Bab 35

1K 169 13
                                        

Baru sampai di pos dua, mereka semua sudah ngos-ngosan. Apa lagi para perempuan yang memiliki energi khusus untuk terus-terusan mencibir. Padahal para lelaki juga sama lelahnya dengan mereka. Walaupun begitu, daya tahan perempuan lebih lemah memang. Tapi tak urung juga sebal dengan sikap para perempuan yang sering mengeluh lelah lah, capek lah, haus lah. Salah juga salah mereka sendiri karena membawa begitu banyak barang.

Siapa perempuan yang sedari tadi mulutnya tertutup rapat? Tentu saja Oce dan Yuqqi. Dua perempuan itu aman-aman saja dari beban di punggung karena ada dua babu yang siap membawakan tas mereka. Padahal mereka berdua sama-sama menolak. Tapi hati juga berkata lain, inginnya sih iya. Di lain sisi mereka berdua juga tak tega.

"Woyy!! Berhenti dulu lah!!" Lisa yang berada di belakang berteriak ke arah pemandu. Ya, pemandu bernama Pandu.

"Iya lah Bang! Berhenti dulu bentar!" Ela ikutan mengeluh.

Pandu mencebik, "Kalo kita terus-terusan berhenti, nanti sampai puncaknya dini hari mau?? Orang juga cuman cetek segini!"

Secara reflek Lisa menggeleng. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Mengingat semua cerita yang pernah ia baca di treat cerita horor.

"Tinggalin barang-barang yang nggak terlalu penting." Pandu menoleh.

"Ya nggak bisa dong!! Ini semua tuh penting!!" sembari berjalan, Lisa kembali menyahut dengan teriakan.

Pandu mengendikkan bahunya, " Ya udah. Gue udah ngingetin. Seenggaknya gue kasih solusi terakhir."

"Ya makanya kalo bawa barang jangan barang punya warga sekampung lo bawa. Gue aja cuma bawa jaket sama sleeping bag," kata Sonar yang berjalan tepat di belakang Lisa

Kini giliran Lisa yang menampilkan raut wajah masam, "Lo mah laki Mbak."

Sonar menepuk bahu perempuan di depannya, "Ingat, yang berlebihan itu nggak baik."

"SEMUAANYA DIEM! KITA UDAH LEWAT SERATUS METER DARI POS!! JANGAN ADA YANG BUKA MULUT!!" Pandu berteriak di bagian barisan paling depan.

Memang cocok itu lelaki jadi pemandu, suaranya saja bisa membuat telinga panas. Rasa-rasanya emosi ikutan terbakar.

Jalanan tidak semulus yang para amatir kira. Mereka mengira jika jalan yang ditempuh untuk muncak gunung itu mulus seperti gambaran waktu mereka masih di Taman Kanak-Kanak-yang bentuknya lancip segitiga-gunung kok lancip! Itu yang sering guru mereka ucapkan.

Padahal jalanan yang mereka tempuh lebih buruk dari pada aspal rusak. Penuh dengan batu dan naik turun, membuat perut mereka seperti komedi putar.

"Pos tiga berapa meter lagi ya?" Amanda meringis, menggumam pelan.

"2 jam lagi. Apa lo?" Ela bertanya pongah saat Amanda memandangnya.

"Kok Ela tau?" bisik Amanda.

"Suara lo buaya teriak." Ela mendengus.

"Hah? Emang buaya bisa ngeluarin sua-"

"Diem lu." Tyan memotong sinis.

Ela meliriknya sinis, "Takut sama cewek aja sok."

Amanda kembali mendesal ke arahnya dan hal tersebut membuat Ela ingin mendorong perempuan itu jika saja tidak ingat di mana mereka sedang berada. Bisa-bisa ia senggol sedikit nyawa Amanda langsung tercoret dari daftar manusia dan berubah menjadi arwah penasaran yang menganggu dirinya. Ela bergidik.

"Ya Oce lah."

"Padahal dulunya sering galak ke Oce, sekarang minta di sayang. Dasar bucheeen," sindirnya, sengaja mengeraskan suara dan mendekat ke arah Tyan.

Rumah BuRonan (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang