Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bulan-33. Bintang pergi dengan janji yang tertinggal

90 8 8
                                        

Don't be sider
Happy Reading

****

Bulan memasuki kamar tidurnya dengan langkah ringan dan wajah lesuh, sambil memegang dua pucuk surat di tangannya.

Ia meraih gagang pintu dan membukanya, setelahnya Ia masuk dan langsung merebahkan diri di kasur.

Matanya terpejam, nafasnya berusaha untuk di aturnya. Dua surat itu di angkatnya, kemudian memilih salah satu untuk di simpan dan satunya Ia baca.

Berlanjut Ia bangun dan duduk dengan posisi bersila, surat itu di bukannya dengan perlahan. Sebelum sepenuhnya terbuka, Ia menghelah nafasnya lebih dulu dan melanjutkan membuka suratnya.

Maaf

Satu kata itu yang lebih dulu nampak terlihat jelas dengan coretan tinta.

Maaf

Gua minta maaf, Lan.
Sebelum Gua lanjut, lo janji jangan nangis, ok?

Jangan salahin Bintang
Ini semua salah gua gak ngasih tau lo semua.

Gua cuma batas minta tolong sama Bintang, Gua gak mau buat lo sama yang lain sedih.

Bahagia selalu yah? Makasih udah izinin gua jadi bagian dari kisah hidup lo.

Dari awal gua tau,
Rasa lo gak sepenuhnya buat gua. Gua cuma berharap bisa bahagiain lo walau emang bukan sama gua.

Gua pamit, sorry pamitnya telat.
Gua titip lo sama Bintang,

Makasih udah mau jadi bagian dari hidup gua, lo itu Cewek tangguh yang gua kenal, pasti tangguh juga hadepin ini dan masalah berikutnya.

Sekali lagi gua Pamit, sampai bertemu di kehidupan selanjutnya.

Cairan bening itu kembali mengalir membasahi pipi dan surat itu, Bulan membanting tubuhnya ke kasur.

"Gak Lang... gue gak setangguh apa yang selama ini lo pikirin... gue capek, gue rapuh, gak ada kebahagian yang menetap sejauh yang gue raih selama ini..."

"Lo... kenapa bisa Lang, selalu terlihat baik-baik aja nyatanya gak. Gua gak setangguh lo Lang..." Ia terisak sambil meringkuk, memikirkan hal-hal yang sudah Ia lakukan sejauh ini dengan Langit.

"Bul, lo kenapa? Lo gakpapa kan?"

"Bul, kalo nikah nanti mau punya anak berapa?"

"Bul, gua sayang lo,"

"Gua sayang lo, tapi bukan berarti lo itu harus seutuhnya milik gua,"

"Bul, janji harus bahagia yah?"

Kata demi kata terngiang di pikirannya, Ia larut dalam pikiran dan tangis membuatnya tanpa sadar terlelap.

Pintu kamar nya terbuka, Bumi masuk dan menghampiri Bulan. Deru nafasnya teratur, air mata itu masih membekas di wajahnya, Bumi meraup mukanya dengan frustasi.

Langit, Bulan & Bintang [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang