bab 17. Kesalahan Saya

310 20 0
                                        

Setelah satu minggu tinggal di rumah umi, kini saya bersama dengan Rahma dan Arum sudah pulang ke rumah. Rumah yang dulu hanya ditempati oleh saya berdua dengan Rahma kini ditempati oleh kami bertiga. Sejujurnya, saya merasa tidak enak dengan Rahma, ia pasti merasa tidak nyaman akan kehadiran Arum di rumah kami. Tapi, saya percaya Rahma dapat mengatasi rasa ketidaknyamanan itu, karena ia adalah Rahma, gadis kecil saya.

"Bu Arum bisa tidur di kamar yang ini," kata Rahma memberitahu.

"Yang di sebelahnya, itu kamar kalian?" tanya bu Arum.

Saya cukup terkejut ketika Arum mengajukan pertanyaan seperti itu. Tentu saja kamar yang satunya lagi adalah kamar kami berdua, saya dan Rahma. "Kalau kamu ada perlu sesuatu, panggil saya atau Rahma saja," kata saya yang tidak menghiraukan pertanyaan Arum.

Sebelum masuk ke kamarnya, Arum menatap saya. "Ada apa?" tanya saya.

"Mulai hari ini dan seterusnya, aku yang akan mengurus bagian dapur. Seperti memasak, menyiapkan makanan, dan sebagainya. Boleh?" tanyanya. Saya menggaruk tengkuk saya yang tak gatal. "Sebelumnya, Rahma sudah membahas hal ini ke aku. Kami akan berbagi tugas," jelasnya. Lalu, saya melihat ke Rahma dan ia mengangguk.

"Saya senang kalian berbagi tugas rumah. Tapi, Rum. Untuk saat ini, Rahma tidak bisa melakukan semua tugas rumah yang lainnya. Karena dia harus belajar," kata saya yang peduli akan pendidikan Rahma dan tentu saja Rahmanya. Saya tidak ingin Rahma lelah. Semakin bertambahnya orang, pasti cucian yang harus di cuci semakin banyak.

Arum pasti mengerti apa maksud saya. Maka dari itu, ia pun berkata, "Aku tau kok, apa maksud kamu. Aku akan mencuci pakaianku sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir Rahma akan kelelahan." Saya pun mengangguk. Saya bersyukur Arum bisa memahami saya dan pengertian.

"Kalau memang Rahma sudah setuju. Saya akan setuju saja. Lagipula, sekarang rumah ini adalah rumahmu juga," kata saya. Tanpa saya sadari dan tanpa disengaja, saya telah menyakiti perasaan Rahma.

Kemudian Arum masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Setelah itu, saya dan Rahma masuk ke dalam kamar kami berdua. Saat telah berada di dalam, saya mengunci pintu kamar. Rahma sudah duduk di tepi kasur. Selesai mengunci pintu, saya duduk di sampingnya. Saya perhatikan, Rahma terlihat sedih. Saya tidak tahu apa yang telah membuatnya sedih kali ini. Tapi, jika dipikir-pikir, saya sudah sering membuatnya sedih dan sering sekali menyakitinya, baik disengaja maupun tidak disengaja.

"Ada apa, Rahma?" tanya saya. "Kamu baik-baik saja?" Sejak saya menikahi Arum, Rahma lebih banyak terdiam. Tidak ada lagi Rahma yang saya kenal.

"Cincin yang bagus," ucap Rahma dengan suara pelan, namun saya masih bisa mendengarnya.

"Astaghfirullah." Saya segera melepaskan cincin yang melingkar di jari manis saya. Cincin yang saya pakai adalah cincin pernikahan saya dengan Arum. "Rahma, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud menyakiti kamu," kata saya merasa bersalah.

Rahma tersenyum kecut. "Tidak apa, pak," katanya. "Pak Ramdan bisa memakainya," lanjutnya.

Saya menggeleng. "Tidak, Rahma. Saya akan memakai cincin pernikahan kita," kata saya. Rahma tidak menjawab. "Rahma," panggil saya.

"Ya?"

"Malam ini saya akan tidur di kamar Arum. Jika kamu keberatan, saya tidak akan tidur di kamarnya," kata saya dengan hati-hati.

"Rahma baik-baik saja," jawabnya sambil memaksakan senyum diwajahnya.

"Tapi, Rahma."

"Rahma tidak boleh egois, bukan?" katanya yang membuat saya sedikit tidak paham. "Rahma harus bersikap dewasa, tidak boleh kekanak-kanakan. Ya, kan?" Saya terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang