Bab 21

1K 204 17
                                        

Oce menoleh ke arah lelaki di sampingnya. Wajahnya tidak menunjukkan satu ekspresi pun. Sama seperti lelaki tersebut.

"Nggak mau cerita ke gue gitu?" Oce mulai membuka suara.

"Emang apa yang harus gue ceritain." Lelaki tersebut ikutan menoleh menatap Oce.

"Maaf nih bang kalo nyinggung. Apa masalah lo sampe lo berani bunuh orang?" Oce bertanya penuh kehati-hatian.

Tyan menoleh kembali, menatap Oce dengan cepat. Matanya mulai berubah menjadi tajam.

"Lo tau darimana?" Tanya-nya dengan nada dingin.

Oce menepuk bahu Tyan, bermaksud agar lelaki itu tidak terpancing emosinya. Dan benar saja, ekspresi Tyan mulai melunak.

"Lo akan merasa lebih lega kalo terbuka." Oce berkata hal yang sama, seperti apa yang diucapkan oleh Tyan.

Pandangan Tyan meredup. Lelaki itu memilih menatap tanah di sela kedua kakinya dengan tatapan datar. Namun Oce merasakan jika tatapan tersebut merupakan tatapan kesedihan seorang Tyan.

"Boleh gue cerita sama lo?"

"Hm." Oce mengangguk yakin.

Tyan mulai menjulurkan tangannya ke belakang untuk menopang tubuhnya. Kepalanya mendongak keatas menatap langit yang sedikit lebih mendung. Perkiraan cuaca tidak mengatakan jika hari ini akan turun hujan. Namun siapa yang tau, keadaan alam bisa saja berubah.

"Gue punya kakak perempuan. Dia punya pacar. Di-"

"Boleh gue sela? Siapa nama kakak lo?" Oce bertanya sembari tersenyum. Tyan ikutan mengulas senyum tipis.

"Hm. Namanya Sherina."

"Gue lanjutin ya?" Tyan bertanya dengan tampang bodohnya. Oce membalas senyuman lebar itu dengan melipat gandakan.

Tyan nafas. Bersiap-siap mengingat masa lalunya yang sudah terpendam. Walaupun rasanya masih sakit jika mengingatnya, Tyan hanya ingin berbagi kisah kepada perempuan yang ia cintai. Dan ia tau jika Oce adalah orang yang sangat tepat.

"Sherin hamil sama pacarnya. Gu-"

"Astaga!"

Telat geblek.

"Iya, janji nggak akan motong!" Oce berkata cengengesan.

"Pacarnya nggak mau tanggung jawab. Hal kayak serupa lagi banyak terjadi pas waktu itu. Tapi yang gue benci adalah, gue, bokap, sama bunda harus kehilangan Sherin. Semuanya berimbas ke Sherin saat temen-temennya tau kalo kakak gue hamil diluar nikah. Mereka bully tiap hari. Kadang Sherin pulang bawa luka di sekujur badannya. Itu yang buat gue selalu marahin lo buat pulang malem. Gue takut kalo kejadiannya Sherin keulang di lo Oce." Tyan menatap Oce dalam.

Oce tidak berkedip. Rasa bersalah tiba-tiba datang karena sudah menuduh Tyan sembarang. Ternyata alasan utama lelaki itu adalah karena mengkhawatirkannya.

"Sherin sering ngeluh ke gue. Gue waktu itu nggak bisa ngapa-ngapain karena masih SMP, sedangkan Sherin udah SMA. Gue coba beraniin diri buat tanya siapa pelakunya, tapi dia selalu nepis buat jawab. Mulai dari situ keberanian gue terbentuk semakin besar. Karena itu juga, gue benci kasus pembullyan karena kakak perempuan gue jadi korbannya. Untuk itu gue nolongin Gina. Gue tau lo nguping nggak mungkin cuma setengah." Tyan melirik Oce sekilas.

"Waktu itu, para guru udah tau kalo Sherin hamil. Dia dikeluarin. Dibenci, dibully sama temennya bahkan gurunya. Di luar dia stress, di rumah dia juga tambah stress karena mikirin tetangga yang menggunjing bunda gue. Satu guru Sherin yang bikin gue bener-bener merasa marah, guru itu nyaci-maki Sherin di lapangan pas upacara diselenggarain. Bahkan Sherin disuruh naik ke podium untuk mengakui kesalahannya secara terbuka di tempat umum."

Rumah BuRonan (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang