One Way Ticket

1.6K 460 104
                                        

Reaksi Wisnu jauh dari dugaan mereka.

Wisnu hanya mengangguk setelah mendengar penjelasan mereka. Rafa memberitahu bahwa mereka dari masa depan—dan sempat menumpang di vila Rajasa—dengan misi menangkap Paul. Namun, mereka tidak membahas soal Rafa adalah cicit Wisnu, sekaligus pemimpin Corp di masa depan, dan Kalea adalah pembunuh super dari proyek ciptaan Corp. Terlalu heboh.

"Kau sangat tenang," kata Rafa. "Haruskah aku khawatir?"

"Aku sudah menduga hal semacam ini akan terjadi. Percayalah, aku sangat mengenal Paul dan Ed." Dia menatap bulan di luar jendela. "Mesin waktu ya. Itu obsesi Ed waktu dulu."

"Tak berniat mengganggu nostalgiamu, tapi kami perlu tau yang Paul cari. Sekarang. Kau temannya, mungkin tau."

Wisnu memicing. "Perawakanmu ini tidaklah asing. Siapa dirimu di masa depan?"

"Aku? Bukan orang penting."

"Tuan-tuan, benda pamerannya masih di sana." Kalea mengintip dari pintu. "Kurasa bukan itu yang Paul cari."

"Ya, itu hanya meriam kendali."

"Ada gudang senjata atau semacamnya di sini?" tanya Rafa.

"Tidak, hanya ruang kerja. Kadang Cipto bekerja di sana tapi..." Wisnu kaget mendengar ucapannya sendiri. "Cipto. Kurasa Paul kemari bukan untuk mencuri alat, tapi membawa Cipto."

"Cipto?" Rafa berpikir keras.

"Dia kawanku, insinyur terbaik di negeri ini tapi tak mendapat cukup perhatian. Paul juga mengenalnya. Hanya dia yang cukup hebat menggantikan Ed sejak diculik."

"Sial, aku baru ingat. Cipto Sanjaya. Tentu saja."

Kalea mengangkat tangan. "Um, siapa itu?"

Rafa memelankan suara. "Kau ingat portal intergalaktik yang dipakai Edsel menjemput Trinox? Itu cetusan Cipto! Tapi percobaan proyek itu selalu gagal. Baru berhasil puluhan tahun kemudian setelah Edsel mengembangkannya dengan alat-alat abad 21. Basically, Cipto ini jenius."

"Kenapa aku tak pernah dengar tentangnya?"

"Karena ia meninggal tahun 1956 akibat paparan radiasi. Belum ada proyeknya yang berhasil, jadi, negara tak banyak membahasnya. Aku tau, ngeselin."

"Hm. Bayangkan yang bisa ia buat bersama Edsel di abad 21."

"Kita tamat. End. Goodbye."

Tiba-tiba terdengar tembakan beruntun di luar disusul teriakan para tamu. Kalea dan Rafa bertatap sedetik seakan menjerit SIAL kemudian bergegas.

Rafa menepuk Wisnu. "Ada mainan yang bisa kupinjam?"

"Kau yakin bisa menembak?"

"Lihat saja."

Brak! Kalea dan Rafa keluar dari ruang baca. Kalea menegapkan badan sambil mengikat selendangnya. Sementara Rafa mengokang senapan laras panjang. Keduanya meminta para tamu meninggalkan tempat atau merunduk di tempat aman.

Nampak Paul muncul dari semburat biru di ketinggian, melepaskan penjaga yang ia bawa. Kalea berlari, menendang sofa kulit di sisi ruangan dan penjaganya pun mendarat di sana. Menjerit-jerit meski selamat.

"Kalian berdua sudah rujuk ya." Paul berdiri santai. Dia menunjuk belakang telinganya yang ditutup perban. "Kau tak akan paham sakitnya mengeluarkan chip itu."

"Peduli amat." Rafa menembak beberapa kali tapi Paul menghilang.

Kalea menariknya. "Jangan bunuh kendaraan pulang kita!"

GARDA 2 - The SeriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang