka berdiri diatas sana, menyabet title alumni dengan bangganya, kemudian menjadikan waktu-waktu yang sudah mereka lewati tiga tahun ini sebagai kenangan paling berarti. "Gue gak bisa berkata-kata," katanya yang dibalas anggukan oleh Lani.

"Gak usah over excited gitu Lan, lo lulus aja belom tentu." Caca mencibir kemudian. Mendapat toyoran gemas dari Rindu serta peringatan dari Kara agar tidak bicara sembarangan, cewek itu terkekeh kecil. "Iya, iya. Mudah-mudahan kita semua lulus dengan nilai memuaskan, walaupun gue males banget belajar buat UAS,"

Kara tertawa, "sama."

"Calon-calon beban negara!" Sahut Rindu seraya tertawa singkat kala teringat bahwa moment inilah yang akan paling ia rindukan beberapa bulan kedepan. Atau mungkin, sehari setelah perpisahan.

Remaja Kita (End)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang