bab 3. Menjadi Guru Ngajinya

198 16 2
                                        

Sepulang mengajar di pondok, saya melihat ada mobil terparkir dihalaman rumah. Mobil itu bukanlah mobil yang biasa dibawa oleh Fariz. Saya memakirkan motor saya di samping mobil tersebut, kemudian saya turun dari motor saya dan melangkahkan menuju pintu masuk. Saya membuka pintu sambil mengucapkan salam. Saat pintu terbuka, saya melihat pria yang sebaya dengan ayah saya sedang duduk diruang tamu bersama ayah dan ibu. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan ayahandanya Rahma--sahabat dari ayah. Sudah belasan tahun saya tidak bertemu beliau. Beliau sedang mengobrol dengan ayah dan ibu.

"Fahri, kemari." Setelah menjawab salam saya, Ayah menyuruh saya untuk ikut bergabung di sana. Sebelum saya duduk di dekat ibu, saya menyalimi punggung tangan ayahnya Rahma. "Kamu masih kenal dengan abinya Rahma, abi Dzulfikar?" tanya ayah.

"Dulu kamu sering memanggilnya abi Dzul, lho." ucap Ibu membantu ayah untuk membuat saya ingat pada sosok ayahnya Rahma--yang dulu sering saya panggil dengan abi Dzul.

Tanpa diingatkan oleh ayah dan ibu, saya sudah mengingat beliau. Usia saya dulu sudah belasan tahun, tentu saja saya sudah mengingat segala hal. Jadi, saya tidak akan melupakan sosok beliau. Terlebih lagi, saya sangat dekat dengan beliau. Saya pun mengangguk sebagai jawaban kalau saya mengingat siapa itu abi Dzul.

"Ramdan, setelah shalat isya, abi Dzul ingin mengajakmu kerumah. Abi kepingin kamu menjadi guru ngaji dari anak-anak abi. Kamu bisa, kan?" kata abi Dzul kepada saya.

"Bisa saja, bi. Mulai hari ini ngajarnya, bi?" Saya balik bertanya.

"Hari ini kita perkenalan saja. Ngajinya mulai besok saja," katanya sambil tersenyum. Saya mengangguk. Sepuluh menit lagi adzan isya akan berkumandang. Saya pamit ke kamar untuk bersih-bersih diri dan bersiap-siap melaksanakan shalat isya berjama'ah dimasjid.

***

Saya sudah sampai dirumahnya abi Dzul. Saya memakirkan motor saya dihalaman rumahnya. Sebelum sampai dirumah abi Dzul, saya melihat seseorang yang mirip dengan Rahma sedang membeli nasi goreng. Saya ingin memanggilnya, tapi saya tidak berani. Saya takut salah orang. Lalu, abi Dzul mengajak saya masuk ke dalam rumahnya bersama-sama.

Abi Dzul membuka pintu sambil mengucapkan salam dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Saya mengikutinya dari belakang sambil mengucapkan salam dengan suara pelan, mungkin hanya abi Dzul yang bisa mendengarnya. Tidak lupa saya menutup pintunya kembali.

Abi menyuruh saya untuk duduk dulu diruang tamu. Sementara beliau masuk ke dalam. Saya pun menurut, menunggu beliau dan anak-anaknya diruang tamu.

Anak pertamanya abi Dzul, yaitu Zaki baru saja pulang entah dari mana. Dia sempat menyapa saya dengan memberikan salam, tapi dia terlihat tidak mengenali saya. Setelah saya menjawab salamnya, Zaki masuk ke dalam. Mungkin ke kamarnya. Pintu terbuka lebar, saat Zaki sudah benar-benar pergi, saya beranjak bangun untuk menutup pintu.

Baru saja saya duduk lagi. Pintu rumah terbuka. Saya langsung menoleh kearah pintu yang terbuka dan memunculkan sosok Rahma tanpa kerudung. Perempuan itu belum mengetahui keberadaan saya diruang tamu. Saya memerhatikannya yang sedang menutup pintu kembali. Saat perempuan itu berbalik, saya segera memalingkan wajah saya. Tapi, dari ekor mata saya, saya bisa melihat Rahma yang tampak terkejut ketika melihat saya.

"Ustadz Ramdan?" ucapnya. Saya menahan bibir saya untuk tidak tersenyum, lalu saya menoleh kearahnya. "Ngapain ustadz Ramdan ada di sini?" Ditangan kanannya sedang membawa kantung pelastik. Dari aromanya, kantung pelastik itu berisi nasi goreng. Ternyata tadi saya tidak salah lihah dan tidak salah mengenali. Perempuan yang sedang beli nasi goreng dan yang saya anggap mirip dengan Rahma adalah memang Rahma.

Belum sempat saya menjawabnya. Kedua orang tua Rahma datang. Abi Dzul menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat Rahma yang tidak memakai kerudungnya. Terlebih lagi, Rahma menampakan rambutnya yang tergerai dihadapan saya.

"Rahma, cepat ke kamar kamu. Pakai kerudungan dan ganti baju kamu." ucap Ibunya Rahma. Saat Ibu bilang ganti baju, saya baru memerhatikan pakaian Rahma. Bajunya berlengan pendek.

Rahma menggaruk tengkuknya yang saya rasa tak gatal. "Rahma ke kamar dulu, ya?" katanya kepada semua orang yang ada diruang tamu. Kemudian, ibu meletakkan nampan yang terdapat beberapa gelas dan dua piring kecil yang berisi cemilan di atas meja. Abi Dzul menyuruh saya untuk duduk kembali. Saya mengangguk.

***

"Zaki, Rahma. Nak Ramdan ini akan menjadi guru ngaji kalian." ucap abi Dzul setelah semua berkumpul diruang tamu. "Ada yang ingin kalian tanyakan ke Ramdan?" tanya abi Dzul ke anak-anaknya.

"Zaki mau nanya. Tahun ini, usia pak Ramdan berapa tahun?" Pertanyaan tak terduga dari Zaki membuat saya sedikit malu. Usia saya dibandingkan Zaki lebih tua saya. Jadi, saya sedikit malu karena merasa sudah tua sekali dibanding Zaki, terutama Rahma.

"Zaki, tidak sopan." ucap ibu pada anak sulungnya.

"Zaki hanya ingin tau, umi."

"Tidak apa-apa, bu." ucapku sambil tersenyum. "Tahun ini Zaki usia berapa?" Saya membalikan pertanyaannya. Saya tidak ingin menjawabnya secara langsung.

"Dua puluh tiga." Untung saja Zaki mau menjawab pertanyaan dari saya.

"Usia saya dengan kamu hanya beda empat tahun, tahun ini."

"Dua puluh tujuh tahun?" Zaki memperjelasnya. Saya mengangguk. "Kok, wajahnya tidak terlihat tua sama sekali, ya? Padahal tiga tahun lagi akan memasuki kepala tiga." ucap Zaki secara blak-blakan. Saya terdiam. Tidak tahu ingin menanggapinya seperti apa.

"Ada yang ingin kalian tanyakan lagi?" Abi Dzul bertanya. Kedua anaknya menggeleng.

Rahma mengangkat tangan kanannya. "Ya, Rahma? Mau tanya apa?" tanya Abi Dzul.

"Bagaimana abi bisa mengenal pak Ramdan?" 

"Nak Ramdan adalah anak dari sahabat abi yang dari SMP." Abi Dzul menjawabnya sambil merangkul saya. "Ada yang ingin ditanyakan lagi?" Kedua anaknya menggeleng. "Baiklah. Besok kalian sudah mulai bisa belajar ngaji."

Dan mulai hari ini, selain bertemu dengan Rahma di sekolah, saya akan terus bertemu dengan Rahma dirumahnya.

Saat abi Dzul selesai berbicara, Rahma mengangkat tangan kanannya. "Ya, Rahma? Ada yang ingin dikatakan?" Abi Dzul bertanya. Saya memperhatikan Rahma. Jantung saya berdegup kencang ketika Rahma bergumam panjang. Tampaknya dia ragu untuk mengatakannya. Padahal, saya sudah merasa sangat penasaran.

"Dari banyaknya guru ngaji, mengapa harus pak Ramdan?" Saya tertegun mendengar perkataan dari Rahma. Begitu juga dengan yang lainnya. Terutama abi Dzul.

"Mengapa kamu berbicara seperti itu?" tanya abi Dzul.

"Apa kamu tidak menyukai saya?" tanya saya. "Jika kamu tidak menyukai saya, boleh saya tau alasannya?"

"Bukan Rahma tidak menyukai pak Ramdan. Hanya saja ...." Perempuan itu terdiam. Lalu, dia tertunduk. "Rahma masih tidak percaya. Dari sekian banyaknya guru ngaji, kenapa harus pak Ramdan? Dunia begitu sempit sekali." jelasnya.

Saya mengangguk. Saya dapat memahaminya. Karena di sekolah kami sudah bertemu, lalu saya mengadakan kegiatan lain di luar kegiatan sekolah. Kemudian, menjadi guru ngajinya dirumahnya. Kami akan terus bertemu dan Rahma merasa kurang nyaman. Mungkin juga, merasa bosan karena hampir setiap hari dan setiap jam bertemu dengan saya.

"Rahma," Abi Dzul memanggilnya dengan lembut. "Lalu, kamu mau ganti guru ngaji?" Rahma menggeleng. "Lalu?"

"Tidak apa-apa jika pak Ramdan menjadi guru ngaji Rahma. Mungkin sudah menjadi takdirnya." Rahma mengucapkan kalimat terakhirnya dengan suara pelan. Seperti bergumam, namun masih bisa terdengar. Saya tersenyum simpul.

Pilihan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang