Don't be sider
Happy Reading
*****
"Buk, saya mau bunga ini yah,"
"Ini, Mbak,"
Setelah membeli bunga, Bulan beranjak dari toko bunga itu dan pergi dengan mengendarai mobil yang baru di belikan oleh Ayahnya sebagai hadiah karna meraih gelar cumlaude di acara wisuda 3 bulan lalu.
Setelah wisuda kemarin, Bulan memutuskan untuk menjeda otak nya. Bersantai diri untuk sekira nya beberapa bulan kedepan sebelum melanjutkan fase baru lagi, bekerja.
Sepanjang perjalanannya ia melamun, dengan sesekali menatap bunga di sampingnya. Kali ini dia berpergian sendirian untuk ke tempat tujuan.
Teman-teman nya sudah lebih sibuk dari sebelumnya setelah wisuda, lebih fokus ke kegiatan masing-masing. Kabar baiknya, Clarissa dan Lio telah menikah dua bulan lalu, pengantin baru itu masih sibuk menghabiskan Waktu bersama. Sesekali Mereka masih berkumpul untuk hanya sekadar minum coffe bersama atau menyempatkan Waktu melakukan panggilan vidio dan masih saling mengunjungi satu dengan yang lainnya.
Bulan sampai di tempat tujuannya, dia memarkirkan mobilnya dan turun untuk berjalan hingga 4 atau 5 meter ke dalam area pemakaman. Dia melangkah kan kaki nya dengan ringan, Bulan berhenti tepat di samping nisan seseorang dan berjongkok.
Bulan tersenyum lalu mengelus nisan itu, bunga yang sedari tadi di bawanya di letakan oleh nya tepat di atas kuburan itu.
"Hai, aku kesini. Kamu...apa kabar?" Bulan berucap dengan senyum getir yang terpampang jelas di wajahnya
Bulan menunduk, menetralkan sedikit suaranya yang mungkin akan bergetar karna menahan tangins,
"Gue kangen lo, Lang."
"Gimana di atas sana? Bahagia gak? pasti Bahagia banget yah,"
"Kamu ketemu Bunda aku gak? kalo ketemu, tolong dong sampein salam rindu aku juga ke dia,"
Bulan berhenti bermonolog, dia diam menunduk dan menangis. Mengingat betapa rindu nya dia pada Langit. Dia menyesal, sungguh sangat menyesali perbuatannya yang telah di lakukan selama ini. Menyia-nyiakan Waktu bersama dengan Langit.
"Lo tau gak? banyak banget teori rumit di hidup gue sekarang...."
"Mulai dari lo, Bintang yang ngalamin kecelakaan pesawat tapi gue gak pernah liat mayatnya atau dapat info lagi soal keluarga nya juga,"
"Ada orang yang mirip sama Bintang, Lio bilang dia ketemu Waktu itu. akun tweter Bintang yang aktif,"
"Ini semua terlalu rumit buat di cerna otak gue, banyak kemungkinan dan ketidak mungkinan yang bisa terjadi"
Bulan menyudahi monolognya, ia kemudian merapalkan doa untuk Langit. Setelanya Bulan memutuskan untuk pergi dari pemakaman itu,
Bulan Kembali mengendarai mobilnya ke coffe shop untuk menikmati waktu sendiri nya walau hanya sekadar merenung memikirkan nasibnya di kemudian hari.
Di dorong nya pintu coffe shop itu, dia melangkah kan kaki nya masuk ke dalam, menelisir seisi ruangan itu sampai menemukan spot yang bagus untuk duduk.
Dia memesan choco cake dan caramel macchiato untuk menemani waktu nya di coffe shop itu.
Setelah pesanan nya datang, Bulan menyicip caramel macchiato nya dan choco cake yang sudah di hidangkan.
Bulan mengambil ponsel miliknya dan memainkan social media nya. Dia larut dengan keadaan itu sambil sesekali menyicip cake dan minumannya
waktu cukup lama berlalu di nikmati nya, Ia melirik jam di pergelangan tangan, jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Terhitung sudah hampir seharian dia menghabiskan waktu nya diluar, dia pergi pada pukul 09.00 WIB, mengingat masih ada beberapa hal yang dilakukannya sebelum akhirnya dia ke pemakaman dan ke coffe shop ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit, Bulan & Bintang [ END ]
Jugendliteratur[DALAM RENCANA REVISI MENYELURUH. MOHON MAAF KALAU ALUR BERANTAKAN DAN KURANG KONSISTEN] --- Bulan Aqilla Qirani Wijaya, remaja yang sudah di tinggal mati oleh ibu nya selama beberapa tahun belakangan ini. Dia hidup bersama Ayah dan Abangnya. Sang...
![Langit, Bulan & Bintang [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/236005348-64-k507655.jpg)