Saya melihat jam di dinding sudah pukul 23.00 WIB. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Baik lelah secara fisik maupun batin. Saya menghela napas panjang dan terdengar sangat berat sekali. Saya mengusap wajah saya dengan gusar. Saat ini, saya berada di ruang makan. Sedangkan Arum dan Rahma sudah berada di kamar. Rahma berada di kamar saya, dan Arum di kamarnya Fariz.
"Belum tidur, nak?" Ibu yang baru saja memasuki ruang makan untuk mengambil minum bertanya. Selesai mengambil minum, ibu duduk di bangku yang ada di samping saya.
"Bu, malam ini, biarkan Fahri tidur di kamar ibu, boleh?" tanya saya dengan serius pada ibu. Tanpa bertanya dan tanpa mengatakan apapun, ibu mengangguk. Ibu selalu memahami masalah yang sedang di alami anaknya, walaupun sang anak tidak bercerita apa-apa. Tapi, ibu selalu bisa memahaminya dengan jelas.
Ibu membawa saya ke dalam pelukannya. Saya membalas pelukan ibu, lalu ibu mengusap-usap punggung saya. Entah mengapa, beban yang saya rasakan seketika hilang, mungkin hanya sementara. Tetapi, setidaknya dapat sedikit menghilangkan beban yang saya rasakan malam ini.
***
Baru saja tertidur sekitar dua jam, karena sempat terjaga selama satu jam, saya sudah terbangun. Jam di dinding kamar ibu baru menunjukkan pukul 02.00 WIB. Saya keluar dari kamar ibu dan ayah dengan pelan supaya tidak membangunkan mereka. Saya menutup pintu kembali ketika saya sudah berada di luar. Saat saya keluar, Rahma juga keluar dari kamar. Entah mengapa, saya merasa canggung. Padahal, sebelumnya saya tidak pernah merasa canggung dan saya akan bersikap manja kepadanya.
Saya berjalan di belakang Rahma yang berjalan ke dapur. Ia pergi mengambil minum, kemudian ia berbalik dan ada saya. Saya melihat Rahma tampak terkejut akan kehadiran saya yang berdiri di belakangnya, dan kini kami berdiri berhadapan. "Pak Ramdan mau minum?" tanyanya sedikit tergagap. Saya mengangguk. Lalu, Rahma menggeser tubuhnya supaya saya bisa mengambil minum.
"Pak, Rahma ke kamar mandi dulu, ya, mau ambil wudhu," katanya. Saya mengangguk.
Lima menit kemudian, Rahma keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat saya karena saya berdiri tepat di depan pintu. "Maaf saya membuat kamu kaget," kata saya. Rahma mengangguk sambil tersenyum simpul. Ia berjalan melewati saya menuju kamar. Setelah itu, saya masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Sepuluh menit kemudian, saya keluar dari kamar mandi. Lalu, saya pergi ke arah kamar saya. Sebelum masuk, saya mengetuk pintu. Terasa aneh ketika memasuki kamar sendiri harus mengetuk pintu terlebih dulu. "Rahma, ini saya. Boleh saya masuk? Saya ingin shalat," kata saya dari luar.
"Masuk saja, pak!" sahut Rahma dari dalam. Setelah mendapat izinnya, saya baru masuk ke dalam. Rahma sudah selesai shalat dan sudah mengenakan hijabnya. Saya menutup pintu kamar saat sudah berada di dalam. Terasa canggung sekali. "Rahma akan tunggu di luar," katanya untuk menghindari saya dan kecanggungan yang sedang terjadi.
"Rahma." Rahma yang baru saja melangkahkan kakinya langsung berhenti dan menatap saya. "Kamu menghindari saya?" tanya saya. Ia terdiam. "Kamu tidak perlu menghindari saya. Bukan. Tapi, jangan menghindari saya," kata saya.
"Tidak. Rahma tidak menghindari pak Ramdan," elaknya.
"Tapi, kamu nampak sebaliknya, Rahma. Saya sangat mengenal kamu," kata saya. Rahma terdiam. "Jika kamu berpikir saya semalam tidur dengan Arum, itu tidak terjadi. Semalam saya tidur ....,"
"Rahma tunggu di luar saja," ucapnya memotong perkataan saya. Lalu, ia buru-buru keluar dari dalam kamar. Saya tersenyum melihat Rahma yang salah tingkah.
***
Sepulang shalat subuh di masjid, saya pergi ke kamar saya. Di dalam kamar, ada Rahma yang sedang menaruh mukena dan sajadahnya di nakas. Ia pulang lebih dulu bersama ibu.
"Pak Ramdan sedang apa di sini?" tanyanya. Saya yang mendengarnya sedikit terkejut. Tidak menyangka Rahma akan bertanya seperti itu. "Rahma tidak bermaksud mengusir. Rahma hanya bertanya," katanya langsung meralat, takut saya salah paham.
"Kenapa memangnya? Saya tidak boleh berada di kamar saya sendiri?" Saya balik bertanya.
"Bukan begitu. Rahma tidak bermaksud seperti itu. Bu Arum sedang membutuhkan pak Ramdan saat ini. Jadi, lebih baik pak Ramdan pergi menemui Bu Arum," jelasnya.
"Lalu, kamu? Apa kamu tidak membutuhkan saya?" tanya saya.
Rahma terdiam sejenak sebelum menjawab. "Bu Arum lebih membutuhkan pak Ramdan dibanding Rahma. Bagaimanapun, pak Ramdan suaminya Bu Arum juga," katanya.
"Tapi, Rahma. Saya membutuhkan kamu saat ini. Saya kepingin kamu ada di samping saya," kata saya. Rahma terdiam. "Rahma, lihat saya," titah saya. "Lihat saya." Rahma pun akhirnya melihat ke arah saya. "Apapun yang terjadi ke depannya, saya harap kamu tidak meninggalkan saya. Saya juga berharap, kita bisa bersama selama-lamanya, hidup bahagia. Jadi, kita lalui semua ini bersama-sama, ya? Bisa, kan?"
"Rahma tidak bisa memberikan sebuah janji ke pak Ramdan. Tapi, Rahma akan berusaha sebaik mungkin untuk bertahan dan melalui semua ini, supaya kita bisa terus bersama," jawabnya. Seketika hati saya merasa hangat mendengar jawaban yang diberikan Rahma. "Pak Ramdan boleh ke kamar Bu Arum sekarang, menemaninya," katanya. Sudah ketiga kalinya Rahma menyuruh saya untuk menemani Arum. Padahal, saya masih ingin bersamanya. "Pergilah, pak," katanya lagi. Saya pun beranjak dari duduk saya di tepi kasur dan pergi ke kamar Fariz yang berada di sebelah kamar saya.
***
Ketika saya masuk ke dalam kamar. Arum sudah bangun dari tidurnya. Saya kira, ia masih tidur karena tadi terlihat sangat lelap sekali tidurnya. "Kenapa kamu malah menemui aku, Fahri? Bagaimana dengan Rahma?" tanya Arum. Saya melihat Arum sedang memegang frame foto milik Fariz.
"Rahma yang meminta saya untuk menemani kamu," aku saya.
"Apa dia tidak cemburu melihat kita berdua?" tanya Arum sambil meletakkan foto Fariz dipangkuannya. "Aku merasa tidak enak dengan Rahma. Berkat dia, keinginan Fariz terwujudkan. Jika aku yang menjadi Rahma, aku tidak akan menuruti keinginan Fariz. Lebih baik aku menolaknya daripada mengizinkannya dan membuat hati jadi terluka," katanya tiba-tiba.
"Tapi, Arum. Di sini yang terluka bukan hanya dia. Saya, kamu, dan semua keluarga merasa terluka."
"Iya, aku tau itu. Tapi, Fahri. Bayangkan, jika kamu menjadi Rahma. Pasti sangat sulit untuk mengambil keputusan seperti itu. Mengizinkan suaminya untuk menikah lagi?" jeda sebentar. "Itu sama sekali mustahil, Fahri. Bagi seorang istri, mengizinkan suaminya untuk menikah lagi adalah hal yang sangat sulit. Butuh waktu yang lama untuk memikirkannya. Sedangkan Rahma? Hanya berapa menit yang dia butuhkan untuk mengambil keputusan sebesar itu?" Perkataan Arum ada benarnya.
"Fahri, usia Rahma pun masih terbilang muda dibanding usia kita. Kalau aku yang disuruh memutuskan dalam waktu beberapa menit saja, aku pasti merasa bingung. Aku pasti akan mengambil keputusan yang berkebalikan dari Rahma. Sekalipun itu keputusan yang sangat berat. Perasaan Rahma pasti lebih terluka dibandingkan kita. Karena suami yang dia cintai menikah lagi." Arum mengeluarkan apa yang dia rasakan sekaligus menumpahkan semua yang ada dipikirannya. "Aku tau kalau Rahma tidak suka apabila kita berdua saling dekat. Aku juga tau kalau sejak awal Rahma tidak menyukai aku. Tapi, kenyataan yang harus dia hadapi sekarang adalah wanita yang tidak dia sukai menikah dengan suaminya. Apakah tidak hancur perasaannya?"
"Jadi, saya harus bagaimana? Kemarin, bahkan hari ini dan seterusnya akan menjadi hari-hari terberat dalam hidupnya."
"Jangan buat dia kecewa, Fahri. Seperti yang pernah kamu bilang. Kamu tidak akan pernah mengecewakan Rahma. Kamu akan selalu menjaga hati kamu untuk dia. Kalau begitu, lakukan seperti biasanya. Jaga hati kamu untuk dia. Jangan kecewakan dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pilihan Hati
Espiritual[Pilihan Hati season 1 SELESAI] [Pilihan Hati season 2 on going] *** Karena kamu adalah pilihan hati saya. -Fahri Muhammad Ramdan *** DON'T COPY MY STORIES, PLEASE! Copy Right April 2020 dan 8 Oktober 2023 @egy_rosmawati Ditulis dengan nama pena: am...
