Hari ini hari terakhir Rahma menginap. Sehabis maghrib, Zaki akan datang menjemputnya. Sorenya, kakak perempuan saya beserta suami dan anak, juga Radit datang kerumah. Kakak perempuan saya bernama Anisya. Saya biasa memanggilnya kak Isya. Jarak usia kami tidak begitu jauh, hanya dua tahun saja.
Kak Isya dan keluarga kecilnya datang hanya sekedar untuk mengantar Radit menginap dirumah Ibu, sekaligus main sebentar dirumah Ibu supaya Ibu bisa bermain dengan cucunya. Nanti malam, sekitar jam sepuluh, kak Isya sudah pulang dengan suami dan anaknya.
Kak Isya sudah memiliki seorang anak. Usianya lima tahun. Dan suaminya kak Isya biasa saya panggil bang Fajar. Menurut saya, bang Fajar beruntung memiliki istri seperti kak Isya. Karena kak Isya memiliki sikap dewasa dan pengertian. Kadang saya suka iri dengan mereka berdua. Karena mereka berdua terlihat sangat serasi dan mereka juga saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Jika suatu saat saya menikah, saya ingin seperti kak Isya dan bang Fajar.
Yang sedang dibicarakan pun datang. Mobil bang Fajar terparkir di halaman. Kak Isya turun dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk anaknya yang duduk dibagian penumpang belakang bersama Radit. Saya menghampiri mereka, bermaksud menyambut kedatangan mereka.
Saya memeluk keponakan kecil saya yang bernama Juna. Setelah puas memeluknya, saya mencubit pipinya dengan gemas.
"Kamu sudah pantas punya anak. Jadi, kapan kamu menikah?" kata Kak Isya yang berdiri di belakangku. "Kak Isya heran deh, sama kalian berdua. Kalian sudah tua, sudah waktunya nenikah. Kalian juga sudah mapan. Tapi, satupun dari kalian bawa cewek kerumah atau ngenalin cewek ke kakak."
Saya membawa Juna ke dalam gendongan saya. Saya juga tidak menghiraukan perkataan kak Isya yang selalu menanyakan saya ataupun Fariz kapan menikah. Saya berjalan duluan masuk ke dalam rumah. Kak Isya dan bang Fajar mengikuti dari belakang, begitu juga dengan Radit.
Diruang tamu, saya menurunkan Juna dari gendongan saya. Membiarkannya duduk dibangku. Saya pamit ke dapur untuk memberitahu Ibu kalau kak Isya dan suaminya sudah datang.
Setelah memberitahu Ibu. Saya berniat pergi ke kamar saya. Namun, langkah saya harus terhentikan. Sebuah objek yang membuat saya harus menghentikan langkah saya, yaitu Rahma yang sedang mengobrol dengan Radit. Mereka terlihat sangat akrab dan dekat sekali. Ini bukan kali pertama bagi saya melihat keduanya dekat, karena disekolah saya sudah sering melihatnya. Dan seharusnya hal itu tidak pantas untuk saya herankan atau saya anehkan. Wajar saja jika keduanya dekat. Toh, keduanya adalah teman satu kelas.
Tapi, entah mengapa saya tidak suka melihat keduanya dekat dan akrab seperti itu. Saya merasa ada sesuatu yang membakar hati saya, rasanya panas sekali.
Saya jadi teringat perkataan Fariz tempo hari. Mungkinkah Radit menyukai Rahma?
Jika saya perhatikan, dari pandangan yang diberikan Radit ke Rahma, lalu dari cara Radit menatap Rahma, saya merasakan kalau Radit menyukai Rahma. Untung saja Fariz sedang tidak ada dirumah. Jika ada, bisa-bisa saya habis dibuat jengkel oleh godaan Fariz.
***
Saya baru saja pulang dari masjid bersama bang Fajar. Tidak lama dari saya pulang, sebuah mobil terparkir di depan gerbang rumah saya. Lalu, Zaki keluar dari dalam mobilnya. Dari yang saya lihat, Zaki terlihat sangay lelah sekali. Saya rasa Zaki baru saja tiba di Jakarta, belum sempat istirahat dan langsung datang menjemput Rahma. Padahal, Zaki bisa minta tolong ke saya untuk mengantar Rahma.
"Assalamu'alaikum." Zaki memberi salam ke saya dan bang Fajar. Pintu gerbang yang tidak terkunci, Zaki masuk ke dalam begitu saja. Menghampiri saya dan bang Fajar.
"Wa'alaikum salam." jawab saya dan bang Fajar.
"Siapa, Ri?"
"Kakaknya Rahma, bang."
"Ooohhh." Bang Fajar mengangguk-angguk. Saya mengajak Zaki masuk ke dalam. Mempersilakannya masuk dan menawarkannya untuk ikut makan malam dulu sebelum pulang bersama Rahma.
Dari arah ruang makan, kak Isya menghampiri kami diruang tamu. Kak Isya begitu antusias ketika melihat Zaki. Tanpa basa-basi, kak Isya langsung merangkul Zaki dan membawanya ke ruang makan, melupakan suaminya begitu saja. Saya heran dengan kelakuan kak Isya, tapi bang Fajar sama sekali tidak keberatan. Bang Fajar sudah mengenal lama kak Isya, sudah dari zaman SMA bang Fajar mengenal kak Isya. Jadi, bang Fajar memakluminya.
Diruang makan, sudah ada Rahma dan Radit duduk bersebelahan. Saya menguk saliva saya. Tidak lama kemudian, Fariz pulang. Sebelum ikut bergabung dimeja makan, Fariz pergi mengganti bajunya terlebih dulu. Setelah itu, barulah Fariz bergabung. Fariz duduk dibangku dekat saya. Hari ini meja makan terlihat ramai sekali. Karena keluarga saya sedang berkumpul semua dirumah. Hanya Ayah saya yang tidak ada karena beliau sedang lembur dikantornya.
"Enggak panas, bro?" bisik Fariz pada saya. Saya yang sedang menyuapkan sayur ke dalam mulut saya, hanya bisa mengangkat sebelah alis saya. "Enggak panas?" Fariz mengulang perkataannya. Saya sudah selesai meneguk sayur saya.
"Panaslah. Sayurnya saja baru matang. Memangnya kamu nggak lihat asapnya?" ketus saya.
"Gue nggak nanya sayurnya. Gue nggak peduli sama sayur yang panas atau enggak. Gue pedulinya sama hati lo. Hati lo, panas, nggak?" Fariz geram dengan saya. Saya tersenyum di dalam hati. Saya sengaja membuat Fariz kesal. Saya tidak ingin Fariz berkata hal konyol di depan semua orang yang saat ini sedang berkumpul diruang makan.
"Enggak. Enggak panas," ucap saya.
"Apanya yang nggak panas, Ramdan?" Ibu bertanya. "Bukankah sayurnya cukup panas begitu juga dengan nasi dan lauk lainnya?" Saya terdiam. Saya melototi Fariz yang sedang cekikikan.
"Kalau panas, ya ditiup dulu, dong. Juna aja tau kalau panas ya, ditiup. Kalah kamu sama anak kecil, Fahri." ucap kak Isya yang duduk bersebrangan dengan saya. Dia sedang sibuk menyuapi anaknya, Juna.
Fariz yang duduk di samping saya sedang menertawai saya. Sangat puas sekali tertawanya. Saya kesal, jengkel, tapi saya mencoba bersikap tenang karena ada Rahma dan Zaki. Kalau keduanya tidak ada, saya sudah tidak bersikap tenang dan tidak akan bersikap baik hati dengan Fariz. Langsung saya ajak gulat sekarang juga.
"Udah, udah. Makan dulu, baru ngobrol." Ibu menyudahi kak Isya dan Fariz yang terus menggoda saya. Antara kak Isya, Fariz, dan saya. Sayalah anak bungsu dikeluarga saya. Meskipun saya dan Fariz kembar, Fariz lebih dulu lahir, baru saya. Banyak orang yang mengira kalau saya kakaknya karena sikap saya yang sedikit dewasa dibandingkan Fariz.
"Fariz." Kali ini kak Isya memanggil saudara kembar saya.
"Kenapa, kak?"
"Gimana kabar Arum? Sudah ada perkembangan belum dengan Arum?"
Fariz yang sedang mengunyah makanannya pun langsung tersedak. Sebelum menjawab, Fariz meminum air putihnya. Setelah itu, barulah Fariz menjawab. "Masih sama, kak. Diam di tempat."
"Sekarang Fahri, nih. Kakak belum mendengar kabar kalau Fahri sedang suka atau sedang dekat dengan wanita." kata kak Isya kepadaku.
"Tenang aja, kak. Fahri sudah punya tambatan hati. Tinggal ngelamar aja. Tapi, tunggu waktu yang tepat. Jadi, kak Isya bersabar saja. Nanti juga dapat kabar gembira dari Fahri." Fariz yang menyahuti perkataan kak Isya. Rasanya ingin sekali saya menambal mulut Fariz yang seperti ban bocor. "Coming soon, kak."
"Benarkah?" Ibu yang bertanya untuk memastikan.
"Benar, bu. Jadi, tunggu saja. Bersabar ya, my angel." ucap Fariz pada Ibu. Saya hanya bisa menghela nafas setiap kali mendengar jawaban yang diberikan Fariz. Padahal, saya yang ditanya, tapi Fariz yang selalu menjawabnya. "Kan, ibu sudah tau siapa perempuan itu." lanjutnya.
"Rahma?" Ibu memastikan. Fariz mengangguk.
"Rahma?" Kak Isya terlihat terkejut mendengarnya. "Beneran Rahma, Riz?" Kak Isya masih tidak mempercayainya.
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada orangnya langsung, kak."
"Benar itu, Ramdan?" Kak Isya bertanya pada saya. Saya mengangguk. "Ya ampun, Ramdan." Saya hanya bisa tersenyum malu sambil menggaruk tengkuk saya yang tak gatal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Spiritual[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
