Bab 28

791 167 8
                                        

Drrrrrt! Drrrrt!

"Angkat aja Mbak." Oce menatap Gina. Diam-diam tangannya menyembunyikan ponselnya yang ikut berdering. Entah kebetulan atau kecurigaannya memang benar.

"Ck!"

Gina nampak kesal saat mengambil ponselnya. Perempuan itu segera mengangkat sambungan telepon. Disini lah Oce sedikit merasa bingung karena ponselnya masih bergetar. Jadi, apa mungkin kecurigaannya tidak berdasar dan memang tidak benar? Apa hanya kebetulan semata saja? Agaknya tidak masuk akal mengingat kebetulan yang ia alami begitu banyak.

"Nggak Pah. Gina nggak pulang."

Gina mengerutkan alisnya serius. Oce menatapnya dengan seksama. Takut jika tebakannya tidak benar. Karena jika memang kecurigaannya tidak mendasar dan memang bisa dibantah, Oce akan merasa sangat bersalah.

"Pah, aku udah bilang berapa kali sih?" raut wajah Gina nampak kesal.

"Aku nggak bakal mau! Makanya aku jarang pulang ke rumah karena Papah maksa aku terus!"

Oce mengelus bahunya. Entah masalah apa yang dihadapi oleh Gina, Oce hanya bisa menyemangatinya melalui usapan itu.

"Iya! Nanti hari H aku pulang! Tapi jangan maksa buat ketemu sama Riki!"

"Aku nggak suka Pah!"

"Ck!"

Gina memalingkan wajahnya. Teras kosan B nampak temaram. Hanya lampu kecil saja yang mereka gunakan untuk menghidupkan suasana. Ditambah lagi hujan mulai mengguyur bumi pertiwi dengan derasnya. Untung saja tidak ada petir menyertai.

Oce menatap wajah Gina dengan seksama. Raut wajah perempuan itu semakin muram setelah mematikan sambungan telepon. Sedangkan Oce mulai mengambil ponselnya yang bergetar, dan untuk kedua kalinya, ponsel Gina tidak menunjukkan gelagat getar sama sekali.

Oce segera menyelesaikan urusannya. Mengirimkan beberapa pesan singkat kepada sang penelepon. Setelahnya ia baru menatap Gina kembali.

"Ada apa Mbak?"

Gina semakin kesal, "Dari kemarin bokap gue maksa gue buat balik. Guenya nggak mau karena niat Papah gue."

Oce nampak berpikir.

"Masal–"

"Gue tau apa yang lo pikirin kemarin-kemarin." Gina memotongnya.

Gina menghela nafas panjang. Sedangkan Oce nampak kaku di kursinya. Bernafas saja susah karena rasa gundah tiba-tiba menyergap di relung hati.

"Kalo gue jadi lo, mungkin gue juga bakalan mikir hal yang sama. Ponsel gue di sadap gitu kan?" Gina terkekeh.

"Gue tau akhir-akhir ini Tyan jauhin gue. Kasih jarak antara lo dan gue. Jennie juga sama. Tapi gue nggak ngelarang lo buat curiga atau segala macem. Karena sudah sewajibnya manusia untuk tetap waspada sama orang lain sekalipun itu orang yang paling kita percaya." Gina menampilkan raut wajah sedih.

Gina menghela nafas, "Mungkin kebetulan? Hah. Kebetulan kok banyak beruntun semacam ini, ya kan Ce?"

Oce bungkam. Tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Memilih menunggu kelanjutan kata yang Gina ucapkan.

"Gue nggak tau harus apa lagi. Mungkin karena pernyataan gue kemarin, semua jadi berubah dalam sekejap."

"Hanya ... yah nggak nyangka aja lo berpikiran sejauh itu tentang gue." Gina menatap Oce intens.

Oce menatap balik Gina, "Dari mana lo tau apa yang gue pikirin, Mbak?"

Gina memalingkan wajah.

"Jangan lupa. Gue pernah belajar psikologi selama dua tahun. Mudah bagi gue baca apa yang lo pikirin dari mimik wajah." Gina menjawab tanpa ragu. Karena memang itu apa adanya.

Rumah BuRonan (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang