Setelah kehilangan Arum, hari-hari saya bertambah semakin sepi. Suasana rumah hanya dipenuhi dengan suara anak-anak saya yang selalu bertengkar karena hal kecil. Hari ini, Ardi dan Radit akan menginap di rumah saya untuk beberapa hari. Setelahnya akan kembali ke rumah ibu saya.
Keduanya sudah datang di rumah saya yang besar, namun sepi. Saya berniat ingin menjual rumah saya yang sekarang dan membeli rumah baru yang lebih kecil, lebih sederhana dari ini. Radit membawakan mainan baru dan cemilan untuk anak-anak saya begitu juga dengan Ardi.
Ardi adalah adik kandung dari Arum. Hanya saja, selama ini adiknya tinggal di luar negeri bersama pamannya. Hubungan antara Arum dengan adiknya juga tidak baik-baik saja. Maka dari itu, saya baru tahu Arum memiliki seorang adik satu tahun yang lalu, ketika Arum dirawat di rumah sakit. Itulah sedikit kisah tentang keberadaan Ardi di dalam cerita saya.
"Kalian sudah makan?" tanya saya yang kebetulan sedang ingin membuat makan siang untuk anak-anak. "Kalau belum, biar saya masakan untuk kalian."
"Tidak usah, paman. Sebelum datang ke sini, kami sudah makan di rumah," jawab Radit.
"Kalau begitu, saya tinggal masak dulu. Kalian istirahat saja dulu," kata saya.
"Kami akan main sama anak-anak," kata Ardi.
"Oh. Baiklah."
***
Anak-anak sudah tidur di kamarnya. Setelah menidurkan keduanya, saya pergi ke teras dan berniat duduk dibangku yang ada di teras. Saat saya tiba, ternyata sudah ada Ardi dan Radit duduk di sana. Mereka telah mendahului saya. Padahal, saya sedang ingin sendiri. Saat saya berbalik, Radit memanggil saya. Saya pun terpaksa menghampirinya dan ikut duduk bersama keduanya dibangku teras.
"Sebenarnya, kami datang ke sini karena permintaan ibu," ucap Ardi.
"Saat kalian pulang nanti, bilang ke ibu, saya hidup dengan baik selama sebulan ini," kata saya. Setelah itu, kami bertiga saling terdiam sambil memandangi langit malam.
Sepuluh menit saling terdiam. Radit memulai pembicaraan dengan memanggil saya. "Ada apa?" tanya saya.
"Mengenai Rahma ... Dia akan ke luar negeri besok," kata Radit memberitahu.
"Biarkan saja. Sudah tidak ada urusannya lagi dengan saya," jawab saya sedikit acuh. Saya sudah terlalu lelah dengan perasaan saya yang selalu dipermainkan dengan keadaan.
"Jika boleh jujur. Sebenarnya, Radit sudah cukup lama menyukai Rahma," ucap Radit mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya. Saya sudah tidak terkejut lagi dengan pernyataan Radit, karena saya sudah menduganya dari awal. "Makanya, waktu kalian berdua menikah, Radit tidak hadir. Radit belum siap waktu itu, terlalu menyakitkan," katanya lagi. Baik saya maupun Ardi, kami hanya mendengarkan saja.
"Paman," panggil Radit.
"Ya?"
"Kalau suatu saat nanti Radit menikahi Rahma, bagaimana?" Radit bertanya sambil melihat ke arah saya. "Apa tidak masalah?"
"Dit, itu terserah pada kamu dan Rahma. Jika Rahma mau menikah dengan kamu, silakan saja. Saya tidak berhak melarangnya," jawab saya cukup lama.
"Apa yang kalian suka dari sosok Rahma? Mengapa banyak yang menyukainya?" tanya Ardi.
"Susah di jelaskan, Di. Lo bakal tau setelah lo bertemu dengannya." Radit yang menjawab.
"Saya izin masuk terlebih dulu," kata saya.
***
Mendengar pernyataan Radit tadi, membuat saya sesak. Ada rasa kesal yang tidak dapat saya ungkapkan. Karena saya bukan siapa-siapanya lagi. Saya hanya sebagian masa lalunya, masa lalu yang pernah membuatnya sangat terluka. Dan saya masih merasa bersalah akan hal itu.
Saya membuka kunci laci yang sudah lama terkunci. Saya tidak pernah membukanya selama ini. Saya mengeluarkan sebuah kotak. Di dalam kotak itu terdapat beberapa foto. Foto-foto itu adalah foto Rahma. Foto yang saya ambil diam-diam ketika dia sedang tidur dan ketika dia sedang bermain bersama adiknya. Ada juga foto yang saya ambil secara terang-terangan ketika sedang pergi liburan bersama. Melihat foto-foto itu, saya tersenyum miris. Seandainya waktu bisa diputar kembali, saya ingin kembali ke masa-masa itu, masa-masa saya masih bersama dengan Rahma.
Ya Allah.
Selain foto-foto Rahma yang saya cetak dari handphone saya. Ada satu foto yang saya ambil dari handphone Rahma yang kemudian saya cetak dan saya simpan dengan sebaik mungkin. Foto itu merupakan gambar janin yang ada di dalam perut Rahma yang berasal dari hasil rekaman USG. Rahma tidak tahu kalau saya juga memilikinya.
"Maafkan ayah, sayang," ucap saya lirih. "Ayah tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Tolong jangan salahkan ibumu. Ibu kamu sama sekali tidak salah, sayang." Saya kembali menangis. Rasa sakitnya masih terasa hingga saat ini. Jika saya merasa sangat sakit sekali. Rahma pasti merasa lebih sakit lagi dibanding saya. Saya harap, Rahma bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Terlebih lagi, Rahma akan pergi ke luar negeri. Semoga Rahma bisa menemukan kebahagiannya di sana dan hari-harinya dipenuhi kebahagiaan. Hanya itu doa saya dan harapan saya untuk Rahma. Di sini saya juga akan menjalani kehidupan sehari-hari saya dengan lebih baik lagi sebagai seorang ayah dari dua anak.
~SELESAI~
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Spiritualité[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
