Meskipun saya telah mengetahui, bahwa Rahma telah dilamar oleh laki-laki lain, saya tetap bertanggungjawab dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai guru ngaji. Ya, saya menjadi guru ngaji Rahma dan Zaki lagi. Karena tidak lama setelah saya kembali, abi Dzul meminta saya untuk menjadi guru ngaji anak-anaknya lagi. Dengan perasaan yang campur aduk, saya menerima permintaan Abi Dzul.
Saat saya mengajar kembali, saya tidak percaya kalau saya juga akan mengajar Yumna. Namun, saya merasa senang, Yumna ada keinginan untuk mengaji lagi, selain di sekolah, waktu itu. Saya mengajar pun sudah lebih dari tiga bulan. Tidak terasa memang, karena waktu berjalan begitu cepat. Bahkan, waktu pernikahan Rahma tinggal dua minggu lagi, dan saya telah menerima surat undangan resminya.
Sungguh menyakitkan ketika mendapatkan dan menerima undangan pernikahan secara langsung dari orang yang kita sayang.
***
Satu minggu kemudian. Empat hari sebelum pernikahan Rahma. Saya telah mendengar kabar tentang batalnya pernikahan Rahma dengan calon suaminya yang bernama Bara. Alasan batalnya pernikahan Rahma adalah Bara yang tidak menerima masa lalu Rahma, masa lalu yang telah saya ketahui karena saat itu, saya berada langsung di tempat, menemaninya di rumah sakit, bahkan sampai menjadi tempat ceritanya kala itu di mana Rahma tidak dapat menceritakannya pada Zaki.
Jujur, disisi lain saya ikut merasa sedih ketika mengetahui pernikahan itu batal beserta alasan pernikahan itu batal. Tapi, disisi lainnya lagi saya merasa senang karena orang yang sayangi akhirnya tidak menikah dengan laki-laki lain. Egois, bukan?
Hari ini saya akan pergi mengajar ke rumah Rahma. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Saya tidak pandai menyembunyikan perasaan senang saya.
***
Saya sudah berada di rumah Abi Dzul, tepatnya di ruang tamu bersama dengan Rahma. Kami berdua sedang menunggu Zaki dan Yumna. Saya diam-diam memperhatikan wajah Rahma yang tertunduk. Saya tidak tahu mengapa Rahma menjadi murung dan terus menunduk. Padahal, saya bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya dan berpura-pura kalau saya tidak tahu apa-apa.
"Rahma," panggil saya. Ia menoleh ke arah saya. Saya kira, Rahma tidak akan melihat ke arah saya saat saya panggil.
"Ya, pak?"
"Kamu sakit?" tanya saya. Ia menggeleng. Tidak lama kemudian, Zaki datang dari dalam, dan Yumna datang lima menit kemudian. Saya pun memulainya dengan membaca ta'audz dan basmalah.
Satu jam kemudian. Saya mengakhiri pembelajaran hari ini dengan membaca shadaqallahul 'adziim. "Ada yang ingin saya bicarakan," kata saya.
"Apa itu, pak?" tanya Yumna.
"Bukan hal penting. Saya sebenarnya ingin cerita. Curhat gitu, lho," jelas saya.
"Silakan saja, pak," kata Yumna lagi.
"Saya telah dijodohkan oleh orang tua saya dengan anak dari teman lamanya," kata saya memberitahu.
"Terus, pak?" tanya Yumna, lagi. Saya menahan diri saya untuk tidak tersenyum. Lucu saja, saya berharap Rahma yang merasa penasaran, tetapi Yumna yang merasa penasaran. Namun, saya tidak merasa kecewa karena sudah saya memahami sifat Yumna yang memang ingin tahu.
"Selamat, ya, pak," ucap Zaki. Saya mengangguk, lalu saya melihat ke arah Rahma untuk melihat respons seperti apa yang akan diberikan oleh perempuan itu. Rahma menatap saya dengan tatapan datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Spiritualité[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
