Chapter 11 'Vision Sara

670 77 1
                                        

"Bahkan, orang yang terluka belum tentu sudah tiada."

"Ram?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ram?"

Sara menajamkan pandangannya, langkah kakinya mundur pelan-pelan untuk menjauh dari Rama. Tidak ada raut yang terpancar di wajah Rama, bibirnya pucat dengan tatapan yang kosong.

Seketika, bola mata Sara kembali membelalak. Ketika, cairan merah kental mengalir keluar dari kedua kornea mata Rama. Kedua sudut bibir Rama terangkat begitu lebar hingga membentuk senyuman mengerikan.

"Aaaaaa!" Sara berteriak sekencang mungkin, ia berbalik dan langsung berlari begitu cepat.

Hari semakin gelap, sepasang kaki Sara masih bergerak menyusuri rerumputan liar yang lebat dihutan itu. "Koko Anton! Papah! Tolong, Sara."

Sara terjatuh akibat kakinya yang tersandung reranting pohon, ia tersungkur ke tanah basah sembari memejamkan matanya. Ringisan serta Isak tangis terdengar, Sara seorang diri di tengah hutan. Suasana yang tadinya hening dan sunyi, berubah ramai akan binatang malam yang mulai bersuara.

"Jangan menampakan wajah seram kalian, kalo kalian memang mau minta bantuan ke aku. Pasti, aku akan bantu. Tapi, tolong jangan buat aku takut," ringik Sara memeluk kedua lututnya.

"Sara, ini aku Rama ...."

Sekilas suara itu menggema pada gendang telinga Sara, bersamaan dengan angin yang berembus begitu kencang. Bergegas Sara menghapus air matanya kasar, ia meraih pohon beringin di sampingnya sebagai tumpuannya untuk berdiri.

Sara hendak berlari lagi, tetapi tenaganya sudah tidak sekuat tadi. Sehingga, ia lebih memilih berjalan pelan-pelan dengan satu kakinya yang diseret. Ada luka tepat di lututnya itu, darah segar terus mengalir keluar dari sana.

Suara tawa lantas panggilan menghentikan langkah Sara. "Sara!"

Sara mengedarkan pandangannya, ia mendongak ke atas melihat sosok perempuan tengah terbang di antara pohon-pohon jati yang menjulang tinggi. Rambut panjang, dengan kain berwarna putih melayang diudara. Sara membuang pandangannya, ia melanjutkan langkahnya. Ia tidak merasa takut, karena yang ia lihat Sarah-hantu jahil yang selalu menyerupai dirinya.

"Sara, kamu harus membantu aku!" jerit Sarah.

"Aku nggak ada waktu buat bantu kamu!" seru Sara membuka pintu, ketika sudah sampai di rumahnya.

"Koko Anton! Ko!" teriak Sara menggugah penghuni rumah itu.

"Sara, kamu sudah pulang, Nak?" tanya Liu Changhai keluar dari dalam kamarnya.

KAMPUS KERAMAT [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang