Chapter 34 'E P I L O G'

831 84 6
                                        

Terima kasih sudah membaca ceritanya hingga akhir, sampai bertemu di perjalanan selanjutnya dari kisah ini.

Salam hangat,
Nonasenduu

Salam hangat,Nonasenduu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Satu tahun kemudian ...

"Sar!!" Panggilan itu membuat Sara berbalik secepatnya.

"Aku punya hadiah buat kamu, selamat ulang tahun, ya." Sebuah kotak diberikan Rama kepada Sara.

"Ini beneran buat aku?" tanya Sara ragu-ragu untuk mengambil kotak itu.

"Iya, ini buat kamu."

"Terima kasih, Ram." Sara tersenyum lebar, saat menerima sebuah kotak dari Rama.

"Boleh aku buka sekarang?"

Sara dan Rama saling berpandangan, sorot mata keduanya terlihat begitu lekat. "Buka aja, semoga kamu suka sama hadiahnya," kata Rama. Buru-buru Sara pun membuka kotak itu, dan mengambil sepasang sepatu yang menjadi hadiah ulang tahunnya.

"Wah, sepatunya bagus banget. Aku suka, Ram, makasih banyak, ya," ucap Sara dengan senyuman manis.

"Rama." Seorang gadis menghampiri, membuat Sara langsung memasukkan sepasang sepatu itu kembali ke kotak.

"Aku baru dapat kabar dari ibu, katanya sepulang kuliah aku harus ke rumah kamu."

"Memangnya ada apa?"

"Orang tua aku dan orang tua kamu, mau membahas pertunangan kita."

Jihan Maurine, perempuan cantik yang akan menjadi calon istri dari Rama Dermaga Sanjaya. Jihan merupakan teman dekat Rama ketika di bangku SMP, lalu mengemban pendidikan SMA di luar kota. Setelah kembali, Jihan langsung melanjutkan pendidikan perguruan tinggi, di Universitas Bima Sakti. Jihan mulai memasuki kehidupan Sara dan Rama, sekitar lima bulan yang lalu.

Perjodohan antara Jihan dan Rama sempat ditentang oleh Rama, karena ia hanya menganggap Jihan hanya sebatas teman dekat di masa kecil. Dan, perasaan Rama masih jatuh kepada Sara. Sedangkan, Jihan memang sudah menyimpan perasaan lebih pada Rama sejak dulu, dan menerima dengan senang hati perjodohan itu. Orang tua keduanya pun sudah berteman lama. Sehingga, mereka menginginkan jika anak-anaknya kelak bersatu dalam ikatan pernikahan.

"Bagus kalo gitu dong, itu berarti pertunangan kalian berdua semakin dekat. Dan, kalian berdua akan segera menikah," timpal Sara sambil menyembunyikan hadiah dari Rama, di balik punggungnya.

"Iya, Sara. Dan, aku berharap setelah aku sama Rama mendapat gelar Sarjana, kita berdua bisa langsung menikah," ucap Jihan memandang Rama. Namun, pandangan Rama terus tertuju pada Sara.

"Iya, Jihan. Kamu sama Rama itu pasangan yang cocok, aku pasti akan terus mendukung kalian berdua."

Sar, seandainya nggak ada tembok besar yang menghalangi kita. Pasti, aku udah melamar kamu sebelum aku bertemu dengan Jihan lagi, batin Rama.

Ram, kamu pantas bersama Jihan. Dan, kamu harus mencintai Jihan seperti kamu mencintai aku. Aku gakpapa, kalo kamu menikah dengan Jihan. Karena aku sadar, cinta itu nggak harus memiliki, batin Sara tersenyum hambar.

"Ternyata kalian semua ada di sini, oh, iya, buat Sara ... selamat ulang tahun, ya, semoga lo cepat punya pacar," ujar Farrel menghampiri, dengan menggandeng Candy di sampingnya. Kondisi kejiwaan Candy pun perlahan membaik, dan sudah pulih setelah lima bulan dirawat di rumah sakit jiwa.

"Sara, selamat ulang tahun. Jangan lupa cari pasangan, biar nggak sendirian terus," ledek Candy memeluk Sara.

"Iya, Kak Candy. Makasih banyak sarannya, tapi Sara masih betah sendiri."

"Makasih juga, Kak Farrel."

"Wih, kotak apa ini? Jangan-jangan kotak hadiah?" tebak Farrel, yang menangkap sebuah kotak di punggung Sara.

"Ah, ini cuman kotak biasa kok, Kak. Tadi aku ambil kotak ini dari gudang kamboja, buat menyimpan buku-buku di rumah."

"Lo ke gudang Kamboja? Perasaan, gudangnya dikunci deh, dan kuncinya ada di gue," ujar Farrel membuat Sara terbelalak.

"Udahlah, Sar. Lo ngaku aja ke kita, sebenarnya kotak itu dari siapa? Pasti itu hadiah ulang tahun lo 'kan?"

"Dari aku, Kak." Rama melantangkan suaranya begitu saja.

"Dari kamu?" Jihan ikut terbelalak mendengar ucapan Rama barusan.

"Iya, nggak ada salahnya 'kan? Kalo aku kasih hadiah ulang tahun ke Sara? Lagian, Sara itu teman baik aku dari pertama kali aku masuk ke kampus ini, jadi aku kasih dia hadiah."

"Ram, gue tahu lo masih punya perasaan ke Sara," bisik Farrel mendekat, kemudian melangkah pergi.

"Gue pergi dulu, ya. Jangan lupa disimpan itu hadiahnya dari orang yang spesial," pesan Candy lalu menyusul kepergian Farrel.

"Kalo gitu, aku juga mau ke kelas, Ram. Jihan, aku duluan, ya," pamit Sara lantas pergi.

"Jihan, kamu nggak marah 'kan?" tanya Rama menghadapkan diri kepada Jihan di sampingnya.

"Aku nggak marah kok, karena kamu berhak memberikan hadiah untuk teman dekat kamu itu." Jihan berlalu pergi, meninggalkan Rama seorang diri.

"Kenapa aku harus berada di posisi kaya gini, perasaan aku masih ke Sara tapi Jihan ... aku nggak bisa menolak perjodohan ini, dan aku juga nggak bisa memaksakan keyakinan Sara cuman karena aku cinta sama dia." Rama bergumam. "Ram!! Come on!! Harusnya kamu bisa buka hati buat Jihan, dia udah tulus mencintai kamu dan dia juga menerima kamu apa adanya. Walaupun, Jihan tahu kalo sebenarnya hati kamu itu nggak buat dia. Tapi, buat Sara," lanjut Rama mengacak rambutnya brutal.

"Sesuatu yang pergi, bisa saja kembali. Sesuatu yang hilang, pun bisa datang. Karena yang pasti itu tidak ada, kecuali takdir dan maut."

***

Gimana perasaan kalian? Kalo kalian ada di posisi Rama? Mau pilih Sara, perempuan yang dicintainya. Atau pilih Jihan yang jelas-jelas mencintainya.

Mencintai atau dicintai?

Next, season dua dari cerita ini ditunggu, ya!

Kalo KAMPUS KERAMAT diterbitkan, kira-kira ada yang menunggu versi cetaknya??

KAMPUS KERAMAT [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang