[ SEBELUM MEMBACA, DIHARAPKAN FOLLOW TERLEBIH DAHULU !!! ]
> Mengandung ketegangan yang berkepanjangan
> Penakut jangan baca
"Bangunan yang orang lain lihat, tidak sama dengan yang aku lihat."
Sara Diana dan temannya, Rama datang sebagai mahasiswa b...
"Bukan hanya dia, tapi mereka juga bisa melihat keberadaanku."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiba di kampus itu; kampus keramat, rumornya. Penglihatan Sara tidak mempertandakan apa pun, ketika di terminal bus Sara tidak melihat 'mereka' bahkan saat ini Sara dibuat mematung karena suasana kota yang berbeda.
Sunyi, tidak ramai seperti biasanya. Kendaraan yang berlalu-lalang pun melaju ke berbagai arah tanpa membunyikan suara bising, begitu juga dengan pejalan kaki yang berjalan santai di setiap trotoar. Sara menyeberang jalanan yang tampak sepi, pandangannya pun terus menyisir bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya.
"Rama, di mana?" tanya Sara sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Mba, jangan berdiri di sana. Menghalangi zebra cross, akan menghambat pejalan kaki lainnya." Suara berat membuat Sara menengok ke belakang, suara itu bersumber dari seorang satpam yang berjaga di gapura Universitas Bima Sakti.
Sara memutar bola matanya malas, ia menggerutu, "Lebih baik aku masuk aja, daripada menunggu Rama di sini bisa-bisa kena omel satpam itu terus."
"Loh, Pak!" seru Sara membelalak, ketika satpam menutup gapuranya. "Kenapa ditutup?" tanya Sara.
"Udah siang, Mba, sebentar lagi ada orientasi calon mahasiswa-mahasiwi baru di kampus ini," katanya sesekali mengusap kumis tebalnya yang melengkung di bawah hidung.
"Saya juga calon mahasiswi baru di kampus ini, Pak!"
"Terus kenapa nggak masuk," ujarnya membuat Sara berdecak.
"Gerbangnya ditutup, gimana saya masuk."
"Salah Mbanya sendiri kenapa dari tadi berdiri di sana," sanggahnya lalu memasuki post satpam.
"Menyebalkan!" seru Sara berdiam diri di depan gapura, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Karena Rama, aku jadi nggak bisa masuk," imbuhnya memajukan bibir.
"Masuk lewat pintu belakang aja," saran seseorang meletakkan tangannya di bahu Sara.
Bergegas Sara berbalik, bertatap muka dengan orang yang ada di belakangnya. "RAMA!" teriak Sara mendelik.
"Maaf, udah buat kamu menunggu lama dan kamu jadi nggak bisa masuk karena aku," katanya menyeringai senyuman.
"Ke mana aja?!" tanya Sara menatapnya tajam.
Rama tidak menjawabnya, ia membasahi bibir bawahnya. Lalu, meraih tangan Sara yang masih berada pada lipatan. "Ayo ikut aku," ajaknya melangkah bersama.