bab 12. Datang Ke Rumah

109 12 0
                                        

Setelah saya mengungkapkan perasaan saya ke Rahma. Ke esokan harinya, ba'dha ashar, saya datang ke rumah Abi Dzul bersama dengan keluarga saya dengan niat baik saya, yaitu melamar Rahma.

Sebelum datang melamar hari ini, sebelumnya saya sudah membicarakannya terlebih dulu dengan orang tua saya. Saya berbicara dengan orang tua saya juga semalam, tepat setelah pulang dari acara pernikahan temannya Rahma. Kepada orang tua saya, saya bilamg, besok saya ingin mengkhitbah Rahma. Kedua orang tua saya sempat terdiam, karena dadakan jadi mereka merasa bingung. Tetapi Alhamdulillah, pada akhirnya kedua orang tua saya menyetujuinya. Alhasil, kedua orang tua saya, terutama ayah, menyempatkan waktu untuk saya dan menemani saya datang ke rumah Abi Dzul. Bahkan, Fariz juga ikut menemani saya.

Abi Dzul dan istrinya menyambut saya dan keluarga saya dengan hangat. Mereka juga sudah tahu mengenai niat baik saya, karena setelah mendapat persetujuan dari orang tua saya, saya langsung memberi kabar kepada mereka.

Sedangkan Rahma, saya juga sudah memberitahu perempuan itu. Tadi pagi, setelah shalat subuh, saya mengirimi pesan ke Rahma. Saya berpesan, jika tidak ada kelas, jangan ke mana-mana, jika ada kelas, tolong segera pulang, karena saya dan keluarga saya akan datang dengan niat baik. Jadi, kemungkinan perempuan itu mengerti apa maksud kedatangan saya pada sore ini.

Rahma menyajikan minuman dan makanan ringan di atas meja, di ruang tamu. Selesai menaruhnya di atas meja, Rahma berdiri. Diam-diam saya memerhatikan wajah Rahma yang sedikit gugup.

"Rahma, sini duduk nak," kata umi, ibunya Rahma. Rahma mengangguk dan duduk di antara uminya dan Abi Dzul.

"Rahma, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan dengan kamu," ujar ayah saya. "Sebelumnya kami minta maaf karna sudah menyembunyikan sesuatu ke kamu. Yaitu, menjodohkan kamu dengan Fahri," lanjutnya.

"Abi dan umi juga minta maaf karna sebelumnya tidak memberitahu kamu soal ini. Maaf ya, nak?" kata abi Dzul pada Rahma sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut.

"Ayah dan abi kamu sudah lama sekali merencanakan perjodohan ini. Dan sebenarnya, kami ingin membicarakan dan memberitahumu setelah kamu UAS di semester pertama ini. Tapi, setelah kami tau kamu akan dinikahi laki-laki lain, kami pun mengurungkan niat kami untuk memberitahu kamu," ucap ayah saya.

"Rahma. Kami, terutama ibu. Ibu ingin sekali kamu menjadi menantu ibu. Bahkan ibu akan menjadikan kamu sebagai anak ibu, sama seperti Anisya. Anak perempuan ibu," kata ibu saya dengan senyum tulusnya.

"Rahma," kali ini Fariz yang memanggil Rahma. Entah kapan saya akan mendapatkan untuk berbicara.

"Iya, kak?"

"Kamu tau, nggak?" kata Fariz. Saya langsung menatap Fariz, menatapnya dengan harapan, dia tidak akan mengatakan sesuatu yang aneh ke Rahma. "Setelah tau kamu mau nikah dengan laki-laki lain. Fahri hampir saja membatalkan perjodohan ini. Kamu tau nggak, alasannya karena apa?"

"Apa, kak?"

"Alasannya, yaitu ingin melihat kamu bahagia, meskipun bahagianya bukan karena dia. Fahri pernah bilang ke ayah dan ibu seperti ini, 'Kalau memang jodohnya Rahma adalah Bara, saya ikhlas untuk melepasnya. Saya tidak ingin membuat Rahma merasa terbebani dengan perjodohan ini. Saya tidak ingin Rahma merasa terpaksa menikah dengan saya. Karena, jika menjalani kehidupan rumah tangga dengan terpaksa, Rahma akan membenci saya dan semua tidak akan berjalan dengan lancar. Jadi, tolong batalkan perjodohan ini jika memang jodohnya Rahma adalah Bara'. Gitu katanya," jelas Fariz. Saya langsung tersipu malu. Saya melihat ke arah Rahma yang sedang melihat ke arah saya. Saya langsung memalingkan wajah saya sambil menahan diri saya untuk tidak salah tingkah.

Kemudian, saya menyikut Fariz yang berada tepat di samping saya. Fariz tersenyum sambil meringis kesakitan. Lalu, tiba-tiba saya mendengar suara isakan. Saya langsung menoleh ke Rahma. Bukan hanya saya, tapi semua tatapan langsung tertuju pada Rahma.

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang