[ SEBELUM MEMBACA, DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !!! ]
> Mengandung ketegangan yang berkepanjangan
> Penakut jangan baca
"Bangunan yang orang lain lihat, tidak sama dengan yang aku lihat."
Sara Diana dan temannya, Rama datang sebagai mahasiswa b...
"Aku mendengar suara tangisan, tapi tidak ada orang yang menangis."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sara dan Rama berjalan santai melewati beberapa ruang kelas, suasana pagi itu tampak sepi ditambah dengan Langit yang tampak gelap, dan gemuruh petir sesekali terdengar.
"Kayanya sebentar lagi hujan," duga Rama, saat menangkap gumpalan Mega mendung.
"Eh, Ram," ucap Sara menghentikan langkahnya tepat di pertengahan jalan.
"Kamu dengar ada suara tangisan nggak?" tanyanya kemudian.
Rama menggeleng, memandang sekelilingnya yang begitu sepi. Hanya ada mereka berdua, di lorong kooridor itu. "Aku nggak dengar apa-apa, Sar."
"Masa sih? Ini suaranya jelas banget loh, aku dengar ada perempuan nangis," kata Sara masih dihiraukan oleh Rama.
"Perasaan kamu aja kali, Sar. Udah ayo ke kelas," ajak Rama.
"Nggak, aku mau cari tahu dulu sumber suara ini dari mana. Siapa tahu, ada perempuan di sekitar sini yang lagi butuh bantuan kita, Ram."
"Nggak ada siapa-siapa di sini selain kita berdua, Sara. Lihat, lorongnya sepi cuman ada aku sama kamu," jelas Rama membuat Sara mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ram, itu ruang kelas Fakultas apa?" tanya Sara menangkap sebuah ruangan yang tampak ada mahasiswa-mahasiswi tengah belajar di dalamnya.
"Ruang kelas Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis kayanya, lihat dosennya lagi menganalisis laporan keuangan 'kan?"
Sara mendekat ke ruangan itu, dari arah luar ia dapat melihat interaksi antara dosen dengan Mahasiswa-mahasiwi di dalam sana, melalui kaca jendela besar yang ada di ruangan itu. Sementara, Rama yang melihat Sara melangkah ke arah ruang kelas itu pun ikut menghampiri.
"Aneh, kenapa bangku tengah itu dikosongin? Harusnya senior yang duduk di belakang, bisa duduk ke bangku kosong yang ada di tengah," ujar Rama membuat Sara tersentak.
Sara dan Rama terus menatap ruang kelas itu dari arah luar, sebuah kaca jendela yang berukuran besar menjadi mediasi keduanya, untuk melihat suasana di dalam ruang kelas itu. Tiba di satu waktu, Sara membelalakan bola matanya dan melangkah mundur.
"S-suara tangisan tadi berasal dari sosok perempuan di bangku kosong, yang ada di tengah itu," gumam Sara.
"Sar, kamu lihat apa?" tanya Rama bingung.
Jari telunjuk Sara mengarah pada bangku kosong yang berada di dalam ruang kelas tersebut, bangku yang letaknya tepat di pertengahan antara Mahasiswa-mahasiswi. "Ada sosok perempuan di bangku kosong itu, Ram. Tapi, kenapa perempuan itu nangis?"