Sudah hampir dua belas tahun, saya dan Arum bertetangga. Selain menjadi tetangga dekat, kami juga satu sekolah. Bukan hanya kami berdua yang satu sekolah, tetapi dengan Fariz juga. Saya dan Fariz satu tahun lebih tua dari Arum. Disekolah, kami menjadi seniornya dan Arum menjadi junior kami. Selain satu sekolah, saya dan Arum satu kampus berbeda kelas. Sedangkan Fariz, kembaran saya memilih kuliah dikampus luar daerah.
Sebelumnya, tepatnya saat zaman SMA. Arum pernah menaksir saya. Saya tidak tahu kapan tepatnya Arum menyukai saya. Saya juga tidak tahu Arum menyukai saat dirumah atau disekolah mulai menyukai saya. Yang saya tahu, Arum menyukai saya. Pada saat saya duduk dibangku kelas tiga, sedangkan Arum duduk dibangku kelas dua. Arum pernah menyatakan perasaannya ke saya. Waktu itu, Arum menyatakannya saat di taman belakang sekolah dan bertepatan dengan Fariz sedang tidak masuk karena sakit.
Saya tidak tahu mengapa Arum menyatakan perasaannya saat Fariz tidak ada. Memang kebetulan atau disengaja. Karena dulu, Fariz sering bersama saya. Ke manapun saya pergi, Fariz selalu ada di samping saya. Bahkan saya dan Fariz selalu satu kelas. Selain itu, kami juga satu organisasi, yaitu OSIS. Dan lebih uniknya, saya terpilih menjadi ketua OSIS dan Fariz terpilih sebagai wakilnya saat pemilihan OSIS. Sampai sekarang, saya masih mengingatnya. Anehnya, itu menjadi hal yang lucu bagi saya. Bagaimana bisa anak kembar bisa ikut satu organisasi disekolah dan saat pemilihan ketua-wakil OSIS, kami berdua yang terpilih sebagai ketua dan wakil. Bukannya salah satu dari kami yang terpilih, tetapi kedua-duanya terpilih.
Waktu itu, saat Arum menyatakan perasaannya ke saya, saya menolaknya. Saya menolak karena hati saya sudah jatuh ke Rahma. Walaupun Rahma lebih muda sepuluh tahun dari saya, saat Rahma masih kecil dan saya sudah remaja, saya menyukainya. Anehnya lagi, semakin usia saya bertambah, hati saya mantap memilih Rahma sebagai perempuan yang nantinya akan saya nikahi. Padahal, saya belum pernah bertemu dengannya lagi, dulu.
Selain itu, saya tahu Fariz menyukai Arum. Fariz mulai menyukai Arum saat pertama kali kami bertiga pergi ke perpustakaan Nasional. Entah kapan tepatnya, saya lupa. Sudah lama sekali. Namun, ketika saya menolak Arum. Satu bulan kemudian, Arum mulai memanggil saya dengan nama Fariz, sedangkan Fariz dipanggil Fahri oleh Arum. Saya tidak tahu mengapa Arum melakukan hal itu. Padahal, setahu saya, ingatan Arum sangat bagus. Kemudian, Arum selalu salah memanggil nama kami ketika saya dan Fariz sedang tidak berjalan bersama. Hingga sekarang Arum memanggil salah nama kami. Lebih tepatnya, menukarnya.
Sejak Arum menukar nama kami berdua. Fariz mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya. Padahal, Fariz berniat menyatakan perasaannya saat tahun baru tiba.
Kini, saya sudah tahu alasan mengapa Arum melakukan hal itu. Alasannya sederhana, mungkin Arum hanya ingin lebih dekat dengan saya tanpa harus bersikap canggung. Saya mengetahuinya tidak secara langsung. Saya hanya mengambil kesimpulan sendiri. Itu alasan Arum yang pertama yang saya simpulkan. Alasan atau kemungkinan yang selanjutnya, Arum sudah mengetahui mengenai Fariz yang menyukai dirinya dan tidak ingin bersikap canggung dengan Fariz. Untuk alasan yang sesungguhnya, saya tidak tahu hingga sekarang. Saya pun tidak berniat untuk bertanya pada Arum.
Atau mungkin, kini perasaan Arum terhadap saya sudah menghilang dan tergantikan dengan Fariz? Karena sudah cukup lama sekali Arum salah memanggil nama kami berdua. Mungkinkah saya dan Fariz jadi tertukar dimata Arum? Padahal, saya dan Fariz memiliki perbedaan fisik. Terlebih lagi, Arum lebih sering menghabiskan waktu bersama saya karena kami satu kampus, satu fakultas, satu kejuruan, hanya berbeda kelas. Entahlah, saya bingung. Saya hanya bisa mengambil kesimpulan dari banyaknya asumsi yang saya miliki.
Fariz, kembaran saya ini banyak sekali disukai oleh para kaum hawa. Mulai dari anak perempuan disekolahnya, dikampusnya, atau dikantornya. Ada saja yang menyukainya. Tapi, anehnya, satupun tidak ada yang bisa menyentuh hati Fariz. Hanya Arum yang bisa menyentuh hatinya. Hingga sekarang. Sudah hampir sebelas tahun Fariz memendam perasaannya untuk Arum.
Kalau dipikir-pikir, ternyata kami memiliki kesamaan perihal hati dan wanita. Saya ataupun Fariz sama-sama memendam perasaan dan menjaga hati untuk satu wanita saja.
Hanya itu yang bisa saya ceritakan tentang Arum dan sedikit kisah dari kembaran saya.
Sepulang sekolah, saya mengajak Rahma sebentar ke kafe. Saya berniat menceritakan tentang Arum ke Rahma. Karena tadi pagi, Rahma terlihat sangat bingung sekali ketika mendengar Arum memanggil saya dengan nama Fariz.
Saya mempersilakan Rahma dan duduk dan menyuruhnya untuk memesan makan atau minum. Terserah apa maunya Rahma saja.
"Mau makan, apa?" Saya bertanya dikala Rahma sedang melihat daftar menu. Dia menggeleng. "Lalu, minum?"
"Samakan saja dengan pak Ramdan."
Saya mengangguk. "Baiklah." kata saya. "Kamu benar tidak mau makan? Memangnya tidak lapar?" tanya saya. Dia menggeleng lagi. Saya memanggil waiter dan memesan dua gelas minuman yang sama. Lalu, waiter itu pergi menyampaikan pesanan ke dapur.
"Saya mau menceritakan sedikit tentang Arum yang memanggil saya dengan nama Fariz." ucap saya. "Saya ingin memperjelasnya." Rahma mengangguk.
"Sebenarnya, Arum menyukai Fariz. Tapi, karena kami kembar, jadi Arum selalu salah menyebut nama kami berdua. Saya Fariz, sedangkan Fariz adalah Fahri."
Bagaimana saya bisa memberikan asumsi yang berbeda lagi ke Rahma? Mengapa hal ini cukup sulit untuk dipahami?
Tidak lama kemudian, waiter kembali sambil membawa dua gelas minuman yang sama. Sesuai dengan pesanan kami. Waiter tersebut menaruh dua gelas minuman di atas meja. Setelah itu, waiter itu pergi menerima pesanan dari pelanggan yang lainnya.
"Tapi, pak ustadz Ramdan. Kalau benar ustadzah Arum menyukai kak Fariz, kenapa harus salah menyebut nama? Kan, ustadzah Arum suka sama kak Fariz, seharusnya ustadzah Arum bisa mengenalinya, dong? Kalau kayak begitu, artinya ustadzah Arum menyukai pak Ramdan bukan kak Fariz."
"Kenapa kamu bisa mengasumsikannya seperti itu?" tanya saya penasaran.
"Ya, sederhana. Dari cara ustadzah Arum yang salah mengira pak ustadz Ramdan itu kak Fariz, sedangkan kak Fariz itu pak ustadz Ramdan."
"Tapi, Rahma. Arum bisa mengenali kami saat kami sedang berjalan bersama."
"Bisa saja ustadzah Arum sedang mempermainkan kalian, ya kan?" Saya tertegun mendengar kesimpulan yang di sampaikan begitu saja oleh Rahma.
"Arum bukan orang yang seperti itu, Rahma. Saya kenal dengan Arum. Tidak mungkin Arum mempermainkan kami berdua."
"Lalu, bagaimana dengan pak ustadz Ramdan? Apa pak ustadz menyukai ustadzah Arum?"
Saya bergumam cukup panjang. "Tidak. Saya tidak menyukai Arum. Ada wanita lain yang saya suka. Saya akan melamarnya ketika wanita yang suka sudah menyelesaikan pendidikannya. Jadi, saya harus menunggunya hingga lulus dari sekolah." Rahma mengangguk sambil berkata "oh". Saya pun tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Espiritual[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
