bab 1. Gadis Kecil Saya

1.1K 40 0
                                        

Untuk pertama kalinya saya mengajar ngaji di sebuah SMA. Biasanya saya mengajar ngaji dan menjadi seorang guru ngaji disebuah TPA. Jarang sekali SMA mengadakan ektrakurikuler mengaji seperti ini dan hari ini adalah hari pertama saya menjadi guru ngaji di SMA.

SMA Bakti Jaya. Saya akan memulai karir saya sebagai guru mengaji sebelum menjadi seorang guru tetap disekolah. Padahal, saya memiliki latar belakang pendidikan sarjana. Ya, tetapi tidak masalah, setidaknya saya mendapatkan pekerjaan.

Sebenarnya, saya sudah pernah mengajar sebagai guru Agama di SMA lain dua tahun yang lalu. Dulu, saya menjadi guru honorer, belum menjadi guru tetap. Kemudian, saya melamar diposisi guru Agama di SMA Bakti Jaya. Saya berharap, bisa menjadi guru tetap jika saya keterima sebagai guru Agama. Namun, saya keterima sebagai guru ekstrakurikuler, yaitu ngaji. Karena posisi guru Agama sudah terisi. Saya terlambat satu hari.

Saya akan mengajar murid-murid dari kelas satu hingga kelas tiga diaula sekolah yang terletak dilantai dua. Saya akan mengajar mereka setiap hari selasa dan kamis, sepulang sekolah. Saat saya sudah berada dilantai dua, saya melihat kedua siswi sedang berdiri di depan pintu masuk aula sambil berdebat kecil.

Saya sengaja berdiri di belakang mereka tanpa bersuara. Saya menunggu keduanya menyadari kedatangan saya. Tapi, kedua siswi itu sama sekali belum menyadari keberadaan saya. Salah satu dari mereka, tampak ragu. Bisa terlihat gelagatnya dari belakang.

Saya pun menegur keduanya. "Kalian kenapa hanya berdiri di luar? Ayo, masuk!" Barulah kedua siswi tersebut menyadari keberadaan saya.

Saya melihat nama kedua siswi itu di seragam mereka. Yang satu bernama Yumna, dan yang satu lagi bernama Rahma. Yang bernama Yumna memakai kerudungnya rapi. Tetapi, siswi yang bernama Rahma itu kurang rapi. Terlebih lagi, dia tidak memakai seragam yang berlengan panjang, melainkan memakai cardigan. Well, itu tidak masalah. Saya bisa menoleransi untuk hari ini. Karena saya berpikir, Rahma baru memulai hijrahnya, saya menghargai niatnya yang ingin berhijrah.

Kedua siswi itu saling terdiam. Tidak lama kemudian, Yumna memberi salam pada saya. Dengan kikuk, Rahma ikut memberi salam. Saya menjawsb salam keduanya. Dan saya pun bertanya lagi, "Kenapa kalian hanya berdiri di luar? Kenapa nggak langsung masuk?" Saya menatap keduanya dengan intens. Sebenarnya, tatapan saya lebih menginterupsi.

"Kami baru saja ingin masuk ke dalam." Yumna yang menjawab.

"Ya sudah. Kalau gitu, ayo masuk!" kata saya sambil berjalan mendahului keduanya. Pintu aula yang terbuka sedikit itu pun saya buka dengan lebar. Saya mengucapkan salam sembari kaki saya melangkah masuk ke dalam.

Sebenarnya, saat saya melihat Radit. Saya cukup terkejut. Saya sama sekali tidak menduga kalau dia akan bersekolah SMA Bakti Jaya. Yang saya tahu, Radit hanya akan pindah ke SMA yang ada di Jakarta. Tetapi, saya tidak tahu di mana tepatnya.

Radit adalah sepupu saya. Usia kami cukup jauh berbeda. Radit biasa memanggil saya dengan sebutan paman. Mulai hari ini, saya akan terus bertemu Radit disekolah. Tidak terus-menerus, hanya dua kali pertemuan dalam sepekan. Karena kami jarang beremu dan di Jakarta Radit ikut tinggal bersama kakak perempuan saya.

"Wa'alaikum salam, ustadz Ramdan." jawab murid-murid saya yang baru saya temui hari ini. Yang mengikuti kegiatan belajar mengaji ini cukup banyak. Ada sekitar lima belas orang. Saya belum kenal dan belum tahu murid saya dari kelas berapa saja.

Saya duduk bersila di depan kelima belas murid saya. Rahma dan Yumna ikut bergabung dengan murid lainnya, yang akhwat.

"Bagaimana kalian bisa mengetahui nama saya?" Sebelum memulai belajar, saya bertanya mengenai murid-murid yang sudah mengetahui nama saya. Sedangkan saya belum memperkenalkan diri. Boleh dong, saya mengetahuinya?

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang