Dua bulan telah berlalu, dan besok adalah hari di mana gadis kecil saya dilahirkan ke bumi. Ya, dia adalah Rahma, wanita yang cintai namun telah saya sakiti dan khianati.
"Rahma, cepat sarapan. Nanti kamu terlambat." Saya mendengar suara teriakan Arum dari dalam kamar. Seketika saya tersenyum. Rasanya seperti mendengar seorang ibu sedang memanggil anaknya.
Saya keluar dari kamar bertepatan dengan Rahma yang juga keluar dari kamarnya. Saya tersenyum padanya, namun Rahma memasang wajah datar, tidak membalas senyum saya. Tiba-tiba saya merasa bersalah dan bertanya-tanya ada apa dengannya.
Beginilah kegiatan saya di pagi hari. Sarapan. Sudah lebih dari dua bulan saya sarapan bertiga di meja makan. Awalnya saya tidak terbiasa, kini sudah mulai terbiasa. Saya melihat wajah Rahma yang sedang makan, yang duduk bersebrangan dengan saya. Wajahnya tampak pucat dan tidak bersemangat. Terlebih lagi, Rahma terus mual. Saya pun merasa khawatir. "Enggak mau ke rumah sakit saja, Rahma?" tanya saya. Rahma menggeleng.
Tidak lama setelah saya bertanya pada Rahma, kini Arum yang merasa mual. Lalu, Arum bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar mandi. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?
"Mengapa Arum lama sekali di kamar mandi?" gumam saya. Kemudian, saya menyusul Arum ke kamar mandi. "Masih merasa mual, Rum?" tanya saya pada Arum. Yang ditanya, mengangguk. "Rahma, sepertinya saya tidak bisa mengantar kamu ke kampus. Saya harus membawa Arum ke rumah sakit, dia terlihat sangat pucat sekali. Kamu berangkat naik ojek online saja, ya? Tidak apa-apa, kan?" tanya saya pada Rahma. Rahma mengangguk.
"Rahma, maaf, ya?" kata Arum.
***
Saya membawa Arum ke dokter kandungan. Arum telah di periksa, dan kini kami berdua sedang duduk di depan meja kerja dokter untuk mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksa Arum. Namanya, dokter Lia.
"Selamat, ya, pak. Istri bapak sedang hamil. Bapak akan menjadi seorang ayah," ucap dokter Lia. Saya dan Arum yang mendengarnya pun langsung tersenyum bahagia. Arum terlihat berkaca-kaca. Saya memeluknya. "Saya ikut bahagia, pak, bu. Selamat untuk kalian berdua, ya?" ucap dokter Lia lagi.
Saya mengangguk. "Terima kasih, dok."
"Tapi, karena kandungan bu Arum sedikit lemah. Usahakan Bu Arum banyak istirahat, jangan terlalu lelah dan jangan membawa barang-barang yang berat, ya?"
"Baik, dok. Terima kasih banyak, dok," kata saya.
"Terima kasih, dok," kata Arum. Setelah itu, dokter Lia memberitahu untuk melakukan periksa kandungan setiap sebulan sekali. Selesai memberitahu, saya dan Arum pamit keluar dari ruangannya.
Saat sudah berada di luar ruangan dokter Lia. Saya menggenggam tangan Arum. Saya masih tidak menyangka akan menjadi seorang ayah. Saya sangat terharu sekali, begitu juga dengan Arum. "Terima kasih, Arum," kata saya pada Arum. Arum mengangguk sambil tersenyum haru.
***
Siang hari, untuk pertama kalinya, saya menonton televisi bersama dengan Arum. Sebenarnya, bukan saya yang menonton televisi, tetapi televisi yang sedang menonton saya. Ya, saya hanya menyalakan saja. Sungguh sangat tidak hemat listrik, bukan?
Namun, jika televisi tidak dinyalakan, akan terasa canggung sekali. Selain itu, sesekali saya mengobrol dengan Arum. Obrolan kami hanya seputar masa lalu, dan seputar sekolah. Hanya itu, tidak ada topik pembicaraan lagi selain hal itu. Obrolan kami terus berlanjut sampai saya tidak menyadari waktu. Saya lupa menjemput Rahma. Seharusnya saya sudah pergi menjemputnya sejam yang lalu. Kemudian, suara Rahma memberi salam terdengar. Saya mengakhiri perbincangan saya dengan Arum. Kemudian, Arum pergi menyiapkan makan siang untuk Rahma.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Duchowe[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
