Chapter 19 'Anak Indigo!

621 77 0
                                        

"Apa yang tampak menarik di luar, belum tentu menarik di dalamnya."

"Lihat perempuan itu, kayanya dia memang keturunan dukun, atau

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lihat perempuan itu, kayanya dia memang keturunan dukun, atau ...." Seorang mahasiswi menggantungkan ucapannya, dengan tatapan sengit terhadap Sara.

"Mahasiswi itu benar-benar punya ilmu hitam, buktinya jengglot sampai dijadiin kalung."

"Ilmu guna-guna buat pelet para senior laki-laki di kampus ini, atau ilmu jengglot buat terkenal di lingkungan kampus ini."

Begitu banyak gunjingan dari berbagai mulut, ketika Sara dan Rama memasuki kampus dengan almamater yang terpasang rapih di tubuh mereka. Sebuah kalung berliontin jengglot membuat makian itu semakin mempersudut Sara, sedangkan Rama hanya bisa terdiam melihat wajah Sara tertunduk malu, sedari berjalan dari gapura menuju ruang kelas.

"Rama, apa aku lepas aja kalungnya, ya?" ujar Sara terduduk di bangku paling depan.

"Jangan, Sar. Kalung itu pemberian dari papah kamu. Jadi, kamu harus bisa menjaga baik-baik kalung itu," larang Rama ikut terduduk di samping bangku Sara, keduanya satu meja.

Sara mengerucutkan bibir memandang Rama, lantas berkata, "Tapi, Ram. Karena kalung ini, aku dihina sama anak-anak kampus. Mereka bilang aku dukun lah, aku punya ilmu guna-guna lah."

"Sara, kamu jangan pikirkan perkataan mereka. Kamu percaya 'kan sama diri kamu, kalo kemampuan kamu itu spesial dan nggak kaya yang mereka bayangkan."

Sejak tadi, kalung berliontin jengglot itu terus Sara genggam. Ia merunduk, sesekali memandang kalung yang tiba-tiba memancarkan sinar terang. Sesosok Sarah muncul dari kalung itu, ia tersenyum lebar saat Sara melihatnya.

"Kalo kamu lepas kalung itu, kamu akan jauh dari aku, Sara."

"Selamat pagi, anak-anak." Seorang dosen muda memasuki ruang kelas, Sarah pun menghilang secara mendadak.

"Pagi, Bu."

"Hari ini pertama kalinya kalian masuk ke kampus, sebagai mahasiswa-mahasiswi kampus Bima sakti. Jadi sebelum itu, Ibu akan memperkenalkan diri. Panggil Ibu dengan sebutan Mom, Leni."

"Apa ibu dosen mata kuliah Bahasa Inggris?" tanya salah seorang mahasiswa dari bangku belakang.

"Bukan, tapi Ibu suka dipanggil dengan sebutan Mom. Ibu mengajar mata kuliah Teknologi Produksi Tanaman Pangan untuk Fakultas Pertanian ini. Silakan kalian rangkum beberapa materi yang akan ibu sampaikan secara lisan, setelah itu Minggu depan bisa kalian presentasikan ke depan."

KAMPUS KERAMAT [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang