Tiga minggu telah berlalu. Selama itu juga saya selalu menghubunginya untuk sekedar menanyakan kabar dan mengingatkannya untuk meminum obatnya dengan rutin. Mungkin Rahma merasa risi dan terganggu dengan pesan yang saya kirimkan. Selain itu, setiap selesai pulang mengajar, saya menyempatkan diri untuk mampir ke rumah orang tua Rahma seorang diri, saya tidak mengajak Arum dan Arum tidak melarangnya. Saya tahu, jika saya terus datang dan mengiriminya pesan, Rahma tidak akan pernah bisa melupakan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Namun, hati saya berkata lain, saya rindu, saya ingin terus melihatnya. Bagaimanapun, Rahma adalah pilihan hati saya sejak awal, saya masih menyayanginya dan mencintainya. Karena kesalahan saya, saya harus berpisah darinya, entah sampai kapan. Jika Rahma sudah siap untuk kembali kepada saya, saya akan menjemputnya dengan sangat senang hati.
Orang tua saya sudah tahu mengenai penyebab Rahma tinggal di rumah orang tuanya. Saya di marahi dan diberikan nasihat oleh orang tua saya. Begitu juga dengan abi Dzul. Saya telah mengecewakan banyak orang. Saya sungguh amat sangat menyesal. Saat ini, yang bisa saya lakukan adalah berdoa, supaya semua baik-baik saja, dan saya juga berdoa supaya diberikan yang terbaik untuk hubungan saya dengan Rahma.
Satu minggu kemudian, Rahma meminta saya dan Arum datang ke rumah orang tuanya pada sore hari. Dari rumah menuju rumah orang tua Rahma, saya sangat gugup bercampur senang. Saya sudah berekspektasi bahwa Rahma meminta saya datang untuk menjemput dirinya pulang.
Saya telah tiba di rumah orang tua Rahma. Saya memakirkan mobil di teras rumah yang sedang tidak ada mobil abi Dzul. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Rahma meminta saya untuk menjemputnya, maka dari itu saya sengaja membawa mobil. Dan mobil itu bukanlah mobil saya, melainkan mobil milik Fariz yang sudah lama di perbaiki di bengkel, tetapi baru saya ambil sekarang. Saya meminjamnya.
Tepat pukul 16.00 WIB. Saya mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka. Dan Rahma lah yang datang membukakan pintu. Lalu, Rahma mempersilakan saya dan Arum masuk ke dalam. Rahma tidak menyuruh saya duduk di bangku ruang tamu, melainkan ruang tengah.
Saya melihat sekeliling. Saya tidak melihat koper milik Rahma. Saya pun menjadi gugup dan cemas. Takut sesuatu yang saya tidak inginkan terjadi. Rahma datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk saya dan Arum. Selain itu, rumah orang tua Rahma terasa sangat sepi. Uminya Rahma yang biasa menyambut saya dengan hangat, hari ini tidak menyambut saya.
"Di mana umi, Rahma? Zaki juga di mana? Kenapa terasa sangat sepi?" tanya saya ketika Rahma baru saja duduk di sofa yang berseberangan dengan saya.
"Umi sedang pergi bersama abi. Kalau kak Zaki, dia sedang ke masjid. Sebentar lagi juga pulang, kok." Saya mengangguk.
Tidak lama kemudian, orang yang baru saja dibicarakan tiba. Tanpa memberi salam, Zaki duduk di samping Rahma dan menatap saya juga Arum dengan tatapan tidak suka.
"Assalamu'alaikum, kak," kata Rahma mengingatkan.
"Assalamu'alaikum," ucap Zaki dengan wajah yang datar. Rahma menjawab salam dari Zaki. Begitu juga dengan saya dan Arum. Tetapi, kami berdua menjawabnya dengan pelan.
"Kamu ngapain sih, nyuruh mereka datang ke sini di saat umi dan abi lagi nggak ada di rumah? Terutama perempuan itu," kata Zaki yang menunjukan ketidaksukaannya dengan sangat jelas.
"Kak." Rahma memperingatkan Zaki untuk tidak bersikap seperti itu.
"Apa lagi, Rahma? Kamu itu jangan terlalu baik sama mereka atau nanti kamu yang dimanfaatkan."
"Kak Zaki. Sudah cukup," kata Rahma pada Zaki. "Maafin kak Zaki ya, pak Ramdan, bu Arum?" katanya kepada saya dan Arum.
"Iya, tidak apa-apa." Arum yang menjawab. "Oh iya, Rahma. Kapan kamu akan pulang ke rumah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Espiritual[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
