bab 4. Selamat Mengenal Keluarga Saya

167 18 0
                                        

Sebelum memulai belajar mengaji, Zaki menitipkan Rahma ke saya untuk dibawa pulang. Maksud saya, nanti selesai mengaji, Rahma akan ikut saya kerumah untuk menginap dirumah Ibu saya selama tiga hari karena Zaki akan bepergian bersama teman-temannya selama tiga hari. Selepas shalat maghrib berjama'ah dengan Zaki dan Rahma di masjid. Saya langsung pamit ke Zaki untuk pulang bersama Rahma. Zaki mengantar saya dan Rahma sampai ke teras. Dia menunggu kami hingga kami pergi dari rumah.

"Saya hanya membawa satu helm. Apa kamu tidak punya helm lagi, Rahma?" tanya saya sebelum naik ke atas motor saya. Rahma menggeleng. "Tapi, Zaki punya, kan?"

"Kak Zaki bawanya mobil. Jadi, nggak pake helm. Jadinya enggak ada yang punya helm dirumah ini." jelas Rahma. Saya mengangguk. Kemudian, saya naik ke atas motor saya dan memakai helm yang saya bawa.

Saya ingin memberikan helm saya ke Rahma untuk dipakai. Karena saya yang mengendarai motornya, jadi saya pikir, saya yang lebih memerlukan helm. Keselamatan saya lebih utama. Untuk saat ini, boleh dong saya egois. Walaupun begitu, saya akan membawa motor dengan hati-hati dan dengan kecepatan standar. Bagaimanapun, keselamatan Rahma juga penting.

Dari kaca spion, saya bisa melihat Rahma ragu untuk duduk diboncengan. Setelah beberapa detik terdiam, dia pun naik ke boncengan dan menaruh ranselnya di tengah-tengah antara kami, tasnya digunakan sebagai pembatas. Saya tidak mempermasalahkannya. Ketika Rahma sudah merasa siap, saya baru melajukan motor saya meninggalkan lingkungan rumah orang tuanya Rahma. Zaki melambaikan tangannya kearah kami. Saya bisa melihatnya melalui kaca spion. Rahma menoleh ke Zaki, hanya sekedar menoleh tanpa berniat membalas lambaian tangan Zaki.

"Hati-hati di jalan, ya! Bawa motornya jangan ngebut-ngebut. Jagain adek saya dengan baik!" Zaki berseru dari teras.

Butuh waktu satu jam perjalanan menuju rumah Ibu saya. Di tengah perjalanan kami, adzan isya telah dikumandangkan. Saya mencari masjid terdekat dari jalanan. Setelah menemukannya, saya berbelok kearah masjid tanpa bertanya dan tanpa membicarakannya dengan Rahma. Saya memakirkan motor saya diparkiran yang sudah disediakan. Rahma turun dari atas boncengan saya dan memakai tas ranselnya. Dia sama sekali tidak protes.

"Rahma duluan ya ke tempat wudhunya?" Saya mengangguk. Rahma berjalan duluan ke masjid seperti katanya barusan. Saya melepas helm saya dan menggantungnya di atas spion. Setelah itu, saya turun dari motor dan tidak lupa mengunci stang motor saya. Barulah saya ke masjid untuk segera mengambil wudhu.

***

Setibanya dirumah. Saya melihat Ibu sedang duduk dibangku teras. Saya memberhentikan motor saya dihalaman rumah. Saya turun dari atas motor setelah Rahma turun dari motor. Rahma menunggu saya hingga saya melepas helm saya dan menggantungnya di atas spion. Setelah itu, saya dan Rahma saling berjalan beriringan menghampiri ibu yang kini sudah berdiri. Menyambut kedatangan kami berdua. Lebih tepatnya, menyambut Rahma. Karena Ibu langsung memeluk Rahma.

Ibu menguraikan pelukannya. Kini menatap Rahma dari bawah hingga ke atas dan berkata, "Duh, Rahma. Kamu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik." Saya melihat Rahma yang tersenyum kikuk. Mungkin Rahma bingung harus meresponnya seperti apa. "Dari kecil hingga sekarang kamu masih sama. Cantik." kata Ibu lagi. "Dulu kita pernah jadi tetangga, lho, Rahma." Ibu memberitahu.

Sesenang itukah Ibu bertemu dengan Rahma? Saya tersenyum tipis. Sehingga tidak ada yang bisa melihat kalau saya tersenyum melihat tingkah Ibu ke Rahma. Ibu benar-benar menganggap Rahma sebagai anaknya sendiri yang sudah lama tidak pernah bertemu.

"Ibu, mengobrolnya nanti saja, ya? Kasihan Rahmanya, lelah. Nanti dilanjut lagi." kata saya menyudahi Ibu yang terus saja mengingatkan Rahma pada masa lalu.

Ibu menuntun Rahma masuk ke dalam rumah. Saya mengikutinya dari belakang. Setelah Ibu dan Rahma sudah masuk ke dalam, begitu juga dengan saya. Saya menutup pintunya lagi. Saya lihat, Ibu langsung membawa Rahma ke kamar tamu. Karena tidak ada lagi kamar kosong selain kamar tamu. Biasanya, kalau Radit lagi menginap dirumah, Radit akan memakai kamar itu.

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang