bab 2. Diperpustakaan

345 20 0
                                        

Selain saya menjadi guru ngaji di SMA. Saya ditugaskan sebagai penjaga perpusatakaan. Karena guru yang biasa menjaga perpustakaan sedang mengambil cuti melahirkan. Jadi, sekitar tiga bulan, kemungkinan saya akan menjadi penggantinya.

Saya selalu suka dengan perpustakaan. Entah apa yang membuat saya menyukainya. Mungkin, selain memiliki banyak buku sehingga kita bisa membaca banyak jenis buku, kita juga bisa merasakan kedamaian karena suasananya yang hening dan sepi. Kita juga bebas melakukan apapun diperpustakaan, kecuali makan dan minum di dalam perpustakaan. Itu dilarang. Bermain handphone pun tidak masalah, asal tidak menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu.

Karena saya tidak tahu harus berbuat apa lagi selain memantau keadaan. Saya pun memutuskan untuk membaca buku saja di tempat saya berjaga. Saya juga tidak begitu memerhatikan siapa saja siswa yang keluar-masuk perpustakaan. Siapapun bebas ke perpustakaan. Saya juga belum pernah menemukan siswa yang melakukan hal senonoh diperpustakaan. Semoga saja tidak pernah ada dan jangan sampai terjadi.

Perpustakaan sekolah akan ditutup dalam waktu satu jam lagi. Setelah pukul 17.00, perpustakaan akan tutup. Perpustakaan lebih lama dua jam dibanding jam pelajaran yang akan berakhir pada jam 15.00.

Baru saja saya memulai membaca. Seorang siswi berdiri di depan meja saya. "Mau pinjam buku?" tanya saya. Siswi tersebut mengangguk. Dia meletakkan bukunya di atas meja saya dan mengambil kartu tanda siswanya di dalam dompetnya.

Saya menunggu sambil memerhatikannya. Siswi tersebut mendongakan wajahnya. Saya terdiam. Siswi yang sedang berdiri di depan meja saya adalah Rahma. Tapi, dia tidak memakai hijabnya. Padahal, dua hari yang lalu berhijab. "Rahma?" kata saya yang sebenarnya hanya untuk memastikan bahwa perempuan yang berdiri di depan meja saya adalah Rahma yang dua hari lalu saya lihat berhijab.

Dia nampak terkejut melihat saya. "Ustadz Ramdan," katanya pelan sambil tersenyum canggung. "Assalamu'alaikum." Dia memberi salam.

"Wa'alaikum salam," jawab saya. Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, Rahma memberikan kartu tanda siswanya. Saya menerimanya dan mulai mencatat nama Rahma dan NIS di komputer sebagai peminjam buku. Setelah mendaftarkan namanya sebagai peminjam buku, saya menyimpan kartu tanda siswanya dilaci dan saya mengunci laci itu lagi supaya tidak hilang.

"Kerudunganmu, mana?" tanya saya. Perempuan itu langsung memegang kepala dan rambutnya. Selain itu, dia nampak terkejut dan bersikap canggung pada saya. Dia juga memakai seragam berlengan pendek, tidak memakai cardigannya. Rambutnya yang dikuncir asal terlihat begitu jelas. Rahma hanya menggaruk tengkuknya yang kuyakin tidak gatal, tanpa menjawab pertanyaan dari saya.

"Kartu tanda siswa kamu, bapak tahan. Kembalikan bukunya dalam waktu seminggu. Kalau tidak, kamu akan kena denda. Jangan sampai rusak ataupun hilang bukunya. Paham?" kata saya. Saya tidak mau berlama-lama membuatnya merasa tidak enak seperti itu. Rahma mengangguk dan menerima buku yang dipinjamnya dan memasukannya ke dalam tas.

Hari ini, dia lebih pendiam dari kemarin. Atau memang dia orangnya yang pendiam?

Oh iya, siapa pun yang membawa buku tanpa sepengetahuan penjaga yaitu saya. Atau bisa dikatakan minjam tanpa bilang atau mencuri, bisa ketahuan melalui alat pendeteksi yang berada di luar pintu masuk perpustakaan. Oknum tersebut akan dikenakan sanksi.

Rahma bersiap untuk keluar dari perpus. Sebelum dia benar-benar keluar, saya memanggilnya. Dia menoleh ke saya. "Ya, pak?" tanyanya.

"Bukannya kamu berhijab? Lalu, di mana kerudungmu itu?" Mungkin, Rahma mengira, dia tidak akan mendapatkan pertanyaan lagi dari saya mengenai kerudungan. Tetapi, saya menanyakannya lagi. "Kamu seorang muslimah, bukan?" Rahma mengangguk. "Maka, tutuplah auratmu." sambung saya. Rahma menunduk malu. Sepertinya saya sudah keterlaluan karena sudah mempermalukannya. Tetapi, saya hanya mengingatkannya saja. Bukankah sesama muslim harus selalu mengingatkan dalam kebaikan?

"Terimakasih atas nasihatnya, pak." Setelah itu, Rahma keluar dari perpustakaan tanpa mengatakan apa-apa.

***

"Saya kepingin mengajak Radit, Yumna, dan Rahma ke TPA. Membantu saya untuk mengajar anak-anak di sana." ucap saya. Sebelum pulang kerumah masing-masing. Melalui Radit, saya meminta Yumna dan Rahma datang ke aula.

Setelah saya mengatakan hal itu. Mereka bertiga langsung memberikan saya tatapam dengan tatapan penuh tanda tanya. Karena saya hanya mengumpulkan tiga murid dari lima belas murid di aula. Dan dari lima belas murid, hanya tiga murid yang saya mintakan bantuan secara pribadi. Maka dari itu, mereka jadi kebingungan.

"Sebelumnya saya minta maaf karena saya sudah meminta bantuan kalian bertiga secara pribadi," kata saya. Karena ketiganya masih terdiam. Menunggu saya berbicara dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam benak mereka. Saya pun melanjutkannya, "Saya kan mengajar di banyak tempat, dan jadwal saya terkadang suka bentrok atau ada sesuatu yang benar-benar memungkinkan saya tidak bisa hadir. Saya ingin kalian menggantikan saya mengajar. Hanya mengajar Iqra dan Juz 'Amma."

"Sebelumnya saya minta maaf, ustadz. Sepertinya saya tidak bisa membantu banyak. Saya baru saja belajar membaca Al-Qur'an. Belum lancar-lancar banget. Mengenai makhraj dan tajwid, saya juga baru mulai mempelajarinya. Sedangkan Rahma. Rahma lebih menguasainya dibanding saya." kata Yumna.

"Jadi, kamu tidak bisa?"

"Bukan tidak bisa. Kalau hanya sekedar mengajarkan membaca Iqra, saya bisa. Tapi, saya takut. Takut salah mengajarkan," jawab Yumna.

"Di sini kita sama-sama belajar. Mungkin kamu baru belajar, dan Rahma sudah mempelajarinya terlebih dulu sehingga dia bisa. Tapi, Yumna, Rahma di sini juga belajar. Kamu belajar, Radit belajar, teman-teman lainnya juga belajar. Begitu juga saya. Saya juga masih belajar. Jadi, saya harap kamu bisa dan mau. Jadi, kamu bisa mengajar sambil belajar."

Awalnya Yumna terlihat ragu. Di detik kemudian, Yumna mengangguk setuju. Saya mengulum senyum. Saya merasa senang karena Yumna mau ikut membantu.

"Kalau begitu, nanti Yumna mengajar anak-anak yang masih membaca Iqra, ya? Sedangkan Rahma mengajar anak-anak yang sudah Juz 'Amma. Radit dan Saya akan mengajar yang sudah Al-Qur'an." ucap saya mengakhiri pertemuan kali ini dalam rangka meminta bantuan. Ketiganya mengangguk setuju.

Dan saya baru memperhatikan kalau Rahma hari ini kembali mengenakan hijabnya. Mungkin Rahma memakai hijabnya kembali karena merasa takut akan saya ceramahi lagi apabila bertemu dengan saya tanpa hijab. Namun, setidaknya, teguran saya kemarin berhasil membuat Rahma jadi menggunakan hijabnya lagi.

"Oh iya, Rahma." kata saya. Perempuan itu menatap kearah saya sambil menahan nafas. Saya merasa Rahma sedang menyiapkan mental untuk mendengar perkataan saya yang mungkin terdengar dingin dan terkesan menggurui. Saya menahan senyum. Lucu.

Astaghfirullah. Maafkan saya, ya Allah.

Rahma tidak menggubris panggilan saya. Dia hanya terdiam sambil menunggu perkataan saya yang selanjutnya. "Pertahankan hijabmu. Jangan pernah dilepas." kata saya. "Dan saya minta maaf atas perkataan saya kemarin. Maaf jika saya telah menyinggung perasaan kamu." Setelah itu, saya berlalu pergi meninggalkan ketiganya yang masih berada di aula sambil memerhatikan saya dengan tatapan bingung. Terutama Yumna dan Radit.

Dari kejauhan satu meter, saya masih bisa mendengar Yumna bebricara. Perempuan itu berkata, "Kemarin? Kemarin ada apa, Rahma? Kok, lo nggak cerita, sih?"

"Bukannya nggak cerita. Lonya aja yang gampang lupa." jawab Rahma sedikit kesal. Saya tersenyum.

Oh iya, sejujurnya, saya meminta bantuan secara pribadi karena saya ingin menambah pengalaman mereka bertiga dan supaya ketiganya bisa terus belajar. Belajar dari mana saja dan apapun bentuk pembelajarannya. Yang penting mereka belajar, bisa menambah wawasan mereka.

Bukannya saya pilih kasih. Sebagai orang guru, saya kepingin semua muridnya belajar, menambah wawasan yang lebih luas dan menambah pengalaman. Hanya saja, saya merasa takut dibilang menyalahkan tugas dan wewenang saya jika saya meminta bantuan pada kesemua murid saya yang lain.

Selain itu, alasan saya hanya memilih Radit, Yumna, dan Rahma. Karena ketiganya adalah orang yang saya kenal dan saya merasa lebih dekat dengan ketiganya. Kurang lebihnya, ya, seperti itu.

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang