Pukul setengah tiga siang saya berangkat kerumahnya abi Dzul untuk mengajar ngaji Rahma dan Zaki. Saya datang lebih awal dari jadwal biasanya dan sebelumnya saya sudah bilang ke Rahma juga Zaki bahwa hari ini jadwal mengaji lebih awal daripada biasanya sehabis maghrib.
Siang ini jalanan sedikit macet daripada biasanya. Entah mengapa, biasanya juga tidak macet seperti sekarang.
Tinggal perempat jalan saya menuju rumah abi Dzul, adzan ashar berkumandang. Saya mampir terlebih dulu ke masjid yang berada tidak jauh dari jalan raya untuk melaksanakan shalat ashar. Masjid tersebut terletak di pinggir jalan.
Selesai shalat, barulah saya melanjutkan perjalanan saya menuju rumah abi Dzul. Dan entah mengapa perasaan saya terasa janggal, seperti merasakan sesuatu telah terjadi kepada orang yang saya sayangi dan jalanan hari ini begitu padat.
Akhirnya saya tiba dirumah abi Dzul. Di perkarangan rumah sudah terdapat sebuah mobil milik Zaki. Zaki sudah pulang. Saya memakirkan motor saya tepat di samping mobil milik Zaki. Saya turun dari atas motor saya. Saya melepaskan helm saya dan menaruhnya di atas spion. Kemudian, saya berjalan menuju rumah. Saya mendapati pintu rumah terbuka lebar, tidak biasanya ditutup. Saya memberi salam, namun tidak satupun yang menjawab.
Saya pun melangkahkan kaki masuk ke dalam. Di ruang tamu, saya mengucapkan salam. Namun, tidak ada yang menjawabnya. Lalu, saya mendengar suara tangis Zaki bersamaan dengan isakan Rahma. Saya pun berjalan menuju ruang keluarga.
Di ruang keluarga, saya mengucapkan salam. Saya melihat Zaki sedang merengkuh adiknya dan dia langsung menghampiri saya.
"Maaf, Ramdan. Sepertinya hari ini kita tidak mengaji dulu. Saya harus bawa Rahma kerumah sakit." kata Zaki.
"Ada apa? Rahma sakit?" Zaki menggeleng. Saya melihat mata Zaki sangat merah. Di bola matanya saya dapat melihat kesedihan dan kemarahan yang bercampur aduk menjadi satu. Sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada Rahma.
Tanpa menjawab pertanyaan saya. Zaki berjalan menghampiri adiknya. Saya mengikutinya dari belakang. Saya sangat terkejut ketika melihat penampilan Rahma yang sangat kacau sekali. Saya pun mengucapkan istighfar. "Apa yang terjadi?" tanya saya pada Zaki. Zaki menggeleng.
"Saya juga tidak tau. Saya sudah bertanya, tapi Rahma belum menjawabnya. Sedari tadi dia terdiam saja." ucap Zaki. Suaranya tersirat kefrustasian.
Saya melihat kearah Rahma. Saat saya nenatapnya, Rahma menundukan wajahnya. Seperti enggan melihat saya. Entah mengapa, saya merasakan bahwa Rahma malu berhadapan dengan saya dengan kondisinya yang terlihat kacau sekali.
***
Saya lamgsung pergi mendaftarkan nama Rahma di tempat pendaftaran setelah saya meminta Zaki untuk menemani Rahma dan menunggunya di ruang tunggu. Selesai mendafyarkan nama Rahma sebagai pasien, saya kembali menemui keduanya. Saya berdiri dihadapan keduanya dan Rahma masih enggan untuk melihat saya.
Tiga puluh menit menunggu. Nama Rahma akhirnya dipanggil untuk diperiksa sebelum dirawat inap. Zaki menuntun Rahma keruang dokter untuk diperiksa. Sedangkan saya, saya memilih untuk menunggu saja.
Lima belas menit lamanya menunggu. Keduanya pun keluar dari ruangan dokter. Saya menghampiri keduanya.
"Bagaimana?" tanya saya.
"Rahma mengalami shock yang timbul menjadi trauma. Dia akan dirawat inap." jelas Zaki. Tidak lama kemudian, seorang perawat perempuan datang menghampiri. Perawat tersebut mengantar kami ke ruang rawat inap yang kosong untuk Rahma.
Sesampai diruang rawat Rahma, setelah menjelaskannya. Perawat tersebut keluar dari ruangan untuk mengambil suntikan, infusan, penyanggah, dan beberapa peralatan lainnya. Rahma pun naik ke atas bangsal dan berbaring.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Espiritual[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
