[ SEBELUM MEMBACA, DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !!! ]
> Mengandung ketegangan yang berkepanjangan
> Penakut jangan baca
"Bangunan yang orang lain lihat, tidak sama dengan yang aku lihat."
Sara Diana dan temannya, Rama datang sebagai mahasiswa b...
"Kelihatannya seperti bayangan, tetapi saat aku diam. Bayangan itu, tidak ikut diam."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Penglihatan Sara telah membawa dirinya masuk ke dalam portal alam gaib, sepasang kaki Sara menginjak reranting pohon serta dedaunan kering. Tadinya, ia memasuki kampus Bima Sakti, tetapi dengan tiba-tiba dirinya berada di tempat yang berbeda.
Sebuah bangunan tua tampak dikejauhan, Sara membasahi bibirnya ketika ingin melangkah maju. Bola mata mulai ia tujukan pada sebuah rumah, langkahnya pelan-pelan memasuki rumah itu. Sara membelalak, ia hendak menjerit tetapi kedua tangannya langsung membungkam mulutnya sendiri.
D-dia siapa, batin Sara dengan keringat dingin mengalir deras dari keningnya.
Sara melihat seseorang lelaki berbadan kekar dan berkumis tebal, tampaknya lelaki itu tengah memperbudak beberapa wanita di depannya. Sara pun mulai mendengar perkataan yang lelaki itu lontarkan, hingga tubuh Sara dibuat melemas ketika lelaki yang Sara lihat, mulai bertindak tidak sewajarnya pada wanita-wanita itu.
"Dengar! Kalian sudah tidak berguna lagi, kalian harus mati. Ah, tetapi sebelum itu kalian akan saya siksa terlebih dahulu!" kelakarnya dengan tawa.
"Ayo ikut!" Lelaki itu pun menyeret beberapa wanita yang tengah ketakutan, dan memasukkan mereka ke dalam kamar.
Sara menurunkan kedua tangannya, ia sesekali menelan ludah berat. Lantas, mulai memberanikan diri untuk melangkah mendekat. Apa yang terjadi, kenapa laki-laki itu bertindak kasar sama perempuan, batin Sara berkecamuk.
Sara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar. "AH!!" jerit Sara menutup wajahnya menggunakan kedua tangan kembali. Penglihatan Sara sangatlah mengerikan, ia pun mulai ketakutan pada saat lelaki tadi memotong jemari, sekaligus tangan wanita itu satu per satu. Hingga suara lolongan dari jeritan para wanita di sana, mulai menggema di kedua telinga Sara.
Napasnya terengah-engah, dengan penuh keraguan Sara mulai membuka mata yang sejak tadi terhalang oleh kedua tangannya. Sara tersentak ke belakang saat seorang lelaki berada di hadapannya, kedua alis Sara terpaut, bola matanya tertangkap pada pandangan lelaki itu.
"Kamu kenapa? Kok kaya orang ketakutan?" tanyanya mencoba mengusap kening Sara, yang penuh dengan keringat.
Sara menepisnya, ia menyisir pandangan ke segala arah. "Kenapa aku di sini lagi, terus tadi aku di mana?" Perasaan Sara, semakin kalut.
"Di mana? Dari tadi kamu di sini, dan aku panggilin kamu tapi kamu nggak sadar-sadar," timpal lelaki asing itu.
Sara mulai memfokuskan pandangannya, ia memandang lelaki yang sedari tadi berada di hadapannya. "Apa yang terjadi sama aku?" tanya Sara, membuat lelaki itu mengulas senyuman getir.