A/N: aku minta maaf atas lamanya waktu aku update. Selama ini aku sakit, jadi tidak bisa update. Alhamdulillah, kondisiku sudah baik-baik saja sekarang, jadi aku bisa update. Walaupun kondisiku sudah membaik, tugasku banyak. Jadi, aku minta maaf kalau nanti aku jarang update.
Oke, segitu saja. Semoga kalian menikmati cerita Pilihan Hati sampai selesai. Selamat membaca 😊
***
Saya tidak tahu sejak kapan air mata saya jatuh membasahi pipi saya. Sungguh, saya amat menyesali kejadian dan kecelakaan yang terjadi kemarin. Rahma masih belum tersadar, ia masih memejamkan kedua matanya. Saya tidak ingin Rahma berlama-lama berbaring di bangsal rumah sakit dengan mata yang terpejam. Sesekali saya mengusap puncak kepalanya yang memakai hijab sambil saya berbisik, "Rahma sayang, cepat bangun. Aku minta maaf atas kejadian yang menimpa kamu dan bayi kita".
Saya memutuskan untuk membaca salah satu surat Qur'an di aplikasi Al-Qur'an yang ada di handphone saya. Saya merasa sudah cukup lama mengaji, tetapi Rahma masih tak kunjung membuka matanya. Saya pun melanjutkannya lagi dan membaca surat lain. Di pertengahan surat yang saya baca, saya melihat Rahma sedang menatap saya. Saya pun mengakhiri membaca surat Qur'an yang sedang saya baca. Saya memasukkan handphone saya ke dalam saku celana saya, lalu melihat ke arah Rahma dengan kedua sudut bibir saya terangkat. Saya sangat merasa senang dan bersyukur Rahma sudah bangun.
"Terimakasih sudah bangun dengan cepat, Rahma. Terimakasih," kata saya sambil menggenggam tangan kirinya yang terpasang jarum suntik, lalu saya mencium punggung tangannya. "Aku panggil dokter dulu, ya, untuk memeriksa keadaanmu?" kata saya lagi.
Saya bangun dari tempat duduk saya dan keluar dari ruangan. Saya pergi menemui dokter untuk memberitahu bahwa Rahma telah sadar. Kemudian, saya kembali ke ruangan Rahma dirawat bersama dokter dan dua perawat. Tidak berlama-lama, dokter pun memeriksa kondisi Rahma.
"Kondisi bu Rahma baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kondisinya tidak seperti semalam yang masih butuh pengawasan. Sekarang hanya tinggal pemulihan saja. Beberapa alat akan dilepas. Alat bantu pernapasannya juga akan diganti," jelas dokter. Setelah menjelaskan kondisi Rahma, kedua perawat itu mencopot beberapa alat yang terpasang di anggota tubuh Rahma, dan mereka juga mengganti masker oksigen dengan selang oksigen. Setelah selesai, dokter dan kedua perawat itu pamit untuk melanjutkan tugasnya lagi di ruangan lain.
Saya berjalan ke arah bangsal Rahma. Saya menggenggam tangan kirinya dan berlutut di samping bangsal. "Aku minta maaf. Mas minta maaf, Rahma," kata saya sambil menangis di hadapannya. Ini kali kedua bagi saya menangis dihadapan Rahma setelah saya harus menikahi Arum waktu itu.
Rahma menatap saya dengan tatapan bingung dan khawatir. "Sebenarnya ada apa, pak?"
"Aku tidak tau harus bagaimana memberitahu kamu, Rahma. Aku tidak ingin melihat kamu terus menangis. Selain itu, aku sudah banyak melukai perasaan kamu. Jadi, bagaimana caranya aku memberitahu kamu, Rahma? Aku takut kamu terluka untuk kesekian kalinya karena aku yang menyebabkan semuanya terjadi," kata saya sambil sesenggukan.
"Ada apa, pak?" Rahma terlihat cemas. "Apa ini tentang aku yang ingin pergi dari hidup pak Ramdan atau sebaliknya?"
Saya menggeleng. "Bukan. Rahma, kenapa kamu tidak memberitahu aku kalau kamu hamil, Rahma?" Rahma terdiam. "Kenapa aku harus mengetahuinya dari Arum? Kenapa aku telat mengetahui semuanya?"
"Aku minta maaf. Ini bukan salah pak Ramdan. Jadi, pak Ramdan tidak perlu merasa bersalah," katanya. "Jangan terlalu menyalahkan diri pak Ramdan sendiri. Karena apa yang sudah terjadi, bukan sepenuhnya salah pak Ramdan." katanya lagi. Saya langsung memeluk tubuh Rahma yang terbaring lemah di atas bangsal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Kerohanian[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
