Bab 30

850 178 26
                                        

Lorong rumah sakit terasa hening. Walaupun banyak yang duduk di kursi tunggu, akan tetapi di antara mereka semua tidak ada yang membuka mulut. Pantas saja, jam juga sudah menunjukkan pukul 11.00 pm. Jam kunjung rumah sakit hanya dibatasi sampai tujuh malam. Yang tersisa hanyalah wali pasien yang memang menunggu dengan menginap.

Tyan mengusak rambutnya. Ia tidak berani masuk ke dalam kamar rawat inap di depannya. Kamar di mana Oce di rawat. Ia sama sekali tidak memiliki nyali setitik pun untuk melihat keadaan Oce.

"Bang, ayo masuk."

Tyan mengangkat kepalanya. Melihat Janu yang nampak kepalanya saja menyembul dari balik pintu kamar. Ia mengangguk pelan. Sungguh tidak ada niat masuk ke sana sama sekali karena takut, dirinya tidak kuat. Tentu saja Tyan tidak bisa melihat perempuan yang menyinggahi hatinya jatuh terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit.

Tyan mendorong pelan pintu berwarna putih tersebut. Senyum hilang tak membekas dari wajahnya. Menghilang, menguap bersama kesadaran sang gadis yang kini terbaring di depannya.

Ia mengangkat tangan, menyentuh tangan kiri Oce yang tertancap selang infus. Tyan melihatnya, beberapa perban menyertai di bagian-bagian tubuhnya. Perban di bagian tulang kering, tulang lengan kanannya retak. Sedangkan kepalanya terkena benturan keras sehingga sampai sekarang Oce tidak bangun dari tidurnya.

Tyan tidak ingin menyebutnya sebagaimana orang lain menganggap Oce dalam masa koma. Tyan hanya ingin menganggap Oce sedang tidur sebentar.

"Kenapa lo nggak bilang ke gue kalo lo butuh istirahat?" gumamnya lirih.

"Jangan kayak gini."

"Gue nggak bisa Ce."

Tyan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang. Menaruh kedua lengannya ke atas ranjang. Duduk termenung, pikirannya benar-benar kacau. Untung saja ada Joni yang menggantikannya menyetir mobil. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi mengingat ia yang begitu kalut membuat konsentrasinya buyar.

"Oh my sweetie~
The moon shine in the middle of a dark night~
The sun pick up the moon, and come the morning the bright~
Goodbye day ago, and come a better day~
Oh please wake up, my dear~"

Tyan duduk dengan tegak. Menatap punggung tangan yang terlunglai di depannya. Mengusapnya pelan dengan senandung pelan. Rasanya begitu berat menimpa dadanya melihat Oce dalam keadaan seperti ini.

Tyan tidak bisa. Ia memejamkan mata. Menunduk dan menempelkan kepalanya ke punggung tangan yang ia genggam. Menempelkannya dengan hati-hati karena ada jarum yang bersemayam di balik kulitnya.

"Oh my sweetie~"

Suaranya terdengar begitu sendu. Tyan bersenandung pelan. Sangat pelan. Mungkin hanya dirinya saja yang dapat mendengarnya.

"The moon shine in the middle of a dark night~"

Tyan menarik nafas. Tenggorokannya terasa tercekat.

"The sun pick up the moon, and come the morning the bright~"

"Goodbye day ago, and come a better day~"

Ia mengecup punggung tangannya berkali-kali. Berharap esok terbit hari yang lebih baik dengan melihat senyuman gadis itu. Gadis yang tentu saja menempati tempat paling jarang terjamah oleh orang lain di hatinya.

Gadis seringkih ini kenapa harus mengalami hal seburuk ini? Oce pasti sangat kesakitan. Oce pasti menunggu pertolongan di tengah-tengah kecelakaan itu. Oce pasti menunggu orang yang ia kenal untuk menolongnya.

Rumah BuRonan (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang