Don't be sider
Happy Reading
*****
"Gimana? Donor darahnya udah?" tanya Gavin ketika melihat Langit dan Bintang menghampiri mereka.
Saat Bintang ingin membuka suaranya, Langit segera menahan tangannya, "udah."
"Alhamdulilah, kita disini harus tenang tungguin Bulan, harus berdoa," tutur Daniel menyemangati mereka.
Keadaan kursi tunggu di depan ruang UGD nampak sangat tegang dengan kesunyian, hanya terdengar deru nafas mereka masing masing. Satu satu merapalkan doa agar Bulan bisa bertahan dan kembali kepada mereka, yah! Semoga saja!
Lampu UGD yang tadinya berwarna merah kini berubah hijau seiring dengan keluar nya dokter yang menangani Bulan.
Bumi segera berdiri dan menghampiri dokter itu, "gimana kondisi adik saya dok? Apa dia baik baik saja?"
"Tranfusi darah berjalan dengan lancar. hanya saja, dia koma. Setelah ini akan di pindahkan keruangannya, harap untuk tenang dan tidak berisik saat menhampiri pasien nanti,"
Bagai di sambar petir di siang bolong, kaki Bumi melemas, Ia jatuh terduduk. Koma? Berapa lama? Seminggu? Sebulan? Setahun? Tuhan tolong tegar kan Bulan semasa melewati masa komannya.
"Kak, gak mau ikut ke ruangan Bulan? Itu udah di pindahin," tutur Khansa sambil menuntun Bumi agar berdiri.
Bumi tak bersuara, Ia melangkah mengikuti brankar Bulan yang di dorong menuju ruangannya di ikuti Daniel dkk di belakang.
"Mohon untuk tidak berisik, jika terjadi sesuatu kalian bisa menekan tombol di samping Brangkarnya" peringat suster itu yang mendapat angggukan dari mereka sebelum keluar dari ruangan itu.
Bumi mendekat ke brangkar Bulan, Ia kemudian duduk dan menggenggam tangan Bulan erat.
"Maaf. Harusnya lo gak usah balik buat ambil hadiah itu. Udah cukup Lan, semua yang lo lakuin buat Gue itu udah lebih dari cukup. Abang mohon, lo yang tegar, gue janji bakalan selalu lindungin lo,"
Bumi menunduk, Ia menangis. Menangis untuk perempuan kuat setelah Bunda-Nya.
"Bang, mending lo pulang dulu bersih bersih, terus istrahat. Biar Bulan kita yang jagain, lo pasti capek." tutur Daniel pada Bumi. Bumi mendongak menatap Daniel.
"Gue Abangnya dan gue juga yang bertanggung jawab buat jagain dia. Mending lo pada aja yang balik, gue disini jagain adek gue,"
Gavin berdiri, "Bang plislah, lo gak boleh egois. Bulan bakalan kecewa liat lo yang gak jaga kesehatan."
"Bang, sorry. kita tau, kita bukan siapa siapannya, tapi sebagai sahabat nya gue sama mereka juga ambil tanggung jawab disini," seru Langit meyakinkan.
Bumi berdiri dengan nafas yang memburu, "dengar yah! Gue Abangnya yang berhak lebih perhatian ke dia, gue gak peduli walau gue mati sekalipun ngurusin dia!"
Eva berdiri, menatap nyalang Bumi Ia mengacungkan telunjuk nya ke muka Bumi, "lo pulang Bang. Bulan gak bakal kenapa-napa sama gue dan mereka. lo mau waktu Bulan sadar dia marah sama lo dengan kondisi kek gini? Pikir bego!"
Katakanlah saat ini Eva kelewatan, Ia tak peduli. Semua orang memang khawatir tapi untuk di kondisi seperti ini, keegoisan akan menimbulkan masalah.
Gavin menarik Eva ke belakang kemudian Lio memegang bahu Bumi, "Bang. Gue mohon lo balik jaga kesehatan lo masih bisa balik besok buat jengukin dan jaga Bulan, biar malam ini gue sama mereka yang jaga,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit, Bulan & Bintang [ END ]
Teen Fiction[DALAM RENCANA REVISI MENYELURUH. MOHON MAAF KALAU ALUR BERANTAKAN DAN KURANG KONSISTEN] --- Bulan Aqilla Qirani Wijaya, remaja yang sudah di tinggal mati oleh ibu nya selama beberapa tahun belakangan ini. Dia hidup bersama Ayah dan Abangnya. Sang...
![Langit, Bulan & Bintang [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/236005348-64-k507655.jpg)